Rabu, 04 Juni 2008

Mengurai Kebenaran Temuan Penelitian Tindakan Kelas

PENELITIAN TINDAKAN KELAS DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU

(Mengurai Kebenaran Temuan Penelitian Tindakan Kelas)



Oleh:

Baskoro Adi Prayitno



Pendahuluan

Pembahasan tentang keterbatasan dari macam-macam metode penelitian selamanya sangat menarik untuk dibicarakan. Karena sadar atau tidak sadar kehidupan ini hanya diatur oleh dua hal yaitu ilmu dan agama. Ilmu secara praktis diperoleh dengan menggunakan metode ilmu (metode ilmiah), yang dalam tataran praktisnya lebih kita kenal dengan nama metode penelitian. Sementara agama merupakan wahyu dari Tuhan yang kita yakini/imani saja kebenarannya tanpa perlu meragukannya.

Kritik-kritik terhadap keterbatasan metode penelitian, barangkali sudah muncul sejak metode penelitian pertama kali dilahirkan, karena metode penelitian ini yang ‘digadang-gadang’ menjadi salah satu tumpuan akhir bagi manusia dalam mencari kebenaran, menghampiri dan mengenali realitas fisik dunia yang berterima secara universal. Dalam catatan sejarah perkembangan metode ilmu, banyak para cendikiawan mengkritisi tentang keterbatasan-keterbatasan metode-metode ilmu, mulai dari skeptisme-nya Hume, falsifikasi-nya Popper, Penolakan Khun terhadap tentang objektivitas murni, kritik Feyeraben terhadap superioritas metode sains, sampai dengan ‘jatuhnya’ dominasi Newton-nian oleh teori relativitas Einstein pada abad 20-an. Terinspirasi dengan tokoh-tokoh tersebut, saya (agar kelihatan smart seperti tokoh-tokoh tersebut JJ, walaupun sebenarnya cupu..J) ikut-ikutan mengkritisi salah satu metode penelitian yang saat ini menjadi ‘primadona’ dalam kluster pendidikan.

Semua orang yang mengaku ahli dalam kluster pendidikan pasti sepakat bahwa metode penelitian yang saat ini sedang menjadi ‘primadona’ adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam bahasa jawa-lumajangan (saya orang Lumajang) biasa disebut dengan Classroom Action Research (bagi saudara yang tidak tahu ‘makanan’ apa itu PTK, santai saja…pada bagian selanjutnya saya ulas secara singkat apa itu PTK, kalau mau tahu lebih banyak…Beli Dong Buku…JJ). Saat ini banyak peneliti-peneliti dalam bidang pendidikan berlomba-lomba melakukan penelitian dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas. Kalau kita coba membaca dalam setiap laporan/artikel hasil penelitian yang telah mereka laksanakan seringkali peneliti menyimpulkan bahwa, misalkan ‘penggunaan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa’. Pertanyaan selanjutnya apakah statement kesimpulan ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah?. Kesimpulan dari sebuah penelitian dapat dianggap “benar” secara ilmiah wajib memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu harus dicari dengan metode ilmu (metode ilmiah) bukan dengan menggunakan metode ­ngelmu (JJ). Dalam tulisan ini saya mencoba ‘mengurai’ kebenaran temuan penelitian tindakan kelas ini, sejatinya layak disebut “benar” secara ilmiah atau tidak?

Saya bukan orang yang ‘anti pati’ terhadap metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK), saya beberapa kali telah melakukan penelitian tindakan kelas (sumpah..Broo..JJ), bahkan dibiayai Dikti lagi, dan beberapa hasilnya diterbitkan di jurnal ilmiah nasional (saya kelihatan pinter tidak? JJ). Perlu saudara ketahui, saya setuju seribu satu persen dengan pendapat Feyerabend dan Khun bahwa kita tidak perlu membatasi diri hanya pada satu metoda untuk meraih pengetahuan, kita tidak boleh melarang upaya-upaya intelektual masa depan dengan membatasi hanya pada satu paradigma sempit menggunakan “model-model penelitian fisika (metode ilmiah maksudnya)

Pada tulisan ini saya hanya sekedar mencoba mengurai kebenaran temuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam tinjauan ‘kaca mata’ filsafat ilmu. (mengapa saya ‘menggunakan’ filsafat ilmu sebagai “kaca matanya?”, karena filsafat ilmu yang melandasi secara filosofis lahirnya metode ilmu, atau dengan kata lain filsafat ilmu merupakan dasar filosofis sebuah pengetahuan dikatakan benar secara ilmiah, pengetahuan yang benar secara ilmiah ini biasa kita sebut dengan nama ilmu). Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk ‘memprovokasi’ saudara agar meninggalkan metodologi Penelitian Tindakan Kelas, atau mempersuasi (membujuk) saudara agar menggunakan metodologi penelitian-penelitian formal, tulisan ini justru dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai kebenaran temuan penelitian tindakan kelas, sehingga saudara diharapkan dapat menempatkan ‘posisi’ yang tepat dalam menyikapi temuan-temuan Penelitian Tindakan Kelas. Sehingga kasus over confident dalam penyimpulan hasil temuan Penelitian Tindakan Kelas tidak lagi terjadi.

Dalam tulisan ini saya menyajikan urutan penulisan sebagai berikut; pada bagian awal saya mencoba memberikan gambaran mengenai bagaimana metode ilmiah bekerja untuk “mencari” kebenaran, menghampiri dan mengenali realitas fisik dunia, yang tentu saja ditinjau dari perspektive filsafat ilmu, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai bagaimana metodologi penelitian tindakan kelas dikembangkan dan bekerja, pada bagian selanjutnya akan dibahas pandangan filsafat ilmu terhadap kebenaran temuan penelitian tindakan kelas, dan pembahasan terakhir diakhiri dengan pembahasan mengenai “posisi” kebenaran penelitian tindakan kelas termasuk dalam kelompok ‘kebenaran’ mana?, apa dasar fiolosofis yang mendasari kebenaran temuan penelitian tindakan kelas?. Susunan penyajian tulisan yang demikian diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi saudara dalam mengikuti “alur cerita” argumen-argumen dalam artikel ini.


Bagaimana Metode Ilmiah Bekerja

Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan ilmu. Jadi jika seseorang hendak mengklaim mendapatkan pengetahuan yang dapat disebut dengan ilmu, mutlak harus menggunakan metode ilmiah. Hal ini berarti tidak semua pengetahuan bisa disebut dengan ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.

Secara filosofis metode ilmiah dibangun dari cara berpikir deduktif dan induktif. Berpikir deduktif memberikan ‘warna’ sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Berpikir induktif dimaksudkan untuk memberikan pembenaran empirik kepada pengetahuan yang yang telah dirasionalisasi oleh berpikir deduktif. Kedua hal ini sangat penting, bagaimana kita bisa percaya bahwa, misalkan terdapat partikel x dalam atom yang belum diketahui manusia?, atau ketika kita melihat fenomena empirik tentang hujan kemudian diartikan bahwa para dewa-dewa sedang menangis tersedu-sedu.

Di dalam metode ilmiah setelah pengetahuan diberikan penjelasan rasional (deduktif), sebelum teruji secara empirik (induktif) semua penjelasan tersebut hanyalah bersifat sementara, penjelasan sementara ini biasa kita sebut dengan istilah hipotesis. Secara filosofis sebenarnya kita dapat mengajukan hipotesis sebanyak-banyaknya sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistik. Namun dalam kesimpulan akhir hanya satu hipotesis yang diterima, yaitu hipotesis yang didukung oleh fakta-fakta empirik. Terkait dengan penjelasan tersebut, oleh karena itu sering kali metode ilmiah dikenal sebagai proses logiko-hipotetiko-verifikatif, yang merupakan ‘perkawinan’ antara deduksi dan induksi. Meminjam kalimat Jujun Suriasumantri secara sederhana metode ilmiah dapat digambarkan dalam kalimat sederhana sebagai berikut ‘jelaskan pada saya lalu berikan buktinya!’

Masih menurut Jujun Suriasumantri kerangka berfikir ilmiah logico-hipotetiko-verivikatif pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

  • Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empirisme yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
  • Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berfikir di susun secara rasional berdasar premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenaranya dengan memperhatikan faktor empirik yang relevan dengan permasalahan.
  • perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikri yang dikembangkan.
  • pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak
  • Penarikan kesimpulan, merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu di tolak atau diterima, sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima, begitu sebaliknya. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan.

Keseluruhan langkah di atas harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Secara lebih jelas Jujun (2001) mendiagramkan alur kerja metode ilmiah seperti pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Metode Ilmiah



Bagaimana Metodologi Penelitian Tindakan Kelas Bekerja

Konsep penelitian tindakan bermula dari pandangan seorang ahli psikologi sosial yang bermana Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia ke dua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Lewin pada saat itu mengemukakan dua ide pokok penelitian tindakan yaitu; (1) keputusan bersama, dan (2) komitment untuk meningkatkan dan memperbaiki prestasi kerja. Kedua ide pokok tersebut sekarang menjadi karakteristik dasar penelitian tindakan yang menegaskan perlunya usaha kolaboratif atau usaha secara bersama-sama dalam meningkat mutu prestasi kerja.

Pada tahun 1953, ide Lewin dikembangkan oleh Stephen Corey di New York sebagai pendekatan penelitian yang diselenggarakan oleh guru-guru sekolah. Pada Tahun 1976 Jhon Elliot menggunakan pendekatan ini untuk membantu guru mengembangkan usaha inkuiri dalam pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

Banyak ahli memberikan definisi tentang penelitian tindakan kelas (PTK). Namun sacara umum mereka mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang (bersiklus) dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Proses daur ulang (siklus) kegiatan dalam penelitian tindakan divisualisasikan pada Gambar 2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas



Dari gambar 2 di atas terlihat daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing)¸ penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation dan evaluation), dan melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai.

Seorang peneliti sebelum masuk ke dalam kegiatan pada siklus di atas (gambar 1), pada dasarnya juga melakukan kegiatan deduktif, yang kemudian disusun menjadi kerangka teoritis yang digunakan sebagai pembenaran rasional dari hipotesis tindakan yang ditetapkan. Kegiatan penelitian setelah itu adalah terfokus pada kegiatan dalam siklus-siklus penelitian. Tahap pertama dari siklus tersebut adalah tahap perencanaan, pada tahap ini peneliti mempersiapkan kegiatan penelitian yang akan diimplementasikan dalam tahap tindakan, tahap selanjutnya adalah tahap tindakan pada tahap ini peneliti mengimplementasikan segala sesuatu yang telah dipersiapkan dalam tahap perencanaan, tahap selanjutnya adalah observasi dan evaluasi dan refleksi dari hasil kegiatan pada tahap tindakan diamati dan dievaluasi keberhasilannya sesuai dengan standard keberhasilan yang telah ditetapkan, jika belum peneliti kembali mengulangi siklus penelitian di atas sampai standard keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya tercapai.


Temuan Penelitian Tindakan Kelas dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Seperti telah saya jelaskan pada uraian sebelumnya, pengetahuan dikatakan memenuhi nilai keilmiahan jika dan hanya jika (JJ) telah memenuhi syarat-syarat keilmiahan, syarat-syarat tersebut terjabarkan dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Secara khusus juga telah dijelaskan bahwa metode ilmiah disusun berdasar kerangka berfikir logiko-hipotetiko-verifikatif, secara sederhana kerangka berfikir tersebut dapat dimaknai dengan kalimat berikut ‘tunjukkan pada saya bahwa pengetahuan tersebut logis/rasional berikan hipotesis dan buktikan kebenarannya secara empirik’. Langkah-langkah untuk ‘menjamin’ terimplementasikannya logiko-hipotetiko verifikatif juga telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, yaitu diawali dengan kegiatan perumusan masalah, penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis sampai dengan penarikan kesimpulan.

Dengan menggunakan pengetahuan mengenai bagaimana metode ilmiah dikembangkan, saya mencoba meninjau apakah metodologi Penelitian Tindakan Kelas, sudah melaksanakan langkah-langkah metode ilmiah tersebut sebagai sebuah prasyarat utama temuan penelitian dikatakan benar secara ilmiah dan sebagai prasarat utama pengetahuan dapat disebut/diklasifikasikan sebagai ilmu.

Dengan bantuan diagram alir (flow diagram) metode ilmiah pada Gambar 1 dan penjelasan tentang bagaimana penelitian tindakan kelas dikembangkan, kita bisa melihat bahwa, a) pada dasarnya penelitian tindakan kelas pada awalnya “sistem kerjanya’ tidak berbeda dengan system kerja metode ilmiah, para peneliti yang menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas, seperti halnya dalam kegiatan metode ilmiah, sebelum melakukan penelitian juga berangkat dari sebuah masalah penelitian, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis tindakan untuk memberikan ‘pembenaran’ rasional terhadap rumusan hipotesis yang ditetapkan. Hipotesis penelitian tindakan kelas berupa keyakinan peneliti secara rasional terhadap tindakan yang dipilihnya. Sampai pada ‘titik’ ini tidak ada perbedaan prinsipil (secara ontologi) yang mencolok antara metode penelitian tindakan kelas dengan langkah-langkah pada metode ilmiah. Pada ‘titik’ ini langkah-langkah dalam metode penelitian tindakan kelas tidak berbeda dengan langkah-langkah pada metode penelitian formal lainnya yang berlandaskan kepada metode ilmiah, yaitu kegiatan pengujian ‘kebenaran’ secara deduktif. 2) langkah selanjutnya menurut diagram alir (flow diagram) metode ilmiah adalah kegiatan verifikasi terhadap hipotesis yang telah diajukan untuk membuktikan kebenaran empirik (induktif) dari rasionalisasi (hipotesis) yang telah diajukan sebelumnya. Pada penelitian formal dalam bidang pendidikan (misal: quasi eksperimen), biasanya pada kegiatan ini, peneliti mencari kelas yang homogen dan mengelompokkanya dalam dua kelompok kelas, yaitu kelas sebagai kelompok perlakuan (eksperimen) dan kelas sebagai kelompok kontrol, masing-masing kelompok diupayakan (dikontrol) dalam kondisi yang tidak berbeda, dengan maksud untuk ‘menjamin’ bahwa hanya karena perlakuan saja sebuah perubahan dilihat. Masing-masing kelompok diberi perlakuan yang sama, kemudian dilihat hasilnya. Dengan bantuan statistik dapat ditetapkan sebuah hipotesis diterima atau ditolak.

Pada penelitian tindakan kelas juga dilakukan kegiatan ‘verifikasi’ terhadap hipotesis yang diajukan (lihat siklus PTK pada Gambar 2), biasanya peneliti yang menggunakan metode penelitian tindakan kelas, setelah mengembangkan hipotesis penelitian, mereka melakukan kegiatan yang dikenal dengan nama tahap perencanaan, pada tahap ini peneliti merencanakan segala sesuatu yang terkait dengan rencana pada tahap implementasi tindakan (misalkan menetapkan keberhasilan tindakan yang diharapkan, mengembangkan perangkat, dll). Setelah rencana-rencana pada tahap perencanaan telah berhasil diselesaikan, tahap selanjutnya adalah kegiatan pengimplementasian rencana-rencana yang telah disusun dalam tahap yang diberi nama implementasi tindakan, sambil melaksanakan tindakan peneliti melakukan observasi dan evaluasi terhadap kegiatan pada implementasi tindakan, peneliti mencatat segala temuan yang terkait dengan kegiatan implementasai tindakan. Langkah ini dimaksudkan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan tindakan pada siklus selanjutnya. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa target keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya belum tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan peneliti, maka kegiatan penelitian akan masuk pada siklus selanjutnya dengan materi yang berbeda sampai dengan target keberhasilan yang telah ditetapkan tercapai. Baru kemudian temuan penelitian ini disimpulkan.

Seperti telah penulis jelaskan pada paragraf sebelumnya, pada awalnya tidak ada perbedaan prinsipil (kalau tidak boleh disebut dengan pelanggaran) pada penelitian tindakan kelas dengan langkah-langkah metode ilmiah. Pada tahap ini metode penelitian tindakan kelas, juga berusaha mengembangkan kegiatan logiko-hipotetiko sebagai salah satu prasayarat pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu dan sebagai prasyarat temuan penelitian dikatakan benar secara ilmiah.

Tahap selanjutnya adalah kegiatan verifikasi terhadap hioptesis yang diajukan untuk memberikan pembenaran secara empirik. Kritik yang muncul (menurut saya) terkait dengan kegiatan verifikasi hipotesis pada penelitian tindakan kelas, terletak pada keterpercayaan hasil temuan penelitian tindakan kelas. Mengapa hal ini muncul?, kemunculan kritik ini terkait dengan langkah pengujian hipotesis yang menurut pendapat pribadi penulis menimbulkan bias yang luar biasa besar, bias ini tentu saja mempengaruhi kesimpulan yang dihasilkan nantinya.

Sekarang mari kita lihat dimana letak kebias-anya dengan bantuan perbandingan dengan menggunakan penelitian pendidikan formal yang berlandaskan pada metode ilmiah. Dengan sebuah contoh berikut, setelah seorang peneliti berhasil mengembangkan logiko-hipotetiko, kewajiban selanjutnya untuk dapat mengklaim bahwa temuannya dapat disebut sebagai ilmu atau kebenaran temuannya dapat dikatakan benar secara ilmiah, peneliti harus bisa membuktikan (memverifikasi) hipotesisnya secara empirik. Pada penelitian formal dalam bidang pendidikan (kuasi eksperimen, seperti yang dicontohkan sebelumnya) peneliti berusaha mencari kelas yang benar-benar homogen dalam segi kemampuan siswa dan sebagainya, kemudian mengelompokannya dalam dua kelompok kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelompok kontrol, masing-masing kelas mendapatkan perlakuan yang sama, materi yang sama, semuanya dijaga dengan perlakuan yang sama, kemudian dilihat dengan bantuan statistik apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima, jika diterima maka hipotesis tadi sudah mempunyai bukti secara empirik, dan layak disebut dengan ilmu.

Pada penelitian tindakan kelas setelah peneliti mengembangkan hipotesis, agar temuanya dapat diakui sebagai ilmu, juga wajib melakukan kegiatan verifikasi untuk membuktikan bahwa hipotesisnya benar secara empirik. Jika kita asumsikan bahwa kegiatan siklus dalam PTK adalah kegiatan untuk membuktikan kebenaran empirik terhadap hipotesis yang diajukan, maka dapat dijelaskan lewat contoh berikut, seorang peneliti dengan menggunakan metodologi penelitian tindakan kelas, setelah berhasil mengembangkan hipotesis, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan keseluruhan langkah-langkah yang tercantum dalam siklus penelitian tindakan kelas (gambar 2), peneliti memilih satu kelas (idealnya kelas yang dianggap bermasalah, dipilih pada awal pengembangan) pada kelas ini peneliti melakukan kegiatan perencanaan, implementasi tindakan, observasi dan evaluasi, dan refleksi. Jika satu siklus ini ternyata target keberhasilan tindakan belum juga tercapai maka akan diulang pada siklus selanjutnya sampai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan tercapai. Kegiatan verifikasi terhadap hipotesis (ingat dengan asumsi kita) semacam ini banyak memunculkan kritik, salah satunya seperti penulis sebutkan di atas, ‘apa jaminan bahwa temuan penelitian tindakan kelas disebabkan oleh hipotesis yang diajukan?, “jangan-jangan meningkatnya (misalkan: hasil belajar) bukan disebabkan oleh (misalkan: metode x) seperti yang telah disebutkan dalam hipotesis?, “apa jaminan bahwa keberhasilan tindakan pada siklus tertentu disebabkan oleh tindakan yang dipilih dan direvisi?, jangan-jangan materi pada siklus itu memang lebih mudah dibandingkan dengan siklus sebelumnya, atau jangan-jangan siswa sudah mulai ‘peka’ dengan metode pembelajaran x tersebut?. Meminjam pernyataan Profesor Ahmad Tafsir (dengan tambahan-tambahan hiperbolik dari saya he…he...JJ), temuan penelitian tindakan kelas seperti cerita “gerhana matahari dan kentongan” (mau tahu ceritanya?) ‘di Lumajang bila terjadi gerhana matahari, semua penduduk sibuk memukul kentongan, jika kita coba tanya pada mereka ‘mengapa memukul kentongan’, mereka menjawab ‘agar matahari muncul kembali’, setelah kita tunggu beberapa saat, ajaib matahari benar-benar bersinar lagi (sumpah Broo.., kalau ndak percaya buktikan saja…JJ), namun pertanyaannya adalah ‘apakah munculnya matahari karena dipukulnya kentongan?’, atau ‘jangan-jangan jika penduduk desa tidak memukul kentongan matahari juga tetap muncul? (untuk pertanyaan terakhir ini saya tidak bisa menjawab, soalnya saya orang Lumajang, pada saat terjadi gerhana matahari saya ikut-ikutan pukul kentongan he…he…JJ)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas jarang ditemukan pada penelitian-penelitian formal, karena dalam penelitian formal biasanya hal semacam ini sangat dijaga (dikontrol), agar hanya variabel yang ingin diukur saja yang mempengaruhi kegiatan penelitian, variabel lain di kontrol pengaruhnya (pada penelitian true eksperimen pengontrolan variabel lebih ekstrim lagi)

Temuan-temuan penelitian tindakan kelas, bila kita tinjau dari perspektif filsafat ilmu (menurut saya) memang masih banyak menyisakan banyak pertanyaan. Dan bila kita ‘saklek’ dengan definsi temuan penelitian dikatakan ilmiah jika sesuai dengan metode ilmiah, maka penelitian tindakan kelas mempunyai kelemahan (permasalahan) dalam kegiatan pembuktian hipotesis secara empirik. Sehingga bila kita tinjau hanya dari satu sisi aspek ini (metode ilmiah) saja, maka temuan penelitian tindakan kelas agaknya masih menyisakan banyak pertanyaan tentang keilmiahannya (keilmiahan temuannya). Sehingga penyimpulan hasil temuan dalam penelitian tindakan kelas harus dimaknai secara hati-hati, maksudnya bahwa temuan penelitian ini, jelas tidak dapat digeneralisasikan terhadap semua populasi.

Namun demikian ‘permasalahan ketidak ilmiahan’ ini sebenarnya sudah banyak diakui oleh ahli-ahli penelitian tindakan kelas, mereka sering menyatakan dalam tulisan-tulisannya bahwa hipotesis penelitian tindakan hanya berupa keyakinan peneliti terhadap sebuah tindakan yang dipilih, dan kegiatan penelitian tindakan kelas bukan dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu (dengan kata lain siklus dalam PTK bukan dimaksudkan untuk memverifikasi hipotesis) namun dimaksudkan untuk perbaikan praktis.

Pertanyaan selanjutnya apa dasar filosofis ‘pembenaran’ temuan penelitian tindakan kelas?, atau dengan kalimat lain ‘kalau begitu kebenaran penelitian tindakan kelas ini, termasuk dalam golongan kebenaran yang mana?. Pada sub bab berikutnya akan penulis uraikan dasar filosofis penelitian tindakan kelas.


Temuan Penelitian Tindakan Kelas Termasuk Golongan Kebenaran yang Mana Jika saudara sependapat dengan kesimpulan saya, bahwa temuan penelitian tindakan kelas masih menyisakan banyak pertanyaan tentang keilmiahan temuannya. Maka tugas kita yang paling pokok adalah ‘menelusuri’ apa yang mendasari secara filosofis (apa dasar filosofis kebenarannya) sehingga ‘lahir’ metodologi penelitian tindakan kelas. Karena saya percaya bahwa sebuah kelahiran, muncul karena ada sebab (saya lahir di dunia disebabkan apa ya…JJ), sebuah kelahiran metodologi penelitian tertentu pasti dilandasi oleh dasar filosofis tertentu.

Salah satu ‘jalan’ yang dapat kita lalui untuk sampai pada landasan filosofis yang mendasari penelitian tindakan kelas adalah dengan menelusuri kriteria mengenai kebenaran. Secara teoritis dikenal macam-macam teori kebenaran, antara lain sebagai berikut (saya comot dari buku Prof. Jujun Surya Sumatri)

Teori koherensi, menurut teori ini sesuatu (pernyataan) dikatakan benar jika sesuatu itu (pernyataan itu) bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap bahwa ‘semua manusia pasti mati’ adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa ‘si fulan adalah seorang manusia, dan si fulan pasti akan mati” adalah benar pula, karena pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.

Teori korespondensi, menurut penganut teori korespondensi suatu pernyataan dikatakan benar jika ‘materi’ pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalkan jika seseoramh mengatakan bahwa Ibu kota propinsi jawa timur adalah Surabaya, maka pernyataan tersebut dikatakan benar, sebab secara faktual ibu kota propinsi jawa timur memang Surabaya.

Teori kebenaran ilmiah, teori kebenaran ilmiah merupakan penggabungan antara teori kebenaran koherensi dan teori korespondensi. Penalaran teoritis yang berdasarkan logika deduktif jelas menggunakan teori koherensi. Sedangkan pembuktian secara empirik dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan tertentu menggunakan teori korespondensi (induktif)

Teori Kebenaran Pragmatis, teori kebenaran pragmatis, suatu kebenaran diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya sesuatu itu dikatakan benar jika mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

Dari uraian tentang teori-teori kebenaran di atas, agaknya sudah mulai tampak “titik terang” mengenai posisi ‘kebenaran’ temuan penelitian tindakan kelas. Dari sudut pandang terhadap peran pengetahuan dan penerapannya, agaknya penelitian tindakan kelas cenderung ‘tertolak’ oleh orang-orang yang menganut pada empirisme, logis (rasionalisme), atau gabungan keduanya. Sebaliknya, penganut pragmatisme dan materilisme dialektis akan menerima kebenaran penelitian tindakan kelas, karena mereka beranggapan bahwa sesuatu itu dikatakan benar jika mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini posisi penelitian tindakan kelas dipandang sebagai alat untuk memperbaiki situasi/permasalahan pembelajaran di dalam kelas, bukan dimaksudkan untuk membangun teori.

Terkait dengan hal di atas menurut pendapat pribadi saya adalah tidak ‘bijaksana’ mempertentangkan sesuatu hal yang mempunyai landasan filosofis berbeda, karena sama saja dengan kita mempertentangkan sebuah penilaian terhadap sesuatu dengan menggunakan prinsip indikator kebenaran yang berbeda. Penelitian tindakan kelas dengan filosofis dasar pragmatisme yang percaya bahwa sesuatu dikatakan benar jika mempunyai kegunaan praktis kemudian ‘diadu’ dengan teori kebenaran lain, misalkan kebenaran ilmiah yang mempunyai indikator kebenaran yang berbeda 180 derajat dengan teori kebenaran yang pertama, tentu saja tidak akan pernah sampai pada satu titik temu, seperti dua buah garis sejajar yang tidak akan pernah bertemu sampai kapanpun dan dimanapun. (seperti aku dan engkau yang tidak akan pernah bersatu sampai kapanpun…JJ)

Posisi saya dalam menyikapi hal ini, memilih dalam posisi ‘bermuka dua’ dalam artian, jika penelitian kita dimaksudkan untuk membangun sebuah teori/ilmu/dapat digeneralisasi pada populasi lebih luas, maka jangan sekali-kali menggunakan metodologi penelitian tindakan kelas, sebaliknya jika penelitian dimaksudkan untuk perbaikan praktis kualitas pembelajaran di dalam kelas agaknya metodologi penelitian tindakan kelas merupakan pilihan yang paling tepat, daripada sekedar tahu bahwa metode X lebih baik dari metode Y, tanpa ada konstribusi ‘luar biasa’ dalam perbaikan praktis pembelajaran di dalam kelas.


Kesimpulan

Mengurai kebenaran temuan penelitian tindakan kelas dalam perspektif filsafat ilmu, akan banyak menyisakan pertanyaan akan keilmiahan temuan penelitian tindakan kelas, hal ini terkait dengan permasalahan verifikasi dalam pembuktian kebenaran empirik hipotesis yang diajukan. Dan permasalahan ini juga di akui secara terbuka oleh ahli penelitian tindakan kelas, mereka sering menyatakan dalam tulisan-tulisannya bahwa hipotesis penelitian tindakan hanya berupa keyakinan peneliti terhadap sebuah tindakan yang dipilih, dan kegiatan penelitian tindakan kelas bukan dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu (membuat teori) namun dimaksudkan untuk perbaikan praktis.

Men-judge (menghakimi) bahwa temuan penelitian tindakan kelas adalah tidak benar, hal itu juga bukan sebuah keputusan yang bijaksana, karena sesunguhnyalah kita banyak berhadapan dengan pruralitas kriteria kebenaran dengan dasar-dasar filosofis yang berbeda-beda di dunia ini. Penelitian tindakan kelas boleh jadi memang tidak benar secara ilmiah karena ‘melanggar’ aturan yang digariskan oleh metode ilmiah. Tetapi boleh jadi dianggap benar jika kita meninjau dari persepektif filosofis yang berbeda (pragmatisme dan materialisme dialektis misalnya), dan begitu sebaliknya temuan penelitian yang diklaim benar secara ilmiah oleh metode ilmiah, bagi pragmatisme dan materialisme dialektis tidak lebih seperti ‘sampah’ yang tidak banyak manfaatnya bagi perbaikan praktis kehidupan manusia. Adalah tidak elok kiranya kita ‘mempertentangkan’ keduanya, atau memaksakan salah satunya, karena keduanya mempunyai dasar filosofis kriteria benar yang berbeda.

Menyitir pendapat Paul Feyerabend bahwa tidak seharusnya kita mengasumsikan superioritas dari metoda saintifik modern, kita tidak bisa memprediksi seperti apa pengetahuan di masa depan akan berbentuk, karena itu kita tidak perlu membatasi diri hanya pada satu metoda untuk meraih pengetahuan, kita tidak boleh melarang upaya-upaya intelektual masa depan dengan membatasi hanya pada satu paradigma sempit menggunakan “model-model fisika”

Akhirnya kritikan dan saran, atau ‘ketidak setujuan’, ‘kesetujuan’, ‘makian’, ‘pujian’ terhadap isi tulisan saya ini, dapat disampaikan pada email berikut:

Baskoro_ap@telkom.net atau Baskoroadiprayitno@yahoo.com



Ah…Benar sendiri sedang bingung mencari kebenarannya

Ah…Sesuatu yang aku anggap paling benar, ternyata tidak dapat mendefinisikan sendiri akan kebenarannya

Ah… Ada berapa banyak benar yang kau ketahui… sebanyak apa yang kau pikirkan dalam otakmu, ….karena akalmu selalu saja dapat memberikan label benar…

Ah…Sang pemberi petunjuk… tolong tunjukkan yang paling benar dari sebanyak macam benar….

Baskoro Adi Prayitno, Malang awal Juni 2008

Minggu, 20 April 2008

KEEFEKTIFAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL ERHADAP KEMAMPUAN ANALISIS DAN SINTESIS SERTA KETRAMPILAN BERKOMUNIKASI

KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI PEMBELAJA

KEEFEKTIFAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TERHADAP KEMAMPUAN ANALISIS DAN SINTESIS SERTA KETRAMPILAN BERKOMUNIKASI PADA MATA KULIAH BIOLOGI UMUM MAHASISWA STKIP HAMZANWADI SELONG.



Oleh:

Baskoro Adi Prayitno

(didanai: Hibah Penelitian RII/P2TK&KPT Dikti)



Abstrak: Salah satu kelemahan yang dimilliki oleh sebagian besar mahasiswa, terutama mahasiswa Pendidikan Biologi di STKIP Hamzanwadi Selong, yaitu, (1) lemah berpikir tingkat tinggi (analisis dan sintesis), (2) kurang terampil mengkomunikasikan ciri objek biologi pada saat diskusi kelas, (3) kegiatan pembelajaran cenderung pasif, (4) sulit bekerja dalam kelompok, cenderung individualistis, (5) kurang termotivasi di dalam KBM. Untuk meminimalisasii kelemahan di atas peneliti mencoba menggunakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui kooperatif learning. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif learning lebih efektif secara sangat signifikan dibandingkan dengan pendekatan konvensional terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi (analisis dan sintesis) dan ketrampilan berkomunikasi.


Di dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi, dosen harus memiliki strategi agar mahasiswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan pembelajaran yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu dosen harus menguasai tekhik-tekhnik penyajian atau biasanya disebut dengan metode mengajar.

Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh dosen agar materi pelajaran dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh mahasiswa dengan baik. Namun dalam kenyataan metode mengajar/teknik pengajaran yang digunakan oleh dosen untuk menyampaikan informasi kepada mahasiswa akan berbeda dengan metode mengajar yang dimaksudkan untuk memotivasi mahasiswa agar mampu menggunakan pengetahuan, keterampilan serta sikap. Metode yang digunakan untuk memotivasi mahasiswa agar mampu menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi ataupun untuk menjawab suatu pertanyaan akan berbeda dengan metode yang digunakan untuk tujuan agar mahasiswa mampu berfikir dan mengemukakan pendapatnya sendiri dalam menghadapi segala persoalan.

Oleh sebab itu penentuan metode mengajar yang akan digunakan harus selalu diawali dari situasi nyata di dalam kelas. Bila situasi di dalam kelas berubah maka cara mengajar pun juga harus berubah. Karena itulah seorang dosen sebagai ”pengendali” kegiatan belajar mengajar di dalam kelas harus menguasai dan tahu kelebihan dan kekurangan beberapa macam tekhnik pembelajaran dengan baik, sehingga dosen mampu memilih dan menerapkan teknik pembelajaran yang paling efektif untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Perubahan situasi dan tujuan pembelajaran di dalam kelas memerlukan kepekaan dosen, artinya seorang dosen harus mampu mendiagnosis masalah yang muncul dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Selain itu dosen juga dituntut mampu menganalisis dan mendeskripsikan penyebab dari masalah serta mampu memilih pendekatan yang paling tepat untuk digunakan memecahkan masalah tersebut.

Dalam penelitian ini peneliti berusaha berangkat dari hal-hal yang telah diuraikan di atas. Menurut pengamatan peneliti selama mengajar di jurusan pendidikan biologi angkatan 2004/2005 STKIP Hamzanwadi Selong NTB, sebagian besar mahasiswa mempunyai kelemahan yang hampir sama yaitu, (1) mahasiswa kurang mampu berfikir tingkat tinggi (sintesis dan analisis), (2) mahasiswa kurang terampil dalam mengkomunikasikan ciri-ciri objek biologi berdasarkan hasil pengamatan terutama pada saat diskusi kelas, (3) mahasiswa cenderung berlaku multiple D (datang, duduk, dengar, diam) sehingga kegiatan pembelajaran di dalam kelas cenderung pasif, (4) mahasiswa sulit bekerja sama dalam kelompok dan cenderung bersifat individualis (5) mahasiswa kurang termotivasi di dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Kelima kelemahan mahasiswa di atas diduga berasal dari kebiasaan belajar mahasiswa sebelumnya yaitu, (1) pada umumnya sebagian besar guru mereka pada saat duduk di bangku sekolah menengah bahkan dosen di perguruan tinggi dalam merumuskan tujuan pembelajarannya cenderung terbatas pada aspek koqnitif domain ingatan, pemahaman dan aplikasi saja, sedangkan domain analisis dan sintesis belum biasa dilatihkan pada siswa/mahasiswa, sehingga mahasiswa cenderung kesulitan untuk berfikir tingkat tinggi, (2) pada umumnya mahasiswa terbiasa belajar dalam kelas klasikal, jarang sekali mahasiswa belajar dalam kelompok, seandainya pun mereka belajar dalam kelompok biasanya hanya dalam kelompok yang homogen bukan kelompok yang ditata sedemikian rupa agar anggota kelompok benar-benar heterogen baik etnis, agama, maupun kemampuannya, hal ini diduga akan mengakibatkan mahasiswa kurang terbiasa bekerja dalam kelompok dan cenderung bersifat individualis, (3) strategi pembelajaran teacher centre yang lebih menekankan pembelajaran yang berpusat pada dosen menyebabkan tidak “teraktifkannya” potensi dan kemampuan mahasiswa dengan maksimal, mahasiswa hanya sebagai pendengar, seperti botol kosong yang dituangi air. Hal ini menyebabkan mahasiswa menjadi cenderung pasif dan kurang terampil berkomunikasi dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, (4) materi pelajaran yang cenderung ”kering” menyebabkan mahasiswa tidak tahu relevansi materi pelajaran yang ia pelajari dengan kehidupan sehari-harinya sehingga materi kuliah hanya utopia belaka yang hanya ada dalam angan-angan tanpa bisa diterapkan dalam dunia nyata, sehingga motivasi mahasiswa untuk ”tahu” menjadi menurun.

Berdasarkan diagnosis dan deskripsi penyebab dari kelemahan mahasiswa di atas maka bisa diambil langkah pemecahan masalah sebagai berikut, (1) untuk mengatasi kelemahan mahasiswa kurang terampil bekerja dalam kelompok, maka perlu strategi pembelajaran yang lebih menekankan kegiatan pembelajaran dalam kelompok. Salah satu alternatif pembelajaran kelompok yang dapat digunakan adalah kooperatif learning, (2) untuk mengatasi permasalahan rendahnya motivasi dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (analisis dan sintesis), kurang terampil berkomunikasi, mahasiswa cenderung pasif dalam kegiatan belajar mengajar, maka untuk mengatasi permasalahan ini perlu strategi pembelajaran yang banyak melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, serta strategi pembelajaran yang tidak hanya urusan transfer ilmu pengetahuan belaka, tetapi juga memperhatikan relevansi matakuliah terhadap kehidupan sehari-hari mahasiswa, sehingga motivasi mahasiswa dalam belajar menjadi lebih meningkat. Salah satu alternatif strategi pembelajaran yang diduga mampu mengatasi kelemahan mahasiswa di atas adalah pembelajaran kontekstual.

Dipilihnya pembelajaran kooperatif untuk memecahkan permasalahan kurang terampilnya mahasiswa bekerja dalam kelompok karena pembelajaran kooperatif telah terbukti dapat, (1) meningkatkan kemampuan akademik siswa/mahasiswa melalui kolaborasi kelompok, (2) memperbaiki hubungan antara siswa/mahasiswa yang berbeda latar belakang etnis, agama, dan kemampuan, (3) mengembangkan keterampilan untuk memecahkan masalah melalui kelompok, (4) mendorong proses demokrasi di dalam kelas (Barba, dalam Susanto, 1999).

Dipilihnya pembelajaran kontekstual untuk memecahkan masalah lemahnya kemampuan mahasiswa berfikir tingkat tinggi (analisis dan sintesis), kurangnya keaktifan dan motivasi belajar mahasiswa, dan kurang terampilnya mahasiswa dalam berkomunikasi, karena pembelajaran kontekstual telah teruji keunggulannya baik terhadap hasil belajar maupun terhadap aspek kognitif lain seperti kemampuan menganalisis dan mensintesis, bahkan terhadap sikap dan perilaku. Hal tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Mamengko (2002) yang menyimpulkan bahwa pendekatan kontekstual memungkinkan peserta didik terlibat secara langsung dalam memahami konsep-konsep mata pelajaran, sehingga dapat meningkatkan kemampuan perserta didik yang meliputi pengetahuan (produk), respon siswa dalam proses pembelajaran (proses) dan kinerja.

Hal senada juga juga dinyatakan oleh Susilo (2001) yang menyatakan bahwa melalui pembelajaran kontekstual peserta didik dapat berlatih menekankan keterampilan berfikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin akademik, berlatih mengumpulkan, menganalisis, mensintesis informasi dan data dari berbagai sumber, dan dari berbagai sudut pandang. Selain itu menurut Nurhadi (2002) pembelajaran kontekstual membantu pendidik dan peserta didik mengkaitkan konten (isi) mata pelajaran dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, hal ini tentunya akan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang ia dapatkan di kelas dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pada gilirannya hal ini akan menyebabkan pembelajaran lebih menyenangkan dan menarik.

Berdasarkan uraian di atas sebagai upaya meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran pada mahasiswa STKIP Hamzanwadi Selong NTB khususnya mahasiswa pendidikan biologi angkatan 2005/2006 peneliti merasa perlu mencoba merancang penelitian yang berjudul “Keefektifan Penggunaan Pendekatan Kontekstual Melalui Pembelajaran Kooperatif terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Analisis dan Sintesis) dan Keterampilan Berkomunikasi Pada Mata Kuliah Biologi Umum Mahasiswa Pendidikan Biologi STKIP Hamzanwadi Selong NTB Angkatan 2005/2006”



METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian quasi eksperimen dengan model rancangan pra-test dan pasca-test. Dalam rancangan penelitian ini sejumlah 80 mahasiswa pendidikan biologi angkatan 2004/2005 ditetapkan sebagai subjek penelitian, terdiri dari dua kelompok offring yaitu satu offring berjumlah 40 orang sebagai kelompok eksperimen, dan satu offring lainnya berjumlah 40 orang sebagai kelompok kontrol. Penentuan kedua kelompok ini ditentukan secara acak dari 3 offring yang ada.

Kelompok eksperimen dalam kegiatan pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif sedangkan kelompok kontrol menggunakan pendekatan konvensional dengan menggunakan metode ceramah, demonstrasi dan tanya jawab yang berorientasi terhadap produk.

Instrumen yang digunakan untuk menjaring data penelitian ini terdiri dari (1) daftar chek pembelajaran kontekstual, (2) daftar chek pembelajaran kooperatif, (3) daftar chek pembelajaran konvensional. Ke tiga daftar chek di atas digunakan untuk pengamatan kegiatan pembelajaran untuk data variabel bebas. Sedangkan instrumen untuk menjaring data variabel terikat berupa test ketrampilan analisis dan sintesis, serta daftar assessment tugas kinerja untuk menjaring data tentang ketrampilan berkomunikasi yang terdiri dari ketrampilan membuat tabel dan ketrampilan mepresentasikan hasil pengamatan.

Semua instrumen di atas sebelum digunakan dilakukan ujicoba kepada mahasiswa bukan responden yang mempunyai kemiripan dengan responden untuk mengetahui validitas instrumen, reliabilitas instrumen, tingkat kesukaran soal, dan daya beda soal. Setelah didapatkan instrumen yang valid dan reliabel instrumen siap digunakan untuk menjaring data.

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan statistik inferensial yaitu analisis deskritif untuk menggambarkan karakteristik masing-masing variabel. untuk membedakan ketrampilan analisis dan sintesis, ketrampilan berkomunikasi (membuat tabel data pengamatan) digunakan analisis kovarian, dimana skor rerata pra-test sebagai kovariatnya. T-test independent digunakan untuk menguji keefektifan ketrampilan berkomunikasi (presentasi). Namun sebelum analisis di atas dilakukan terlebih dahulu diadakan pengecekan normalitas dan homogenitas data sebagai prasyarat analisis statistik.


HASIL

Hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut, hasil analisis statistik deskriptif pada skor pratest pada kelompok eksperimen dengan menggunakan pendekatan kontekstual melalui kooperatif menunjukkan, skor rata-rata pra-test kemampuan analisis sebesar 18,54, skor rata-rata pra-tes kemampuan sintesis sebesar 18,63, skor rata-rata pratest kemampuan berkomunikasi sebesar 88,87 (membuat tabel). Sedangkan skor rata-rata pra-test pada kelompok kontrol (pendekatan konvensional) menunjukkan sebesar 18,47 untuk kemampuan analisis, 18, 40 untuk kemampuan sintesis, dan sebesar 89,62 untuk kemampuan berkomunikasi (membuat tabel).

Skor rata-rata pasca-test untuk kelompok eksperimen sebesar 34,18 untuk kemampuan analisis, 32,82 untuk kemampuan analisis, 212,60 untuk kemampuan membuat tabel, dan sebesar 50,19 untuk kemampuan presentasi. Sedangkan utuk kelompok kontrol sebesar 28,78 untuk kemampuan analisis, 29,30 untuk kemampuan sintesis, 200,8 untuk kemampuan membuat tabel dan 46,70 untuk kemampuan presentasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.


Tabel 1. Skor Rata-Rata kemampuan Analisis, Sintesis, Ketrampilan Membuat Tabel, Ketrampilan Presentasi Berdasarkan Pendekatan Pembelajaran.


No

Kelompok

Skor Pra Test

Skor Pasca test

an

sin

tab

pres

an

Sin

Tab

pres

1

Eksperimen

18.54

18.63

88,87

-

34.18

32.82

212.60

50.19

2

kontrol

18.47

18.40

89.62

-

28.78

29.30

200.8

46.70


Skor Maksimum


43


44


280



43


44


280


60

Hasil uji normalitas dan homogenitas menunjukkan data terdistribusi normal dan tidak terdapat perbedaan varians secara signifikan (data homogen). Hasil pengujian statistik dengan menggunakan analisis kovarian menunjukkan penggunaan pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif lebih efektif secara signifikan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional baik terhadap kemampuan analisis, sintesis maupun ketrampilan berkomunikasi (membuat tabel data pengamatan). Secara ringkas hasil pengujian divisualisasikan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Ringkasan Hasil Uji Analisis Kovarian


No

Variabel Terikat

F Hitung

Signifikansi


1

Analisis

70.056

,000

2

Sintesis

20,821

,000

3

Membuat tabel data (komunikasi)

25,456

,000


Hasil pengujian statistik dengan menggunakan uji-t independent untuk menguji kemampuan komunikasi (presentasi) menunjukkan t hitung sebesar 9,60 dengan nilai signifikansi (p)= ,000 hal ini berarti pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif lebih efektif secara sangat signifikan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap kemampuan berkomunikasi (presentasi) pada matakuliah Biologi Umum STKIP Hamzanwadi Selong.


PEMBAHASAN

Hasil pengamatan peneliti di lapangan secara faktual dapat diungkapkan bahwa, respon mahasiswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kontekstual melalui kooperatif sangat positif. Hasil wawancara secara bebas antara peneliti dengan beberapa orang mahasiswa dapat dilaporkan bahwa mahasiswa sangat senang dengan model pembelajaran yang baru dilakukan, karena pembelajaran sebelumya terasa menegangkan, tidak pernah ada penghargaan (reinforcment) yang dilakukan oleh dosen melalui applause (tepuk tangan) seluruh mahasiswa atas keberhasilannya. Menurut pengakuan beberapa mahasiswa, belajar yang demikian meningkatkan rasa percaya diri, tidak membuat jenuh, ngantuk dan membosankan karena suasananya sangat menyenangkan dan banyak tugas yang dapat dikerjakan.

Pengakuan mahasiswa terhadap pembagian kelompok yang heterogen menurut tingkat kemampuan, jenis kelamin, juga belum pernah dilakukan sebelumnya sehingga ada perasaan kebersamaan dalam tiap kelompok. Mahasiswa yang berkemampuan tinggi merasa bangga dapat menjadi sumber bertanya bagi rekannya yang berkemampuan di bawahnya, sebaliknya mahasiswa yang berkemampuan rendah merasa tidak segan untuk bertanya kepada teman yang lebih pandai daripadanya.

Temuan penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual lebih efektif secara sangat signifikan terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi (analisis dan sintesis) mengindikasikan pendekatan ini mampu memperkuat, mengembangkan kemampuan kognitif tidak hanya aspek pengetahuan, pemahaman dan aplikasi namun juga kemampuan berpikir yang lebih tinggi dari itu seperti kemampuan analisis dan sintesis. Sebaliknya pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional ada kecenderungan mahasiswa dituntut mengingat konsep bukan diajak melakukan kegiatan untuk mendapatkan dari mana konsep itu diperoleh, sehingga pada gilirannya akan berpengaruh pada lama tidaknya penyimpanan pengetahuan dalam memori mahasiswa.

Sejalan dengan temuan penelitian ini Corebima (2002) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual akan memungkinkan peserta didik memproses informasii atau pengetahuan baru sedemikian rupa dalam alur pemikiran tingkat tinggi, sehingga informasi itu bermakna bagi mereka dalam kerangka acuannya sendiri. Hasil penelitian lain disampaikan oleh Slavin dalam Ibrahim (2000) mengungkapkan bahwa dari 45 laporan terdapat 37 laporan yang menunjukkan bahwa pada kelas kooperatif hasil belajar lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelas konvensional.

Temuan penelitian yang menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif lebih efektif secara signifikan dari pada pendekatan konvensional terhadap kemampuan berkomunikasi (membuat tabel data). Temuan ini mengisyaratkan bahwa, perlunya perencanaan pengajaran memperhatikan factor social, di samping factor kognitif. Dengan direncanakannya factor social dimasukkan kedalam tujuan pembelajaran, maka mahasiswa akan terlatih dalam menggali potensi dirinya.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menekankan factor kognitif belaka tetapi juga factor lain seperti factor sosial adalah pembelajaran kontekstual dan kooperatif learning. Perencanaan pengajaran yang sengaja melibatkan aspek ini akan menjamin “ketrampilan” mahasiswa dalam factor social salah satunya adalah kemampuan berkomunikasi. Sedangkan pada pendekatan konvensional yang cenderung berorientasi pada produk (kognitif) aspek ini sering terlupakan.

Hal senada diungkapkan oleh Barko dan Putnam (1998) bahwa sesungguhnya belajar adalah suatu proses social dan budaya, oleh karena itu menjadi suatu kewajiban seorang pendidik memperhatikan factor tersebut selama perencanaan pengajaran. Lebih lanjut dikatakan, sifat dasar social dari belajar juga mengendalaikan penentuan tujuan belajar.

Temuan penelitian yang menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif lebih efektif secara signifikan dari pada pendekatan konvensional terhadap kemampuan berkomunikasi (presentasi). Hal ini menyiratkan bahwa pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif terbukti mampu meningkatkan kemampuan berkomunikasi mahasiswa dalam hal ini ketrampilan mempresentasikan hasil pengamatan, hal ini disebabkan pendekatan kontekstual dan kooperatif tidak hanya menekankan ketrampilan akademik saja tetapi juga kemampuan lainnya seperti kemampuan sosial, dan kemampuan vokasional. Salah satu kecakapan sosial yang dimaksud adalah kecakapan berkomunikasi.

Salah satu unsur pembelajaran kontekstual yang diduga paling berperan dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi (presentasi) di atas adalah learning community (masyarakat belajar). Di dalam masyarkat belajar setiap orang harus bersedia untuk berbicara, dan berbagi pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, dan berkolaborasi membangun pengetahuan dalam kelompoknya. Ketrampilan-ketrampilan di atas dilatihkan pada pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif dan tidak ditemukan pada pembelajaran konvensional, sehingga hal ini akan mengakibatkan kemampuan berkomunikasi kelas kontekstual melalui pembelajaran kooperatif cenderung lebih tinggi daripada kelas konvensional.


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; penggunaan pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif learning lebih efektif secara signifikan baik terhadap kemampuan analisis, sintesis maupun ketrampilan berkomunikasi (menyusun tabel pengamatan dan presentasi).


Saran

Dari hasil temuan penelitian dapat disarankan hal-hal sebagai berikut; (1) dalam rangka memberdayakan kemampuan bernalar mahasiswa khususnya pada mahasiswa semester awal, para dosen dapat mempertimbangkan untuk menerapkan pendekatan kontekstual dengan kombinasi kooperatif learning, (2) bagi penelitian lebih lanjut agar dapat dilakukan penelitian lanjutan mengenai keefektifan pendekatan kontekstual melalui kooperatif terhadap kemampuan berpikir lainnya seperti kemampuan evaluasi yang nota bene adalah ketrampilan berpikir yang tertinggi menurut taksonomi Bloom. Sehingga dapat memberikan sumbangan yang berharga bagi pengembangan pendidikan.



Sabtu, 19 April 2008

BIODATA BASKORO ADI PRAYITNO

CURICULUM VITAE


IDENTITAS
  • Baskoro Adi Prayitno
  • Lumajang, 25 Januari 1977
  • Perum Citramas Raya F-4 Tidar, Malang Jawa Timur
  • Jl. Mendung IV/62A Kentingan Surakarta, Jawa Tengah
  • Staf Edukatif pada FKIP UNS Surakarta
  • Email: Baskoro_ap@telkom.net, Baskoroadiprayitno@gmail.com, Baskoroadiprayitno@yahoo.com
RIWAYAT PENDIDIKAN
  • S-1 Pend. Biologi, Univ. Negeri Malang, tahun 2000
  • S-2 Pend. Biologi, PPS Univ. Negeri Malang, tahun 2003
  • S-3 Pend. Biologi, PPS Univ. Negeri Malang, tahun 2007-Sekarang
PENGALAMAN KERJA
  • Guru tidak tetap (GTT) pada SMP/SMA Swasta di Malang, 1999-2001
  • Staf Edukatif pada Prodi Pend. Biologi STKIP Hamzanwadi Selong, 2003-2007
  • Sekretaris Prodi Pend. Biologi STKIP Hamzanwadi Selong, 2005-2007
  • Pendiri dan Sekretaris Penyunting Jurnal Ilmiah Nasional Educatio ISSN:
  • Fasilitator Pada Diklat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Diknas Lombok Timur dan DBEB ADB, 2006-2007
  • Fasilitator Pada Diklat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Puslit dan PKM STKIP Hamzanwadi, bekerjasama dengan Dirjend PMPTK Depdiknas Jakarta, 2007
  • Sekretaris Task Force Penyusun Borang Akreditasi Prodi Pend. Biologi STKIP Hamzanwadi Sekretaris Hibah Kemitraan Pend. MIPA STKIP Hamzanwadi Selong, 2006
  • Staf Edukatif pada Prodi Pend. Biologi FKIP UNS Surakarta, 2007-Sekarang

PENGALAMAN PENELITIAN (selected)
  • Efektifitas Pembelajaran Kontekstual melalui Pembelajaran Kooperatif terhadap KemampuanBerfikir Kognitif domain (Analisis, Sintesis) dan Ketrampilan Berkomunikasi Mahasiswa Pendidikan Biologi STKIP Hamzanwadi Selong (Dana: Hibah Penelitian RII/P2TK& KPT Dikti, 2004), sebagai: Ketua
  • Pengembangan Kurikulum Pendidikan MIPA STKIP Hamzanwadi Selong berbasis Kebutuhan (Dana: Hibah Kemitraan, P2TK&KPT Dikti, 2005), Sebagai: Anggota
  • Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi dan Berpikir Kritis Siswa MA NW Pancor pada konsep Ekologi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri dalam Kelompok Kooperatif (Dana:Hibah Penelitian PTK, P2TK&KPT Dikti, 2006) Sebagai: Ketua
  • Efektifitas Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri Eksploratorik Terhadap Kemampuan Berpikir Tinggi (Higher Order thingking) pada Mahasiswa Tahun Pertama Prodi Pend. Biologi STKIP Hamzanwadi Selong (Dana: Hibah Penelitian Dosen Muda, DP2M Dikti, 2006) Sebagai: Ketua
  • Pengembangan Model Pembelajaran Sains SMP Berbasis Penilaian Kelas di Kabupaten Lombok Timur (Dana: Hibah PEKERTI, Dp2M Dikti, dengan Mitra Lemlit Undhiksa (dh. IKIP Singaraja) Sebagai : Anggota
  • Pengembangan Paket Teknologi Pembelajaran Biologi SMA/MA Berbasis Konstruktivis Untuk Memberdayakan Kemampuan Berikir Tinggi (higher order thinking) dan Penguasaan Ketrampilan Proses Sains (Science Process Skill) Siswa (Dana: Hibah Bersaing, DP2M Dikti, 2007) Sebagai: Ketua