Kamis, 05 Juni 2008

Lompatan Sains di China

SAINS DI CHINA: SEBUAH LOMPATAN KEMAJUAN BESAR


Disarikan Dari:
Beberapa Tulisan pada Journal Science. Vol. 270, 17 November 1995

Oleh:

Baskoro Adi Prayitno



PENGANTAR

Dua raksasa Asia, China dan India yang diprediksi akan memimpin perekonomian dunia pada pertengahan abad ini, selama lebih dari 30 tahun kehilangan orang-orang terdidik dan bertalenta. Mereka pergi meninggalkan negara masing-masing untuk sekolah dan bekerja di luar negeri dengan harapan dapat mengembangkan karier profesional lebih baik. Bersamaan dengan mulai bangkitnya perekonomian, pemerintah China dan India telah merancang strategi untuk mengubah brain drain menjadi brain gain. Namun, pemerintah China tampaknya lebih agresif dan terencana secara sistematis dalam upaya memanggil pulang orang-orang terbaik, untuk membangun bangsa sendiri dan mengambil peran dalam mendorong akselerasi pembangunan ekonomi. China menempuh strategi ganda yang sangat efektif dengan membangun infrastruktur ekonomi dan pendidikan secara bersamaan.

Di bidang ekonomi, pemerintah China menciptakan lingkungan makroekonomi yang dinamis dan kondusif untuk menarik investasi baik domestik maupun asing, terutama melalui foreign direct investment (FDI). Industri manufaktur dibangun secara masif untuk menopang pertumbuhan. Pusat-pusat bisnis dan perdagangan dikembangkan dengan jaringan luar negeri yang tertata rapi, sehingga memacu pergerakan aktivitas bisnis dan perdagangan yang sangat prospektif. Maka, dalam waktu yang tak terlalu lama, China berkembang menjadi negara terbuka bagi pasar global dan investor-investor asing yang memberi kontribusi pada dinamika pertumbuhan ekonomi di negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu.

Strategi pembangunan ekonomi pun diperkuat melalui apa yang disebut special economic development zones, dengan menjadikan suatu wilayah tertentu sebagai pusat pertumbuhan. Wilayah-wilayah tersebut antara lain Shenzhen, Zhuhai, Shantou, Xianmen, Hainan, Shanghai, Dalian, Guangzhou, Tianjin, Zhanjiang, dan masih banyak lagi.

Sejalan dengan itu, China juga membangun sebanyak 15 zona perdagangan bebas, 32 zona pembangunan teknologi-ekonomi setingkat-negara, dan 53 zona pembangunan industri berteknologi tinggi di sejumlah kota besar dan menengah. Pemerintah pusat di Bejing kemudian mendorong setiap wilayah tersebut untuk saling berkompetisi menarik pulang tenaga-tenaga terdidik dan berbakat dengan menawarkan aneka insentif seperti pemotongan pajak, pemberian kredit lunak untuk berbisnis, kemudahan izin usaha, pembebasan biaya perkantoran, fasilitas perumahan yang baik, dan promosi yang lebih cepat.

Sampai saat ini lebih dari 110 macam special zones dan industrial parks telah dibangun dan khusus diperuntukkan bagi para returnees. Bahkan lebih dari 6.000 jenis usaha telah dibuka di lokasi-lokasi tersebut yang mempekerjakan lebih dari 15.000 returnees.

Setelah melihat basis infrastruktur ekonomi yang mulai tertata baik, orang-orang terdidik China yang bekerja di luar negeri secara bergelombang mulai pulang kembali ke Tanah Air. Mereka bekerja sebagai eksekutif profesional di berbagai perusahaan swasta atau merintis dan mengembangkan bisnis sendiri, bahkan tidak sedikit pula yang bekerja di kantor-kantor pemerintah. Saksikan, hampir semua lembaga finansial utama China seperti Central Bank dan Securities Regulatory Commission dipenuhi oleh tenaga-tenaga ahli berpendidikan dan berpengalaman kerja di luar negeri.

Para tenaga ahli berpendidikan luar negeri tersebut menjadi semakin yakin atas pilihan kebijakan pemerintah dalam membangun perekonomian nasional karena banyak sekali pusat-pusat bisnis dan perusahaan-perusahaan swasta berteknologi tinggi beroperasi di China yang masuk dalam daftar NASDAQ di Amerika Serikat (AS). Dengan bekal pengalaman kerja selama bertahun-tahun di berbagai multinational corporations (MNCs), mereka kembali ke China untuk berkontribusi dalam membangun dan memperkuat sistem serta aktif dalam proses perumusan kebijakan publik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Hal yang membuat mereka bersemangat pulang adalah tawaran gaji yang besar. Dengan bergelar MBA dari universitas-universitas prestisius di AS, mereka bisa memperoleh gaji dua-tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang berpendidikan dalam negeri.

Di bidang pendidikan, China membangun banyak sekali universitas berkelas dunia untuk mendidik tenaga-tenaga ahli bidang kedokteran, pertanian, ekonomi/manajemen, teknologi informasi/komunikasi, teknologi industri, bisnis/keuangan, dan lain-lain. Bayangkan, pada 2005 China mampu melahirkan sarjana sains dan keteknikan sebanyak 700.000, 11 kali lipat melampaui AS yang hanya 60.000. Tidak berlebihan bila China bercita-cita memiliki paling kurang 100 perguruan tinggi terbaik dunia sampai akhir abad ke-21 nanti, sehingga negara ini akan menjadi kiblat baru pendidikan di luar AS dan Eropa.

Untuk itu, pemerintah China mengalokasikan dana sebesar US$125 juta bagi 10 universitas terbaik dan US$225 per tahun khusus untuk dua universitas yang masuk 25 besar dunia yakni Beijing dan Tsing-Hua sebagai percontohan. Selain itu, pemerintah China juga membangun banyak sekali pusat-pusat penelitian dan pengembangan (research and development) guna memfasilitasi para ilmuwan dan peneliti, untuk melakukan penelitian ilmiah baik untuk keperluan akademik maupun riset terapan guna menopang pengembangan industri.

Dengan begitu, mereka lebih menekuni profesi dalam pengembangan sains dan keilmuan, sehingga tak ada waktu untuk memikirkan masalah politik apalagi melakukan demonstrasi dan protes massal. Untuk menarik pulang para ilmuwan bergelar PhD yang bekerja sebagai pengajar/peneliti di universitas luar negeri, pemerintah China menawarkan gaji yang tak kalah menggiurkan. Bagi ahli ekonomi dengan pengalaman kerja antara 5-10 tahun, misalnya, disediakan gaji antara US$30.000,00 sampai US$50.000,00, ditambah fasilitas perumahan dan berbagai tunjangan lain (kesehatan, transportasi, liburan).

Dunia mengetahui, peletak dasar strategi kebijakan ini adalah Deng Xiaoping yang dijuluki sebagai capitalist roader yakni sosok penganut setia ideologi sosialisme ortodoks yang menggerakkan proses revolusi sosial-politik, tetapi kemudian berbalik arah dan menempuh jalan kapitalisme dengan menyerap–baik terus-terang maupun tersembunyi–nilai-nilai ideologi kapitalisme, untuk melakukan restorasi politik dan ekonomi berdasarkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme pasar. Pada 1980-an, Deng mengirim anak-anak muda berbakat ke negara-negara kapitalis Barat untuk sekolah dengan keyakinan bahwa sekalipun hanya sedikit saja dari mereka yang pulang kembali, pasti akan membawa dampak pada transformasi sosial ekonomi China di masa mendatang. Deng lalu memerintahkan Menteri Pendidikan, ketika itu Zhao Ziyang, yang kemudian menjadi Sekjen PKC dan perdana menteri, untuk merumuskan blue print dengan menekankan apa yang disebut store brain power overseas. Kebijakan ini berjalin kelindan dengan reformasi ekonomi yang ditempuh dengan menganut pasar terbuka dan perdagangan bebas, yang ditandai oleh bergabungnya China ke dalam World Trade Organization (WTO).

Dalam tempo dua dekade kemudian, kombinasi kedua strategi kebijakan tersebut benar-benar mengantarkan China pada kemajuan ekonomi sangat dahsyat, yang oleh banyak ahli dilukiskan sebagai bentuk quantum leap in economic development seperti tercermin pada rata-rata pertumbuhan ekonomi sekitar 8%-9% per tahun.

Pemimpin China telah bertukar generasi, namun penguasa baru tetap meneruskan kebijakan dasar warisan Deng Xiaoping. Mereka terus memacu pembangunan ekonomi nasional dengan menarik pulang ilmuwan-ilmuwan berbakat, akademisi-akademisi bereputasi internasional, ahli-ahli ekonomi terpandang, dan pengusaha-pengusaha berkelas dunia terutama yang bergerak di bidang industri teknologi tinggi. Menurut laporan kantor berita Xinhua, sekitar 250 ilmuwan terkemuka yang memimpin dan mengelola pusat-pusat pengembangan sains dan teknologi nasional adalah para returnees dari Amerika dan Eropa. Dengan pilihan strategi demikian, China telah berada pada jalur yang benar dan mulai memetik serta menikmati brain gain yang memberi kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi yang spektakuler itu.

Perkembangan luar biasa negara China saat ini menjadikkan topik pembicaraan hangat diseluruh dunia. Untuk memetik manfaat dari revolosi besar ini, dalam tulisan makalah ini hanya di batasi pada bagaimana China dapat ‘merebut’ kembali kejayaan sains dan tekhnologinya di masa lalu, yang hampir sebelum tiga dekade ini menutup diri dari dunia luar oleh politik komunisme. Tulisan pada makalah ini disarikan dari Dari Kumpulan Tulisan Jefrrey Mervis dan June Kinoshita pada Journal Science. Vol. 270, 17 November 1995, yang khusus memotret bagaimana lompatan kemajuan perkembangan sains yang luar biasa di negara China.


PETA GEOGRAPHY SCIENTIFIC DI CHINA

Peta scientific China berkembang sangat mengesankan, hampir sebagian besar profinsi dan kota-kota di China mempunyai keunggulan-keunggulan yang khas dibandingkan dengan propinsi-propinsi yang lain dalam bidang sains. Berikut ini Ringkasan peta scientific di China, yang disajikan dalam bentuk Tabel Berikut:


Tabel 1. The Scientific Geography of China

No

Kota

Keunggulan Sains

1

Urumqi

Pusat perkembangan tekhnologi luar angkasa China dilengkapi dengan 25 meter radio telescope, tempat ini adalah berupakan base line yang sangat luas untuk oberrvasi luar angkasa

2

Xianjiang

Pusar industri minyak China, yang mendukung penelitian dasar dalam bidang geology, palaentology dan kimia

3

Qinghai

Pusat penelitian arkeologis China

4

Xizang

Pusat penelitian dan observatory energi kosmik X ray partikel.

5

Wuhan

Pusat komunikasi seperti halnya Chicago, dengan Universitas dan Institut terbaik, pusat penelitian dalam telekomunikasi fiber, rice breeding dan biological pest control

6

Zigong

Daerah ini merupakan jurassicx cemetery, dengan fosil dinosaurus dengan umur kurang lebih 140 juta tahu yang lalu.

7

Guizhou

Merupakan pusat dari penelitian astronomi

8

Chengjiang

Merupakan pusat dari penelitian tentang fosil yang berumur lebih dari 550 juta tahun yang lalu

9

Guangdong

Merupakan pusat pendidikan dengan dukungan universitas terbaik, pada propinsi ini pemerintah lokal memberikan dukungan penelitian-penelitian dalam bidang ekonomi

10

Hainan

Pusat dalam penelitian genetika untuk tanaman

11

Xicheng

Pusat penelitian dalam bidang komunikasi, cuaca, dan penelitian satelit

12

Taiyuan

Pusat penelitian dalam bidang komunikasi, cuaca, dan penelitian satelit

13

Hefei

Merupakan pusat universitas tekhnologi elit di China, pusat laboratorium sycroton radiation, ada 4 CAS institute

14

Nei Mongol

Pusat penelitian terhadap aktivitas manusia,, dengan didukung padang rumput sampai dengan gurun.

15

Changchun

Pusat industri China, ada 10 lembaga penelitian dengan dukungan dana ford China R&D fund, Jilin University merupakan 10 besar PT terbaik di China

16

Shenyang

Pusat penelitian logam, dengan dukungan institute of metal science dipimpin oleh seorang ilmuwan top wanita

17

Qinqdao-Shandong

Terdapat binatang dan tanaman yang hidup lebih dari 15 juta tahun yang lalu

18

Nanjing

Pada kota ini terdapat ilmuan Universitas Nanjing yang bersaing dengan ilmuan universitas peking dalam mengisi jurnal internasional, terdapat purple mountain observatory untuk instrumen astronomy

19

Shanghai

Merupakan tempat munculnya pusat penelitian baru di China, taman biotekhnologi, 16 CAS institute dan 24 laboratorium kunci dengan dukungan tekhnologi tinggi

20

Fujian

Terdapat Xiament university yang merupakan universitas terbaik dalam physichal chemistry untuk permukaan padat

21

Taiwan

Pusat perdangan besar

22

Shantou

Tempat shantou university dengan dukungan dana sebesar 110 juta dolar amerika dari investor konglomerat Li Ka-Shing

23

Shenzhen

Merupakan kota dengan booming ekonomi

24

Hongkong

Merupakan pusat perdagangan dan research and development di China, didukung dengan universitas sains dan tekhnologi ultramodern Universitas-universiats ini banyak menyumbang ilmuan China terbaik.

BERBANJAR MENUJU SAINS YANG TERDEPAN

Dua dekade sebelum China membuka diri pada dunia luar kondisi sains dan tekhnogi China sangat memprihatinkan, banyak dari universitas dan laboratorium-laboratorium penelitian yang ‘berdebu’. Tidak sedikit universitas dan laboratorium penelitian tidak dilengkapi dengan Air Conditioner yang layak (Science, 1995: 1134). Penghargaan terhadap saintist sangat rendah, sehingga banyak ilmuan-ilmuan China memilih berkarir di luar negeri, banyak dari ilmuan-ilmuan muda China tidak mau kembali ke negaranya setelah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.

Namun setelah lebih dari dua dekade China membuka diri dari dunia luar, khususnya dalam bidang ekonomi perdangangan, pertumbuhan ekonomi China berkembang dengan sangat ‘mencengangkan’. Rupanya perkembangan ekonomi ini kemudian berdampak terhadap meningkatkatya alokasi dana penelitian dan pendidikan di China, yang kemudian mampu merubah wajah sains dan tekhnologi di China, china mengalokasikan Pembelanjaan untuk pengembangan sains dan teknologi perusahaan, institut dan universitas dari 7,5 milliar US$ (Science, 1995:1135) menjadi 245,0 miliar yuan (US$30,85 miliar) (www.kapanlagi.com, 2006)

Penambahan dana penelitian dan pendidikan yang cukup dramatis ini, rupanya banyak menarik saintist-saintis China kembali ke negaranya, serta mempu membuat China mengirim saintist-saintis muda untuk belajar di luar negeri, serta mempesiunkan dengan hormat saintist yang sudah berumur lebih dari 60 tahun., langkah ini dilakukan untuk memberikan kesempatan pada saintist muda untuk lebih banyak berkiprah untuk sebuh tujuan besar ‘mendominasi’ sainst secara global pada abad 21. Saintist muda China lulusan dari universitas ternama di luar negeri di gaji empat kali lipat, dengan jaminan perumahan dan sosial yang baik. Permasalahan perumahan adalah permasalahan yang besar di China.

Selain didukung dana dari pemerintah, banyak yayasan (foundations) yang memberikan dana untuk research dan pendidikan di China, dana-dana dari yayasan ini banyak dari sumbangan para taipan-taipan China yang sukses di dalam dan luar negeri, melalui konsep reverse brain drain Businessweek ketika membedah geliat sang naga Cina Raya menampilkan profil para tokoh Cina perantauan yang sukses di Lembah Silikon dan punya komitmen kuat untuk negeri asal mereka (www.unisodem.org, 2008).

Ambil contoh, Hua Yuan Science and Technology Assn yang didirikan pemuda (bernama Hong Chen) peraih gelar doktor dari State University of New York. Perusahaan ini mengabdikan diri untuk sebuah mimpi besar menghubungkan para pemimpin teknologi Cina yang tinggal di AS dengan saudara mereka di Cina.

Jaringan ini memungkinkan arus-deras informasi masuk ke Cina Daratan dan mengangkat perusahaan Cina ke medan global. Model yang juga telah dikembangkan India dan Taiwan memberi andil besar dalam menghubungkan perusahaan Cina dengan rekan mereka di Lembah Silikon (www.unisodem.org)

David Sheff dalam China Dawn menulis pahit getir perjuangan para pemuda Cina, khususnya yang bekerja di Lembah Silikon. Mimpi mereka adalah membangunkan geliat Sang Naga Cina Daratan melalui pembangunan infrastruktur teknologi informasi. Inilah proses reverse brain drain, yakni mengalirnya kontribusi para pemuda Cina yang ada di luar negeri (www.unisodem.org)


NSFC DAN CAS SALAH SATU TULANG PUNGGUNG PENGEMBANG SAINS DI CHINA


Salah satu foundation yang berkembang pesat dalam mensuport program Research adalah NSFC (National Natural Science Foundation) yang didirikan pada tahun 1985 dengan mengkopy model U.S National Science Foundations, membagi dirinya menjadi enam departemen, yaitu bidang mathematika dan Physical Science, chemical science, life science, earth science, material and engineering science dan information science. Yayasan ini pada akhir tahun 1994 memberikan dukungan dana penelitian kepada 3.500 peneliti individual, yang dipilih dari 20,000 proposal dengan dana rata-rata US$10,000, (Science, 1995: 1135)

Selain foundation yang tak kalah besar peranannya dalam ‘mendorong’ perkembangan sains dan tekhnologi di Chin adalah kehadairan China Association for Science and technologi (CAS), yang merupakan ‘payung dari ratusan organisasi sains di China, sampai-sampai kadangkala saintis di China tidak tahu siapa bos mereka’. CAS ini memfokuskan oada kegiatan research (Science, 1995: 1135) CAS mendanai 123 buah institut dengan jumlah pekerja sekitar 80.000 orang yang bekerja di bdang pengembangan sains. CAS mampu mengupayakan 40% dari anggaran yang digunakan untuk penelitian, 60% lagi berasal dari program khusus dan sumber-sumber dana swasta.


PEMERINTAH CHINA MEMFOKUSKAN PEMBERIAN DANA UNTUK LABORATORIUM-LABORATORIUM KUNCI


Pemerintah China mengembangkan laboratorium-laboratorium kunci. Laboratorium-laboratorium kunci ini adalah strategi pemerintah China dalam menghemat dana penelitian tetapi produknya mampu berdiri terdepan dalam global science (Science, 1995:1137). Dan semua fasilitas laboratorium kunci ini di buka dan disharingkan dengan peneliti-peneliti dari luar laboratorium kunci. Bisa kita bayangkan bila dana penelitian ini dibagi rata pada semua laboratorium-laboratorium yang ada di China, maka tidak akan pernah cukup dana untuk mendapatkan hasil penelitian dan tekhnologi yang bermutu.

Setiap laboratorium-laboratorium kunci mendapatkan ’gelontoran’ dana yang sangat besar, pada tahun 1995 saja pemerintah menyediakan dana lebih dari 1 juta US$ hanya untuk moderenisasi fasilitas laboratorium. Laboratorium-laboratorium kunci ini di bangun tidak terpusat di ibu kota negara saja, tetapi merata pada semua wilayah di China, dengan separuhnya berada di Beijing dan Shanghai (science, 1995: 1137)

Untuk menjamin ’mutu’ laboratorium-laboratorium kunci, dilakukan review ulang (akreditasi ulang) dalam siklus empat tahunan oleh NFSC Penilaian ini bertujuan untuk mcmotivasi peningkatan kualitas penelitian. kategori nilai yang diberikan adalah A. B, dan C. Jika laboratorioum kunci mendapat nilai C, konsekuensinya bantuan dana penelitian dipotong, dan mereka kehilangan peringkat sebagai laboratorium kunci, serta dicoret dari daftar laboratorium kunci. Alasannya adalah, pekerjaan penelitian yang dilakukan dan bakat penelitian ilmuwan di laboratorium tersebut sangat kurang. Berikut ini ditampilkan 11 laboratorium kunci yang mendapat nilai A berdasarkan penilaian NSFC. (Science, 1995: 1338). Akibat dari kebijakan ini jumlah laboratorium tumbuh luar biasa cepat dari 10 laboratorium kunci menjadi 155 laboratorium kunci

Tabel 2. Sebelas Laboratorium Kunci yang Mendapat Nilai A Berdasarkan Penilaian NSFC.

Institusi Induk


Nama Laboratorium




Universitas Nanjing


Mikrostruktur Padat




Universitas Qinghua


Sistem dan Teknologi Pintar


Universitas Xiamen


Fisika Kimia Permukaan Padat




Univeristas Zhejiang


Komputer Desain dan Grafis




Univeristas Jilin & Universitas Qinghua, CAS Institut Semikonduktor, Beijing


Optoelektronik Terpadu




CAS Institut Akustik. Beijing


Akustik, Proses Bicara. dan Sinya




CAS Insiitut Fisika Atmosfir, Beijing


Model Numerik untuk Ilinu Atmosfir Dinamika Fluida


dan


CAS Institut Biofisika


Biomakromolekul




CAS Institut Riset Metal, Shenyang


Material Lemah dan Keras




CAS Institut Teknik Fisika, Shanghai


Fisika Inframerah




CAS Institut Virologi, Beijing


Virologi Molekuler dan Rekayasa Genetik




PENGEMBANGAN JARINGAN KERJASAMA ELEKTRONIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETISI ILMUWAN CHINA


Ilmuwan di Cina berharap kompetisi akan lebih baik dengan adanya akses internet. Tahun 1994. ketika Cina pertama kali terhubungkan langsung dengan Internet Link. sudah terdaftar 1.000 pengguna, tahun 1995 pengguna internet sudah mencapai 10.000 orang. Fasilitas teknologi ini telah mendorong gelombang sains Cina menuju ke arah penelitian berskala global. Mengakses internet menjadi bagian hidup sehari-hari bagi para ilmuwan. Dengan adanya internet, banyak peneliti Cina melakukan kerjasama dengan Eropa dan Amerika Serikat baik untuk proyek pemerintahan atau untuk proyek penelitian masa depan. Dengan era globalisasi ilmuwan barat banyak yang datang ke Cina. dan membuat kontrak kerja kolaborasi untuk mcmbicarakan dana sains dan pcngcmbangan sains di Cina.

Untuk mendukung keselarasan dalam hal menyampaikan pesan yang urgen, internet adalah pilihan lembaga penelitian, lembaga pemerintahan. atau antar individu peneliti. Jaringan internet di Cina dikelola oleh China Education and Re.^curch Network (CERNET) yang mampu menjangkau semua lembaga penelitian di bavvah naungan CAS dan NSFC, universitas, lembaga pengembangan sains, dan Kcmenterian Sains dan Teknologi. Jaringan lain misalnya; CASnet, khusus melayani jaringan antar institusi CAS; menghubungkan 1090 buah universitas di Cina (Campus Network), melayani beberapa perguruan tinggi dan kalangan internalnya. Chinanet, jaringannya lebih luas dan berusaha menjangkau komputer seluruh Cina sebanyak mungkin. Dengan internet, para ilmuwan dapat berkomukasi dengan ilmuwan lain hanya dalam satuan detik.


PEMBERIAN INSENTIVE DAN PERBAIKAN LABORATORIUM UNTUK MEMIKAT ILMUWAN MUDA

Pada masa China belum membuka diri terhadap dunia luar, permasalahan utama yang dihadapi oleh China adalah banyaknya scientist muda China tidak tertarik untuk mengabdikan dirinya kepada negaranya, hal ini disebabkan karena gaji mereka yang rendah serta tidak adanya jaminan sosial yang baik bagi mereka. Bahkan bagi scientist senior keadaan China pada saat itu juga dianggap kurang menarik. Mnenurt Feng Keqin, wakil presiden riset USTC dalam kurun waktu dua tahun saja mereka kehilangan 8 profesor dari 25 profesor yang ada (Science, 1995: 1142).

Seorang saintist dengan gelar Doktor, pada tahun 1984, digaji tidak berbeda jauh dengan pekerjaan yang lainnya, bahkan gaji dosen sangat jauh berbeda dengan gaji pada sektor komersial. Pemerintah Cina juga memikirkan masalah yang dihadapi para ilmuwan. namun kemampuan pemerintah untuk meningkatkan gaji sangat terbatas.

Untuk membuat para ilmuwan muda tertarik, pernerintah mengambil pelejaran dari ekonomi pasar dan menawarkan insentif. NSCF menetapkan hadiah beasiswa sejak tahun 1992, masing-masing pemenang mendapatkan uang sebesar $ 75.000 untuk 3 tahun. Hadiah ini akan mendorong ilmuwan muda bekerja lebih giat. Banyak juga ilmuwan yang kembali dari luar negeri merasa shock karena kondisi dan fasilitas laboratorim yang masih minim. Menyadari hal ini mulai dilakukan pembangunan Insitut CAS dengan fasilitas ultra modern sehingga banyak ilmuwan muda kembali dari luar negeri dan bekerja di laboratorium ini, misal pembangunan oleh CAS tentang studi otak.

Namun demikian juga banyak pula ilmuwan yang kembali ke negaranya karena idealisme dan dedikasi yang tinggi untuk memajukan bangsanya. Mereka kembali bukan hanya karena insentif tetapi ingin merubah situasi dan meningkatkan kemajuan negaranya. Salah satu ilmuwan Cina yang terkenal Han Jisheng sebagai direktur Pusat Penelitian Neuro Sains Universitas Medis Beijing. berhasil mendapat penghargaan dalam studinya selama 25 tahun tentang efek analgesik akupuntur, eksplorasi biologi dan mekanisme kimia neuron. Kemahirannya telah diturunkan kepada mahasiswanya yang telah tamat kuliah. Han ini termasuk dalam daftar ahli yang terkemuka di Universitas Stanford dalam bidang rasa sakit yang timbul akibat penyakit.


MENJALIN KERJASAMA INTERNASIONAL UNTUK LEGITIMASI KERJA ILMUWAN CHINA


Kerjasama ilmuwan China dengan ilmuwan dari luar negeri seperti ilmuwan dari negara-negara barat dan Amerika akan membantu melegitimasi kerja para ilmuwan Cina. Saat ini China banyak menjalin kerjasama dengan luar negeri yang berdampak pada meningkatnya status peneliti dan hasil penelitian negara China. Dari kerjasama internasional ini bukan hanya ilmuan China saja yang dapat ’memetik’ manfaat. Bagi ilmuan negara asing berkolaborasi dengan ilmuan China memberikan kesempatan untuk membantu secara nyata dan mendapatkan akses terhadap kehidupan unik China dan Sumber daya china yang sangat kaya.


BEBERAPA CONTOH PENELITIAN UNGGULAN DI CHINA

Dalam Bidang Biotekhnologi (Agrikultur dan Penelitian Obat-Obatan)

Ilmuwan tumbuhan Li Baojian dari Universitas Cornell menerima undangan Hari almamater untuk mengelola laboratorium biologi molekuler di Universitar Zhongshan. Ini adalah upaya ilmuwan Cina untuk memajukan sains di Cina. Bidang bioteknologi berkembang pesat di Cina. Pada dekade yang lalu para ilmuwan yang baru kembali. Seperti Li telah membantu menanamkan dasar-dasar bioteknologi seperti DNA rekombinan dan teknologi transgenik di Cina. Lebih dari 120 perusahaan, beberapa di antaranya sudah membentuk usaha bersama dengan investor asing, telah membangun pabrik untuk menghasilkan biofarmasi seperti vaksin hepatitis B, insulin rekombinan, interferon, dan hormon pertumbuhan. China telah menunjukkan perubahan besar dari negara yang tidak maju dengan kemampuan yang terbatas dalam penelitian dasar menjadi negara yang berkembang cepat dan maju dalam penerapan biotekhnologi.

Contoh lain kemajuan dalam bidangbiotekhnologi di China adalah telaj dihasilkanya ikan transgenik, tembakau transgenik. Dalam bidang pertanian modern (biotech farm) cina merupakan negara yang paling maju dalam memanfaatkan genetic markers dan alat-alat persilangan padi. Cina sangat peduli dan meyakini bahwa rekayasa genetik agrikultural dan obat-obatan dapat berperan penting untuk suplai kebutuhan dalam negeri, dan bahkan untuk di ekspor ke luar negeri.

Dalam bidang biofarmasi, China menyatakan masih menempatkan dirinya ’sebagai murid’ walaupun obat-obatan China sangat terkenal di dunia. Mereka inginlebih maju lagi. Saat ini China berusaha memenuhi pendanaan jutaan Yuan untuk melakukan parikasi interferon dan interleukin sebagai sarana produksi obat-obatan generik.


Dalam Bidang Epidemology

China merupakan negara yang mempunyai keadaan lingkungan yang unik, sehingga perlu penangangan yang cukup besar. Pada wilayah-wilayah miskin China seperti kabupaten Lingu di propinsi Shangdong sebelah timur dari pusat ibu kota China, banyak penduduk yang belum memperoleh pendidikan formal. Di wilayah ini ini banyak penderita kanker lambung (gastric cancer), para ahli epdemology China banyak melakukan penelitian salah satunya adalah bagaimana meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit ini, yang mungkin dapat meningkatkan angka harapan hidup penduduk, serta upaya-upaya menemukan pengobatan dan pencegahan melalui research-research yang lain.


Dalam Bidang Lingkungan Hidup

Terkait dengan penelitian di bidang penelitian lingkungan hidup, pemerintah China mengembangkan jaringan monitoring nasional (national monitoring network). Permasalahan utama mengenai lingkungan hidup yang dihadapi China adalah deforesisasi dan pengembangan bahan bakar alternatif, selain itu juga penekanan juga diletakan pada pemantauan pengaruh lingkungan terhadap siklus air, bencana alam, dan emisi dari gas rumah kaca. Pengembangan penelitian lingkungan di China diwadahi dalam program ambisius yang diberi nama China Enviromental Research Network (CERN), CERN ini di bawah manajemen CAS, CERN lebih dari 5 tahun ini mendapatkan suport dana sebesar US$16 juta dari Bank dunia dan US$ 10 juta dari pemerintah China.


REFORMASI PENDIDIKAN SAINS DI CINA

Populasi Cina tahun 1995 sebanyak 1.2 milyar suatu jumlah yang besar dan akan terus meningkat, tetapi pendapatan perkapita mereka rendah. degradasi lingkungan terjadi dengan serius. Pembangunan berkelanjutan tergantung kepada aplikasi sains dan teknologi, dikombinasikan dengan restorasi seperti filosofi "hidup harmonis dengan alam /living harmony with nature" dan "hemat adalah suatu kebaikan /frugality is a merit". Rakyat Cina menginginkan modernisasi daiam beberapa tahun ke depan, ingin menjadi kaya karena reformasi kebijakan politik yang sangat terbuka. Tetapi perkembangan yang sangat cepat akan menimbulkan masalah serius dan in-stabilitas, jika tidak diarahkan dengan moralitas dan sains.

CAS sebagai lembaga yang bertanggung jawab di bidang itu, menghitung faktor-faktor tersebut dan menghabiskan prioritas pendapatannya sebanyak $ 325 juta pada tahun 1994. Disimpulkan bahwa 30% aktivitasnya dicurahkan kepada penelilian dasar, 30% untuk penelitian populasi penduduk, sumberdaya dan lingkungan. 40% lagi aktivitasnya untuk penelitian terapan. Dengan kategorisasi tersebut. berarti memunculkan beberapa proyek baru. Misalnya, Chinese Ecological Research Netwwork (CERN) mcngembangkan 29 stasiun daerah dengan berbagai permasalahan lingkungan. Ilmuwan membuat observasi jangka panjang dan menghubungkan studi komprehensif dalam upaya membenahi degradasi lingkungan. Mereka juga mendidik masyarakat lokal tentang teknologi yang cocok unluk agrikultur dan produksi. Teknologi sains dikendalikan oleh tekanan pasar. Dalam 10 tahun sebelum tahun 1995, CAS telah memantapkan hubungan dengan > 3000 pabrik dan perusahaan sehubungan dengan kerjasama dalam bentuk transfer teknologi dan penelitian kontrak. Sekitar 10% staf CAS bekerja di industri, tetapi statusnya tetap dipertahankan sebagai akademisi untuk membantu mereka menyesuaikan diri kepada situasi baru.

Kemajuan tersebut mendorong ilmuwan Cina untuk mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk menyediakan fasilitas yang besar dan lengkap, misalnya sumber cahaya sinkroton generasi ketiga, pabrik taucharm, dan teleskop terbaru. Ilmuwan lain menuntut perbaikan finansial. Untuk meningkatkan eilsiensi dan mengembangkan kompetisi. maka diadakan pengurangan sejumlah staf permanen di institut. Caranya adalah mempensiunkan pekerja pada usia 60 tahun. Pada waktu yang sama. Cina meningkatkan peneliti postdoctoral, staf temporer, beasiswa tamu, dan membuka lowongan kerja untuk ilmuwan yang berbakat, selanjutnya setelah ilmuwan muda dilatih penelitian selama kurang lebih sepuluh tahun, diharapkan mereka dapat memasuki industri dan universitas, untuk ilmuwan muda yang berbakat. Selanjutnya, setelah ilmuwan muda dilatih penelitian dalam waktu 10 tahun, diharapkan mereka dapat memasuki industri atau universitas.


KESIMPULAN

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari revolusi sains di Cina, paling tidak ada empat pelajaran penting yaitu; Pelajaran pertama, keberpihakan pemerintah dalam bidan pendidikan, pengembangan sains dan tekhnologi. Keberpihakan ini salah satunya diwujudkan dengan pemberian anggaran yang lebih dari cukup untuk hal-hal tersebut, dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk upgrading semua istrument-instrument yang terkait dengan pengembangan sains dan tekhnologi serta dana grant untuk kegiatan research. Pelajaran kedua, perlunya kesadaran lembaga non goverment seperti foundations-foundations untuk mensuport dana-dana penelitian, pendidikan untuk pengembangan tekhnologi, dana foundations ini dapat diperoleh dari pengusaha-pengusaha yang peduli terhadap perkembangan sains, pelajaran ketiga, kesejahteraan para saintist, para saintist perlu mendapatkan gaji yanglebuh dari cukup dan jaminan sosial yang baik, Pelajaran keempat, membuka kerjasama dengan luar negeri, kegiatan ini membantu meningkatkan ’nilai’ research dan tekhnologi temuan dari suatu negara, Pelajaran kelima, Reformasi pendidikan sains di sekolah, pendidikan sains di sekolah harus digeser dari content based menuju kepada pembelajaran sains yang lebih sainstifik, yaitu pelajaran sains yang mampu mendidik siswa bekerja layaknya seorang saintis.


DAFTAR PUSTAKA

Guangzhao, Zhou. 1995. The Course of Reform at The Chinese Academy of Science. Science. Volume 70. Halaman 1153.

Kinoshita. June. 1995. Government Focusses Funds, and Hopes, on Hlile Teams. Science. Volume 70. Halaman 1137-1139.

Kinoshita. June. 1995. Scientist Hope Competition Will Improve Inicrnet Access. Science. Volume 70. Halaman 1141-1142.

Kinoshita, June. 1995. Incentives Help Researchers Resist Lure of Commerce. Science. Volume 70. Halaman 1142-1143.

Kinoshita, June. 1995. Agriculture Finds A Niche: Drug Researchers Seek Help. Science. Volume 70. Halaman 1147-1149.

Lilan, Zhu. 1995. The Role of Chinese Science and Technology in Economic Development. Science. Volume 70. Halaman 1154.

Mervis. Jeffrey. The Long March to Topnotch Science. Science. Volume 70. Halaman 1134-1137

Mervis, Jeffrey. Reading The Tea Leaves in A List of Major Priorities. Science. Volume 70. Halamanll39-1141.

Mervis, Jeffrey. The Right Ties Can Save Lives and Move Mountains. Science. Volume 70. Halaman 1144-1147.

Mends. Jeffrey. China's Unique Environment Favors Large Intervention Trials. Science. Volume 70. Halaman 1149-1151.

Plafker. Ted. 1995. National Monitoring Network Docs Science and A Lot More. Science. Volume 70. Halaman 1149-1151.


Rabu, 04 Juni 2008

Mengurai Kebenaran Temuan Penelitian Tindakan Kelas

PENELITIAN TINDAKAN KELAS DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU

(Mengurai Kebenaran Temuan Penelitian Tindakan Kelas)



Oleh:

Baskoro Adi Prayitno



Pendahuluan

Pembahasan tentang keterbatasan dari macam-macam metode penelitian selamanya sangat menarik untuk dibicarakan. Karena sadar atau tidak sadar kehidupan ini hanya diatur oleh dua hal yaitu ilmu dan agama. Ilmu secara praktis diperoleh dengan menggunakan metode ilmu (metode ilmiah), yang dalam tataran praktisnya lebih kita kenal dengan nama metode penelitian. Sementara agama merupakan wahyu dari Tuhan yang kita yakini/imani saja kebenarannya tanpa perlu meragukannya.

Kritik-kritik terhadap keterbatasan metode penelitian, barangkali sudah muncul sejak metode penelitian pertama kali dilahirkan, karena metode penelitian ini yang ‘digadang-gadang’ menjadi salah satu tumpuan akhir bagi manusia dalam mencari kebenaran, menghampiri dan mengenali realitas fisik dunia yang berterima secara universal. Dalam catatan sejarah perkembangan metode ilmu, banyak para cendikiawan mengkritisi tentang keterbatasan-keterbatasan metode-metode ilmu, mulai dari skeptisme-nya Hume, falsifikasi-nya Popper, Penolakan Khun terhadap tentang objektivitas murni, kritik Feyeraben terhadap superioritas metode sains, sampai dengan ‘jatuhnya’ dominasi Newton-nian oleh teori relativitas Einstein pada abad 20-an. Terinspirasi dengan tokoh-tokoh tersebut, saya (agar kelihatan smart seperti tokoh-tokoh tersebut JJ, walaupun sebenarnya cupu..J) ikut-ikutan mengkritisi salah satu metode penelitian yang saat ini menjadi ‘primadona’ dalam kluster pendidikan.

Semua orang yang mengaku ahli dalam kluster pendidikan pasti sepakat bahwa metode penelitian yang saat ini sedang menjadi ‘primadona’ adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam bahasa jawa-lumajangan (saya orang Lumajang) biasa disebut dengan Classroom Action Research (bagi saudara yang tidak tahu ‘makanan’ apa itu PTK, santai saja…pada bagian selanjutnya saya ulas secara singkat apa itu PTK, kalau mau tahu lebih banyak…Beli Dong Buku…JJ). Saat ini banyak peneliti-peneliti dalam bidang pendidikan berlomba-lomba melakukan penelitian dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas. Kalau kita coba membaca dalam setiap laporan/artikel hasil penelitian yang telah mereka laksanakan seringkali peneliti menyimpulkan bahwa, misalkan ‘penggunaan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa’. Pertanyaan selanjutnya apakah statement kesimpulan ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah?. Kesimpulan dari sebuah penelitian dapat dianggap “benar” secara ilmiah wajib memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu harus dicari dengan metode ilmu (metode ilmiah) bukan dengan menggunakan metode ­ngelmu (JJ). Dalam tulisan ini saya mencoba ‘mengurai’ kebenaran temuan penelitian tindakan kelas ini, sejatinya layak disebut “benar” secara ilmiah atau tidak?

Saya bukan orang yang ‘anti pati’ terhadap metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK), saya beberapa kali telah melakukan penelitian tindakan kelas (sumpah..Broo..JJ), bahkan dibiayai Dikti lagi, dan beberapa hasilnya diterbitkan di jurnal ilmiah nasional (saya kelihatan pinter tidak? JJ). Perlu saudara ketahui, saya setuju seribu satu persen dengan pendapat Feyerabend dan Khun bahwa kita tidak perlu membatasi diri hanya pada satu metoda untuk meraih pengetahuan, kita tidak boleh melarang upaya-upaya intelektual masa depan dengan membatasi hanya pada satu paradigma sempit menggunakan “model-model penelitian fisika (metode ilmiah maksudnya)

Pada tulisan ini saya hanya sekedar mencoba mengurai kebenaran temuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam tinjauan ‘kaca mata’ filsafat ilmu. (mengapa saya ‘menggunakan’ filsafat ilmu sebagai “kaca matanya?”, karena filsafat ilmu yang melandasi secara filosofis lahirnya metode ilmu, atau dengan kata lain filsafat ilmu merupakan dasar filosofis sebuah pengetahuan dikatakan benar secara ilmiah, pengetahuan yang benar secara ilmiah ini biasa kita sebut dengan nama ilmu). Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk ‘memprovokasi’ saudara agar meninggalkan metodologi Penelitian Tindakan Kelas, atau mempersuasi (membujuk) saudara agar menggunakan metodologi penelitian-penelitian formal, tulisan ini justru dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai kebenaran temuan penelitian tindakan kelas, sehingga saudara diharapkan dapat menempatkan ‘posisi’ yang tepat dalam menyikapi temuan-temuan Penelitian Tindakan Kelas. Sehingga kasus over confident dalam penyimpulan hasil temuan Penelitian Tindakan Kelas tidak lagi terjadi.

Dalam tulisan ini saya menyajikan urutan penulisan sebagai berikut; pada bagian awal saya mencoba memberikan gambaran mengenai bagaimana metode ilmiah bekerja untuk “mencari” kebenaran, menghampiri dan mengenali realitas fisik dunia, yang tentu saja ditinjau dari perspektive filsafat ilmu, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai bagaimana metodologi penelitian tindakan kelas dikembangkan dan bekerja, pada bagian selanjutnya akan dibahas pandangan filsafat ilmu terhadap kebenaran temuan penelitian tindakan kelas, dan pembahasan terakhir diakhiri dengan pembahasan mengenai “posisi” kebenaran penelitian tindakan kelas termasuk dalam kelompok ‘kebenaran’ mana?, apa dasar fiolosofis yang mendasari kebenaran temuan penelitian tindakan kelas?. Susunan penyajian tulisan yang demikian diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi saudara dalam mengikuti “alur cerita” argumen-argumen dalam artikel ini.


Bagaimana Metode Ilmiah Bekerja

Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan ilmu. Jadi jika seseorang hendak mengklaim mendapatkan pengetahuan yang dapat disebut dengan ilmu, mutlak harus menggunakan metode ilmiah. Hal ini berarti tidak semua pengetahuan bisa disebut dengan ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.

Secara filosofis metode ilmiah dibangun dari cara berpikir deduktif dan induktif. Berpikir deduktif memberikan ‘warna’ sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Berpikir induktif dimaksudkan untuk memberikan pembenaran empirik kepada pengetahuan yang yang telah dirasionalisasi oleh berpikir deduktif. Kedua hal ini sangat penting, bagaimana kita bisa percaya bahwa, misalkan terdapat partikel x dalam atom yang belum diketahui manusia?, atau ketika kita melihat fenomena empirik tentang hujan kemudian diartikan bahwa para dewa-dewa sedang menangis tersedu-sedu.

Di dalam metode ilmiah setelah pengetahuan diberikan penjelasan rasional (deduktif), sebelum teruji secara empirik (induktif) semua penjelasan tersebut hanyalah bersifat sementara, penjelasan sementara ini biasa kita sebut dengan istilah hipotesis. Secara filosofis sebenarnya kita dapat mengajukan hipotesis sebanyak-banyaknya sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistik. Namun dalam kesimpulan akhir hanya satu hipotesis yang diterima, yaitu hipotesis yang didukung oleh fakta-fakta empirik. Terkait dengan penjelasan tersebut, oleh karena itu sering kali metode ilmiah dikenal sebagai proses logiko-hipotetiko-verifikatif, yang merupakan ‘perkawinan’ antara deduksi dan induksi. Meminjam kalimat Jujun Suriasumantri secara sederhana metode ilmiah dapat digambarkan dalam kalimat sederhana sebagai berikut ‘jelaskan pada saya lalu berikan buktinya!’

Masih menurut Jujun Suriasumantri kerangka berfikir ilmiah logico-hipotetiko-verivikatif pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

  • Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empirisme yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
  • Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berfikir di susun secara rasional berdasar premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenaranya dengan memperhatikan faktor empirik yang relevan dengan permasalahan.
  • perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikri yang dikembangkan.
  • pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak
  • Penarikan kesimpulan, merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu di tolak atau diterima, sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima, begitu sebaliknya. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan.

Keseluruhan langkah di atas harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Secara lebih jelas Jujun (2001) mendiagramkan alur kerja metode ilmiah seperti pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Metode Ilmiah



Bagaimana Metodologi Penelitian Tindakan Kelas Bekerja

Konsep penelitian tindakan bermula dari pandangan seorang ahli psikologi sosial yang bermana Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia ke dua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Lewin pada saat itu mengemukakan dua ide pokok penelitian tindakan yaitu; (1) keputusan bersama, dan (2) komitment untuk meningkatkan dan memperbaiki prestasi kerja. Kedua ide pokok tersebut sekarang menjadi karakteristik dasar penelitian tindakan yang menegaskan perlunya usaha kolaboratif atau usaha secara bersama-sama dalam meningkat mutu prestasi kerja.

Pada tahun 1953, ide Lewin dikembangkan oleh Stephen Corey di New York sebagai pendekatan penelitian yang diselenggarakan oleh guru-guru sekolah. Pada Tahun 1976 Jhon Elliot menggunakan pendekatan ini untuk membantu guru mengembangkan usaha inkuiri dalam pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

Banyak ahli memberikan definisi tentang penelitian tindakan kelas (PTK). Namun sacara umum mereka mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang (bersiklus) dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Proses daur ulang (siklus) kegiatan dalam penelitian tindakan divisualisasikan pada Gambar 2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas



Dari gambar 2 di atas terlihat daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing)¸ penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation dan evaluation), dan melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai.

Seorang peneliti sebelum masuk ke dalam kegiatan pada siklus di atas (gambar 1), pada dasarnya juga melakukan kegiatan deduktif, yang kemudian disusun menjadi kerangka teoritis yang digunakan sebagai pembenaran rasional dari hipotesis tindakan yang ditetapkan. Kegiatan penelitian setelah itu adalah terfokus pada kegiatan dalam siklus-siklus penelitian. Tahap pertama dari siklus tersebut adalah tahap perencanaan, pada tahap ini peneliti mempersiapkan kegiatan penelitian yang akan diimplementasikan dalam tahap tindakan, tahap selanjutnya adalah tahap tindakan pada tahap ini peneliti mengimplementasikan segala sesuatu yang telah dipersiapkan dalam tahap perencanaan, tahap selanjutnya adalah observasi dan evaluasi dan refleksi dari hasil kegiatan pada tahap tindakan diamati dan dievaluasi keberhasilannya sesuai dengan standard keberhasilan yang telah ditetapkan, jika belum peneliti kembali mengulangi siklus penelitian di atas sampai standard keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya tercapai.


Temuan Penelitian Tindakan Kelas dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Seperti telah saya jelaskan pada uraian sebelumnya, pengetahuan dikatakan memenuhi nilai keilmiahan jika dan hanya jika (JJ) telah memenuhi syarat-syarat keilmiahan, syarat-syarat tersebut terjabarkan dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Secara khusus juga telah dijelaskan bahwa metode ilmiah disusun berdasar kerangka berfikir logiko-hipotetiko-verifikatif, secara sederhana kerangka berfikir tersebut dapat dimaknai dengan kalimat berikut ‘tunjukkan pada saya bahwa pengetahuan tersebut logis/rasional berikan hipotesis dan buktikan kebenarannya secara empirik’. Langkah-langkah untuk ‘menjamin’ terimplementasikannya logiko-hipotetiko verifikatif juga telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, yaitu diawali dengan kegiatan perumusan masalah, penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis sampai dengan penarikan kesimpulan.

Dengan menggunakan pengetahuan mengenai bagaimana metode ilmiah dikembangkan, saya mencoba meninjau apakah metodologi Penelitian Tindakan Kelas, sudah melaksanakan langkah-langkah metode ilmiah tersebut sebagai sebuah prasyarat utama temuan penelitian dikatakan benar secara ilmiah dan sebagai prasarat utama pengetahuan dapat disebut/diklasifikasikan sebagai ilmu.

Dengan bantuan diagram alir (flow diagram) metode ilmiah pada Gambar 1 dan penjelasan tentang bagaimana penelitian tindakan kelas dikembangkan, kita bisa melihat bahwa, a) pada dasarnya penelitian tindakan kelas pada awalnya “sistem kerjanya’ tidak berbeda dengan system kerja metode ilmiah, para peneliti yang menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas, seperti halnya dalam kegiatan metode ilmiah, sebelum melakukan penelitian juga berangkat dari sebuah masalah penelitian, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis tindakan untuk memberikan ‘pembenaran’ rasional terhadap rumusan hipotesis yang ditetapkan. Hipotesis penelitian tindakan kelas berupa keyakinan peneliti secara rasional terhadap tindakan yang dipilihnya. Sampai pada ‘titik’ ini tidak ada perbedaan prinsipil (secara ontologi) yang mencolok antara metode penelitian tindakan kelas dengan langkah-langkah pada metode ilmiah. Pada ‘titik’ ini langkah-langkah dalam metode penelitian tindakan kelas tidak berbeda dengan langkah-langkah pada metode penelitian formal lainnya yang berlandaskan kepada metode ilmiah, yaitu kegiatan pengujian ‘kebenaran’ secara deduktif. 2) langkah selanjutnya menurut diagram alir (flow diagram) metode ilmiah adalah kegiatan verifikasi terhadap hipotesis yang telah diajukan untuk membuktikan kebenaran empirik (induktif) dari rasionalisasi (hipotesis) yang telah diajukan sebelumnya. Pada penelitian formal dalam bidang pendidikan (misal: quasi eksperimen), biasanya pada kegiatan ini, peneliti mencari kelas yang homogen dan mengelompokkanya dalam dua kelompok kelas, yaitu kelas sebagai kelompok perlakuan (eksperimen) dan kelas sebagai kelompok kontrol, masing-masing kelompok diupayakan (dikontrol) dalam kondisi yang tidak berbeda, dengan maksud untuk ‘menjamin’ bahwa hanya karena perlakuan saja sebuah perubahan dilihat. Masing-masing kelompok diberi perlakuan yang sama, kemudian dilihat hasilnya. Dengan bantuan statistik dapat ditetapkan sebuah hipotesis diterima atau ditolak.

Pada penelitian tindakan kelas juga dilakukan kegiatan ‘verifikasi’ terhadap hipotesis yang diajukan (lihat siklus PTK pada Gambar 2), biasanya peneliti yang menggunakan metode penelitian tindakan kelas, setelah mengembangkan hipotesis penelitian, mereka melakukan kegiatan yang dikenal dengan nama tahap perencanaan, pada tahap ini peneliti merencanakan segala sesuatu yang terkait dengan rencana pada tahap implementasi tindakan (misalkan menetapkan keberhasilan tindakan yang diharapkan, mengembangkan perangkat, dll). Setelah rencana-rencana pada tahap perencanaan telah berhasil diselesaikan, tahap selanjutnya adalah kegiatan pengimplementasian rencana-rencana yang telah disusun dalam tahap yang diberi nama implementasi tindakan, sambil melaksanakan tindakan peneliti melakukan observasi dan evaluasi terhadap kegiatan pada implementasi tindakan, peneliti mencatat segala temuan yang terkait dengan kegiatan implementasai tindakan. Langkah ini dimaksudkan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan tindakan pada siklus selanjutnya. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa target keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya belum tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan peneliti, maka kegiatan penelitian akan masuk pada siklus selanjutnya dengan materi yang berbeda sampai dengan target keberhasilan yang telah ditetapkan tercapai. Baru kemudian temuan penelitian ini disimpulkan.

Seperti telah penulis jelaskan pada paragraf sebelumnya, pada awalnya tidak ada perbedaan prinsipil (kalau tidak boleh disebut dengan pelanggaran) pada penelitian tindakan kelas dengan langkah-langkah metode ilmiah. Pada tahap ini metode penelitian tindakan kelas, juga berusaha mengembangkan kegiatan logiko-hipotetiko sebagai salah satu prasayarat pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu dan sebagai prasyarat temuan penelitian dikatakan benar secara ilmiah.

Tahap selanjutnya adalah kegiatan verifikasi terhadap hioptesis yang diajukan untuk memberikan pembenaran secara empirik. Kritik yang muncul (menurut saya) terkait dengan kegiatan verifikasi hipotesis pada penelitian tindakan kelas, terletak pada keterpercayaan hasil temuan penelitian tindakan kelas. Mengapa hal ini muncul?, kemunculan kritik ini terkait dengan langkah pengujian hipotesis yang menurut pendapat pribadi penulis menimbulkan bias yang luar biasa besar, bias ini tentu saja mempengaruhi kesimpulan yang dihasilkan nantinya.

Sekarang mari kita lihat dimana letak kebias-anya dengan bantuan perbandingan dengan menggunakan penelitian pendidikan formal yang berlandaskan pada metode ilmiah. Dengan sebuah contoh berikut, setelah seorang peneliti berhasil mengembangkan logiko-hipotetiko, kewajiban selanjutnya untuk dapat mengklaim bahwa temuannya dapat disebut sebagai ilmu atau kebenaran temuannya dapat dikatakan benar secara ilmiah, peneliti harus bisa membuktikan (memverifikasi) hipotesisnya secara empirik. Pada penelitian formal dalam bidang pendidikan (kuasi eksperimen, seperti yang dicontohkan sebelumnya) peneliti berusaha mencari kelas yang benar-benar homogen dalam segi kemampuan siswa dan sebagainya, kemudian mengelompokannya dalam dua kelompok kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelompok kontrol, masing-masing kelas mendapatkan perlakuan yang sama, materi yang sama, semuanya dijaga dengan perlakuan yang sama, kemudian dilihat dengan bantuan statistik apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima, jika diterima maka hipotesis tadi sudah mempunyai bukti secara empirik, dan layak disebut dengan ilmu.

Pada penelitian tindakan kelas setelah peneliti mengembangkan hipotesis, agar temuanya dapat diakui sebagai ilmu, juga wajib melakukan kegiatan verifikasi untuk membuktikan bahwa hipotesisnya benar secara empirik. Jika kita asumsikan bahwa kegiatan siklus dalam PTK adalah kegiatan untuk membuktikan kebenaran empirik terhadap hipotesis yang diajukan, maka dapat dijelaskan lewat contoh berikut, seorang peneliti dengan menggunakan metodologi penelitian tindakan kelas, setelah berhasil mengembangkan hipotesis, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan keseluruhan langkah-langkah yang tercantum dalam siklus penelitian tindakan kelas (gambar 2), peneliti memilih satu kelas (idealnya kelas yang dianggap bermasalah, dipilih pada awal pengembangan) pada kelas ini peneliti melakukan kegiatan perencanaan, implementasi tindakan, observasi dan evaluasi, dan refleksi. Jika satu siklus ini ternyata target keberhasilan tindakan belum juga tercapai maka akan diulang pada siklus selanjutnya sampai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan tercapai. Kegiatan verifikasi terhadap hipotesis (ingat dengan asumsi kita) semacam ini banyak memunculkan kritik, salah satunya seperti penulis sebutkan di atas, ‘apa jaminan bahwa temuan penelitian tindakan kelas disebabkan oleh hipotesis yang diajukan?, “jangan-jangan meningkatnya (misalkan: hasil belajar) bukan disebabkan oleh (misalkan: metode x) seperti yang telah disebutkan dalam hipotesis?, “apa jaminan bahwa keberhasilan tindakan pada siklus tertentu disebabkan oleh tindakan yang dipilih dan direvisi?, jangan-jangan materi pada siklus itu memang lebih mudah dibandingkan dengan siklus sebelumnya, atau jangan-jangan siswa sudah mulai ‘peka’ dengan metode pembelajaran x tersebut?. Meminjam pernyataan Profesor Ahmad Tafsir (dengan tambahan-tambahan hiperbolik dari saya he…he...JJ), temuan penelitian tindakan kelas seperti cerita “gerhana matahari dan kentongan” (mau tahu ceritanya?) ‘di Lumajang bila terjadi gerhana matahari, semua penduduk sibuk memukul kentongan, jika kita coba tanya pada mereka ‘mengapa memukul kentongan’, mereka menjawab ‘agar matahari muncul kembali’, setelah kita tunggu beberapa saat, ajaib matahari benar-benar bersinar lagi (sumpah Broo.., kalau ndak percaya buktikan saja…JJ), namun pertanyaannya adalah ‘apakah munculnya matahari karena dipukulnya kentongan?’, atau ‘jangan-jangan jika penduduk desa tidak memukul kentongan matahari juga tetap muncul? (untuk pertanyaan terakhir ini saya tidak bisa menjawab, soalnya saya orang Lumajang, pada saat terjadi gerhana matahari saya ikut-ikutan pukul kentongan he…he…JJ)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas jarang ditemukan pada penelitian-penelitian formal, karena dalam penelitian formal biasanya hal semacam ini sangat dijaga (dikontrol), agar hanya variabel yang ingin diukur saja yang mempengaruhi kegiatan penelitian, variabel lain di kontrol pengaruhnya (pada penelitian true eksperimen pengontrolan variabel lebih ekstrim lagi)

Temuan-temuan penelitian tindakan kelas, bila kita tinjau dari perspektif filsafat ilmu (menurut saya) memang masih banyak menyisakan banyak pertanyaan. Dan bila kita ‘saklek’ dengan definsi temuan penelitian dikatakan ilmiah jika sesuai dengan metode ilmiah, maka penelitian tindakan kelas mempunyai kelemahan (permasalahan) dalam kegiatan pembuktian hipotesis secara empirik. Sehingga bila kita tinjau hanya dari satu sisi aspek ini (metode ilmiah) saja, maka temuan penelitian tindakan kelas agaknya masih menyisakan banyak pertanyaan tentang keilmiahannya (keilmiahan temuannya). Sehingga penyimpulan hasil temuan dalam penelitian tindakan kelas harus dimaknai secara hati-hati, maksudnya bahwa temuan penelitian ini, jelas tidak dapat digeneralisasikan terhadap semua populasi.

Namun demikian ‘permasalahan ketidak ilmiahan’ ini sebenarnya sudah banyak diakui oleh ahli-ahli penelitian tindakan kelas, mereka sering menyatakan dalam tulisan-tulisannya bahwa hipotesis penelitian tindakan hanya berupa keyakinan peneliti terhadap sebuah tindakan yang dipilih, dan kegiatan penelitian tindakan kelas bukan dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu (dengan kata lain siklus dalam PTK bukan dimaksudkan untuk memverifikasi hipotesis) namun dimaksudkan untuk perbaikan praktis.

Pertanyaan selanjutnya apa dasar filosofis ‘pembenaran’ temuan penelitian tindakan kelas?, atau dengan kalimat lain ‘kalau begitu kebenaran penelitian tindakan kelas ini, termasuk dalam golongan kebenaran yang mana?. Pada sub bab berikutnya akan penulis uraikan dasar filosofis penelitian tindakan kelas.


Temuan Penelitian Tindakan Kelas Termasuk Golongan Kebenaran yang Mana Jika saudara sependapat dengan kesimpulan saya, bahwa temuan penelitian tindakan kelas masih menyisakan banyak pertanyaan tentang keilmiahan temuannya. Maka tugas kita yang paling pokok adalah ‘menelusuri’ apa yang mendasari secara filosofis (apa dasar filosofis kebenarannya) sehingga ‘lahir’ metodologi penelitian tindakan kelas. Karena saya percaya bahwa sebuah kelahiran, muncul karena ada sebab (saya lahir di dunia disebabkan apa ya…JJ), sebuah kelahiran metodologi penelitian tertentu pasti dilandasi oleh dasar filosofis tertentu.

Salah satu ‘jalan’ yang dapat kita lalui untuk sampai pada landasan filosofis yang mendasari penelitian tindakan kelas adalah dengan menelusuri kriteria mengenai kebenaran. Secara teoritis dikenal macam-macam teori kebenaran, antara lain sebagai berikut (saya comot dari buku Prof. Jujun Surya Sumatri)

Teori koherensi, menurut teori ini sesuatu (pernyataan) dikatakan benar jika sesuatu itu (pernyataan itu) bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap bahwa ‘semua manusia pasti mati’ adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa ‘si fulan adalah seorang manusia, dan si fulan pasti akan mati” adalah benar pula, karena pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.

Teori korespondensi, menurut penganut teori korespondensi suatu pernyataan dikatakan benar jika ‘materi’ pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalkan jika seseoramh mengatakan bahwa Ibu kota propinsi jawa timur adalah Surabaya, maka pernyataan tersebut dikatakan benar, sebab secara faktual ibu kota propinsi jawa timur memang Surabaya.

Teori kebenaran ilmiah, teori kebenaran ilmiah merupakan penggabungan antara teori kebenaran koherensi dan teori korespondensi. Penalaran teoritis yang berdasarkan logika deduktif jelas menggunakan teori koherensi. Sedangkan pembuktian secara empirik dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan tertentu menggunakan teori korespondensi (induktif)

Teori Kebenaran Pragmatis, teori kebenaran pragmatis, suatu kebenaran diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya sesuatu itu dikatakan benar jika mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

Dari uraian tentang teori-teori kebenaran di atas, agaknya sudah mulai tampak “titik terang” mengenai posisi ‘kebenaran’ temuan penelitian tindakan kelas. Dari sudut pandang terhadap peran pengetahuan dan penerapannya, agaknya penelitian tindakan kelas cenderung ‘tertolak’ oleh orang-orang yang menganut pada empirisme, logis (rasionalisme), atau gabungan keduanya. Sebaliknya, penganut pragmatisme dan materilisme dialektis akan menerima kebenaran penelitian tindakan kelas, karena mereka beranggapan bahwa sesuatu itu dikatakan benar jika mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini posisi penelitian tindakan kelas dipandang sebagai alat untuk memperbaiki situasi/permasalahan pembelajaran di dalam kelas, bukan dimaksudkan untuk membangun teori.

Terkait dengan hal di atas menurut pendapat pribadi saya adalah tidak ‘bijaksana’ mempertentangkan sesuatu hal yang mempunyai landasan filosofis berbeda, karena sama saja dengan kita mempertentangkan sebuah penilaian terhadap sesuatu dengan menggunakan prinsip indikator kebenaran yang berbeda. Penelitian tindakan kelas dengan filosofis dasar pragmatisme yang percaya bahwa sesuatu dikatakan benar jika mempunyai kegunaan praktis kemudian ‘diadu’ dengan teori kebenaran lain, misalkan kebenaran ilmiah yang mempunyai indikator kebenaran yang berbeda 180 derajat dengan teori kebenaran yang pertama, tentu saja tidak akan pernah sampai pada satu titik temu, seperti dua buah garis sejajar yang tidak akan pernah bertemu sampai kapanpun dan dimanapun. (seperti aku dan engkau yang tidak akan pernah bersatu sampai kapanpun…JJ)

Posisi saya dalam menyikapi hal ini, memilih dalam posisi ‘bermuka dua’ dalam artian, jika penelitian kita dimaksudkan untuk membangun sebuah teori/ilmu/dapat digeneralisasi pada populasi lebih luas, maka jangan sekali-kali menggunakan metodologi penelitian tindakan kelas, sebaliknya jika penelitian dimaksudkan untuk perbaikan praktis kualitas pembelajaran di dalam kelas agaknya metodologi penelitian tindakan kelas merupakan pilihan yang paling tepat, daripada sekedar tahu bahwa metode X lebih baik dari metode Y, tanpa ada konstribusi ‘luar biasa’ dalam perbaikan praktis pembelajaran di dalam kelas.


Kesimpulan

Mengurai kebenaran temuan penelitian tindakan kelas dalam perspektif filsafat ilmu, akan banyak menyisakan pertanyaan akan keilmiahan temuan penelitian tindakan kelas, hal ini terkait dengan permasalahan verifikasi dalam pembuktian kebenaran empirik hipotesis yang diajukan. Dan permasalahan ini juga di akui secara terbuka oleh ahli penelitian tindakan kelas, mereka sering menyatakan dalam tulisan-tulisannya bahwa hipotesis penelitian tindakan hanya berupa keyakinan peneliti terhadap sebuah tindakan yang dipilih, dan kegiatan penelitian tindakan kelas bukan dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu (membuat teori) namun dimaksudkan untuk perbaikan praktis.

Men-judge (menghakimi) bahwa temuan penelitian tindakan kelas adalah tidak benar, hal itu juga bukan sebuah keputusan yang bijaksana, karena sesunguhnyalah kita banyak berhadapan dengan pruralitas kriteria kebenaran dengan dasar-dasar filosofis yang berbeda-beda di dunia ini. Penelitian tindakan kelas boleh jadi memang tidak benar secara ilmiah karena ‘melanggar’ aturan yang digariskan oleh metode ilmiah. Tetapi boleh jadi dianggap benar jika kita meninjau dari persepektif filosofis yang berbeda (pragmatisme dan materialisme dialektis misalnya), dan begitu sebaliknya temuan penelitian yang diklaim benar secara ilmiah oleh metode ilmiah, bagi pragmatisme dan materialisme dialektis tidak lebih seperti ‘sampah’ yang tidak banyak manfaatnya bagi perbaikan praktis kehidupan manusia. Adalah tidak elok kiranya kita ‘mempertentangkan’ keduanya, atau memaksakan salah satunya, karena keduanya mempunyai dasar filosofis kriteria benar yang berbeda.

Menyitir pendapat Paul Feyerabend bahwa tidak seharusnya kita mengasumsikan superioritas dari metoda saintifik modern, kita tidak bisa memprediksi seperti apa pengetahuan di masa depan akan berbentuk, karena itu kita tidak perlu membatasi diri hanya pada satu metoda untuk meraih pengetahuan, kita tidak boleh melarang upaya-upaya intelektual masa depan dengan membatasi hanya pada satu paradigma sempit menggunakan “model-model fisika”

Akhirnya kritikan dan saran, atau ‘ketidak setujuan’, ‘kesetujuan’, ‘makian’, ‘pujian’ terhadap isi tulisan saya ini, dapat disampaikan pada email berikut:

Baskoro_ap@telkom.net atau Baskoroadiprayitno@yahoo.com



Ah…Benar sendiri sedang bingung mencari kebenarannya

Ah…Sesuatu yang aku anggap paling benar, ternyata tidak dapat mendefinisikan sendiri akan kebenarannya

Ah… Ada berapa banyak benar yang kau ketahui… sebanyak apa yang kau pikirkan dalam otakmu, ….karena akalmu selalu saja dapat memberikan label benar…

Ah…Sang pemberi petunjuk… tolong tunjukkan yang paling benar dari sebanyak macam benar….

Baskoro Adi Prayitno, Malang awal Juni 2008