Selasa, 06 Januari 2009

LAWAN KONDOMISASI GENERASI MUDA

LAWAN KONDOMISASI GENERASI MUDA...!!!


Tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Seperti tahun lalu, tahun 2008 ini KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional), BKKBN , dan DKT Indonesia dengan didukung oleh pemerintah dalam hal ini Menkokesra RI memperingatinya dengan menyelenggarakan “Pekan Kondom Nasional”. Kegiatan ini konon bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang penggunaan kondom sebagai alat Kesehatan dalam mengatasi penyebaran penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS.

Namun apakah kampanye memperkenalkan kondom yang sudah menjadi tradisi tahunan ini adalah langkah yang tepat untuk mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS yang mematikan tersebut?

LAWAN KONDOMISASI GENERASI MUDA

Setiap satu jam, seorang pemuda di Indonesia terjangkit HIV. Demikian menurut data Komisi Penanggulangan AIDS NAsional (KPAN). Menurut estimasi Departemen Kesehatan, hingga September 2008, jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sudah mencapai 21.151 kasus, yang terdiri dari 15.136 kasus AIDS dan 6.015 kasus HIV. Proporsi kelompok umur tertinggi kasus AIDS adalah pada usia 20-29 tahun sebesar 51,1%. Proporsi terbanyak pada kurun usia 20-29 tahun tersebut, mengimplikasikan bahwa terjadi transmisi dan penularan virus HIV pada kurun waktu 5-10 tahun sebelumnya yaitu pada usia 10-19 tahun. Data ini tentu sangat memprihatinkan, karena generasi muda yang berusia produktif paling rawan terhadap penularan virus yang sangat mematikan ini. Bila pemerintah dan kita sebagai elemen masyarakat tidak mengambil langkah yang tepat untuk menghentikan penyebaran virus yang saat ini sudah menjangkiti 32 propinsi yang ada di Indonesia, maka ke depan Indonesia akan mengalami “Lost Generations”.

Memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS) yang jatuh pada tanggal 1 Desember, KPAN, BKKBN, DKT Indonesia menggelar Pekan Kondom Nasional yang diadakan pada tanggal 1-7 Desember 2008. Kegiatan ini diawali dengan Konferensi Kondom pada tanggal 1 Desember 2008 di Hotel JW Marriot yang dibuka oleh Menkokesra, Ir. H. Aburizal Bakrie. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang penggunaan kondom sebagai alat kesehatan dalam mengatasi penyebaran Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV.

Namun, apakah kampanye memperkenalkan kondom yang sudah menjadi tradisi tahunan ini adalah langkah yang tepat untuk mengurangi penyebaran HIV/AIDS yang mematikan tersebut? Jawabannya adalah SAMA SEKALI TIDAK

Kampanye seperti ini justru bisa menimbulkan pemahaman yang salah terhadap penggunaan kondom yang nantinya malah meningkatkan penyebaran penyakit yang sudah menjangkiti 194 kabupaten di Indonesia.

Kondom tidak akan berpengaruh pada pengurangan penyebaran virus HIV/AIDS, karena:

  • Proses penularan virus HIV tertinggi adalah melalui penggunaan napza suntik (49,1 %) dan hubungan seksual 46,2 % (heteroseksual 42,1 % dan homoseksual 4,1 %). Jadi narkoba dan perilaku seks bebas adalah penyebab utama penyakit ini terus menyebar dan berkembang pesat di Indonesia;
  • Ukuran pori-pori kondom yang lebih besar dari ukuran virus HIV. Hasil penelitian mengenai ukuran kondom dan virus ini sebenarnya sudah tersebar luas. Namun ternyata tidak menjadi perhatian atau mungkin sengaja diabaikan oleh para aktifis penanggulangan HIV/AIDS. Data menunjukkan bahwa ukuran pori kondom adalah 1/60 mikron (dalam keadaan tidak merenggang) menjadi 1/6 mikron dalam keadaan merenggang. Sedangkan ukuran virus HIV/AIDS adalah 1/250 mikron. Virus HIV/AIDS bias sangat leluasa untuk menembus kondom.
Ketidakamanan kondom ini juga sudah diserukan oleh berbagai pihak di antaranya Ketua Gereja Khatolik Mozambique (Sep 2007), Gereja Katholik Vatikan, Alfonso Lopez Trujillo seorang cardinal senior dari Vatikan (2003) yang menyerukan bahwa kondom tidak aman bahkan kondom menyebabkan AIDS.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN

Terkait pencegahan HIV/AIDS, langkah-langkah berikut seyogyanya yang harus kita lakukan

  • Bersama-sama “memutus mata rantai” penularan virus HIV/AIDS dengan melarang NARKOBA dan SEKS BEBAS serta menindak tegas pengguna NARKOBA dan pelaku SEKS BEBAS;
  • “Mengkarantina” dan membuat prosedur yang benar untuk proses pengobatan orang-orang yang sudah positif terinfeksi HIV/AIDS;
  • Memberikan penjelasan yang transparan dan benar mengenai kondom, bahwa kondom dirancang untuk alat kontrasepsi, bukan dirancang sebagai alat untuk pencegahan virus HIV/AIDS sehingga adalah tidak benar dan menyesatkan kalau kondom dapat mencegah HIV/AIDS;
  • Menolak promosi kondom dengan menbagi-bagikan secara gratis ke tengah-tengah masyarakat, terutama ke sekolah-sekolah yang nantinya akan mendorong perilaku seks bebas;
  • Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan HIV/AIDS tidak perlu menggunakan inform concern.


PENGGALANGAN DANA UNTUK PALESTINA

PENGGALANGAN DANA UNTUK PALESTINA


Mohon rekans sekalian untuk dapat membantu penggalangan dana dan dukungan bagi penduduk Gaza di bawah ini. Mohon pesan ini disebarkan ke seluruh rekans sekalian. Semoga Allah Yang Maha Kaya dan Pemurah membalas kebaikan rekan sekalian dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga penduduk Gaza segera terlepas dari bencana yang teramat mengerikan ini.

Pada hari sabtu 3 Januari 2009, pemerintahan apartheid zionist Israel memperluas serangan terhadap Gaza dengan melakukan serangan darat menggunakan tenk-tank Merkava dan persenjataan cangih lainnya buatan Amerika Serika. Hingga 4 Januari 2009 terhitung lebih dari 500 penduduk Gaza meninggal dan lebih dari 2400 terluka.

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sejak akhir Desember 2008 lalu telah membuka layanan SMS Donasi melalui nomor 7505, dan per tanggal 29 Desember 2008 seluruh donasi yang masuk melalui SMS 7505 akan diberikan seluruhnya untuk Palestina.

Semakin gentingnya krisis kemanusian di bumi Palestina menuntut kita manusia yang memiliki hati nurani untuk terus meningkatkan usaha kita dalam membantu penduduk Gaza yang berada diambang kepunahan akibat genosida apartheid zionist Israel.

Donasi untuk Palestina kini bisa dilakukan melalui SMS, caranya:
ketik:
MERC(spasi)PEDULI

kirimkan ke: 7505 (semua operator)

Program sms donasi ini merupakan layanan yang disediakan oleh Departemen Sosial RI bekerjasama dengan sejumlah operator seperti Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, XL dan Mobile-8. Untuk Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, tarif sms adalah Rp 6.600,- sudah termasuk donasi Rp 5.000,- ditambah biaya operator dan PPn. Sementara untuk pengguna XL dan mobile-8 tarif sms adalah Rp 5.000,- sudah termasuk donasi Rp 3.750,- ditambah biaya operator dan PPn.

info selengkapnya mengenai program ini dapat dilihat di:
http://www.mer- c.org atau
http://donasi. depsos.go. id/news/gen/ 495d8e4a. htm

Atau bagi anda yang ingin menyumbangkan sejumlah dana bagi Palestinga dapat langsung menyetorkan ke rekening di bawah ini:

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)

Bank Muamalat Indonesia (BMI)
a.n. MER-C
Rek. No. 301.00521.15

Bank Central Asia (BCA)
a.n. Medical Emergency Rescue Committee
Rek. No. 686.0153678

Bank Syariah Mandiri (BSM)
a.n Medical Emergency Rescue Committee
Rek. No. 009.0121.773

Mohon bantuan dari rekan-rekan sekalian untuk menyebarkan informasi ini agar makin banyak orang yang bisa kita libatkan dalam membantu meringankan penderitaan penduduk Gaza.

MER-C
Medical Emergency Rescue Committee

adalah sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Organisasi yang berasaskan Islam dan berpegang pada prinsip rahmatan lil'aalamiin serta mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi.

Profil lengkap beserta alamat dan kontak organisasi kemanusiaan ini dapat dilihat di website http://www.mer- c.org

Selasa, 02 Desember 2008

ASESMENT = EVALUASI ?


ASSESMENT = EVALUASI ?


Oleh:

Baskoro Adi Prayitno



Bagi kita yang sehari-hari 'bergelut' dalam kluster pendidikan dapat dipastikan tidak asing lagi mendengar, membaca, membicarakan, menulis, atau bahkan mempresentasikan dalam sebuah seminar-seminar kajian tentang autentic assesment. Sedemikian terbiasanya, sering kali kita lupa 'landasan berpijak' kita. Seiring terbiasanya kita mengkaji autentic assesment, semakin jarang kita membicarakan evaluasi. Kelupaan kita pada 'landasan berpijak' dikuatirkan diantara kita 'menyangka' bahwa assesment secara utuh representasi dari evaluasi atau bahkan sering kita menganggap assesment sama dengan evaluasi. Atau memang Assesment sama dengan Evaluasi?




SEBUAH PENGANTAR

Beberapa hari yang lalu saya menjemput istri saya, yang sedang kuliah di program Pascasarjana UM Malang. Rupanya saya terlampau cepat sampai di kampus UM, saya lupa kalau jam di HP, saya set lebih cepat 15 menit dari seharusnya. Akhirnya saya putuskan menunggu Dia di Lobi PPS, sambil menghabiskan sisa rokok yang tinggal 4 isapan (he..he..). Di seberang saya duduk beberapa orang yang rupanya mahasiswa PPS, mereka sedang asik mengobrol atau lebih tepatnya mendiskusikan konsep autentic assesment. Sifat suka iseng saya muncul, suka menguping pembicaraan orang (he..he..), dari pembicaraan mereka, saya bisa menarik kesimpulan bahwa mereka mempunyai persepsi bahwa assesment sama dengan evaluasi. Namun benarkah assesment dapat dipersamakan dengan evaluasi?

Bagi kita yang sehari-hari 'bergelut' dalam kluster pendidikan dapat dipastikan tidak asing lagi mendengar, membaca, membicarakan, menulis, atau bahkan mempresentasikan dalam sebuah seminar-seminar kajian tentang autentic assesment. Sedemikian terbiasanya sering kali kita lupa 'landasan berpijak' kita. Seiring terbiasanya kita mengkaji autentic assesment, semakin jarang kita membicarakan evaluasi. kelupaan kita pada 'landasan berpijak' dikuatirkan diantara kita 'menyangka' bahwa assesment secara utuh representasi dari evaluasi atau bahkan sering kita menganggap assesment sama dengan evaluasi.


Tulisan kali ini, dimaksudkan sekedar mengingatkan kita tentang konsep assesment, test dan evaluasi, dengan harapan kita dapat 'mendudukkan' kembali konsep tersebut pada tempatnya yang tepat, sehingga kita dapat menyikapinya dengan tepat pula.


ASSESMENT, TEST DAN EVALUASI

Dari sub judul di atas kita pasti mengenal istilah-istilah tersebut (assesment, test dan evaluasi). Kalau saya mencoba bertanya, "apa beda di antara ketiganya?", barangkali banyak di antara kita cenderung mengartikan ketiga konsep tersebut sebagai suatu pengertian yang sama, sehingga dalam pemakaiannya sering kali kita mempertukarkan secara tidak sadar.

Sebenarnya bila kita mau mencermati, ketiga konsep tersebut tidaklah sama, Menurut Hart, assesment adalah proses mengumpulkan informasi tentang peserta didik, berkenaan dengan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka lakukan. Terkait dengan hal ini, banyak cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi, misalnya dengan cara mengamati peserta didik belajar, menguji apa yang mereka hasilkan, mengkaji pengetahuan, mengkaji ketrampilan mereka. Kata kunci terkait dengan assesment adalah 'bagaimana kita dapat menemukan/mengumpulkan informasi peserta didik?'.

Sedangkan test, masih menurut Hart adalah suatu cara assesment. Dalam hal ini secara sederhana dapat diartikan test adalah alat pengukuran yang digunakan untuk 'mendokumentasikan' pembelajaran peserta didik, sedangkan evaluasi adalah sebuah proses penafsiran (interpretasi), serta pembuatan keputusan berkenaan dengan informasi assesment. Dengan demikian dalam batas konsep assesment, data assesment sebenarnya belum dapat dinyatakan (diartikan) baik atau tidak baik. Ringkasnya data assesment mencerminkan apa yang 'terekam' di dalam kelas. Data assesment tidak mempunyai 'makna' apapun, data assesment baru bermakna bilamana kita memutuskan bahwa informasi tersebut merefleksikan sesuatu yang kita nilai, misalnya seberapa jauh peserta didik sudah menguasai materi pelajaran?.

Jadi sangat jelas bahwa assesment tidaklah sama dengan evaluasi.

Bagaimana Pendapat sampean?...


Di lain kesempatan kita akan 'mengobrol' lebih lanjut tentang autentic assesment, yang sering menjadi bahan perbicangan yang menarik seperti:


1. Assesment Autentic VS Assesment Non Autentic

2. Assesment Autentic VS Assesment ALternatif

3. Assesment Alternatif VS Assesment tradisional



Salam


Baskoro Adi Prayitno.

Kamis, 20 November 2008

SEBUAH CATATAN KEPRIHATINAN TERHADAP SDM YANG BERMUTU DAN BERDAYA SAING

SEBUAH CATATAN KEPRIHATINAN
TERHADAP SDM YANG BERMUTU DAN BERDAYA SAING


Oleh:

Cak Baskoro Adi Prayitno

Kondisi di atas memaksa dosen mencari cara untuk tetap dapat “melanjutkan hidupnya”, ada banyak cara yang dilakukan, dari cara yang halal sampai tidak halal. Cara halal misalnya banyak dosen bekerja di sektor lain, dulu sewaktu saya masih di PTS kami sering menggoda salah satu kawan dosen, “kamu ini dosen yang berprofesi pemulung atau pemulung yang berprofesi dosen”, soalnya ada kawan dosen PTS saya mampu membeli rumah dan mobil, bukan dari hasil sebagai dosen, tetapi dari hasil usaha dia menjadi bos pemulung. Tidak sedikit pula dosen yang mengambil jalan pintas “melacurkan” idealisme dengan “mallpraktek akademik” seperti jual beli nilai, permainan dosen dan mahasiswa dalam pembuatan tugas akhir/skripsi



PENGANTAR

Hari ini, tidak banyak pekerjaan di kantor, setelah ngawas UTS, saya habiskan waktu sekedar search artikel di Internet, secara kebetulan saya menemukan sebuah tulisan lama dari Prof. Mungin dari Unnes yang dimuat di harian Suara Merdeka Senin 3 februari 2003. Sebuah tulisan yang sangat bagus dan inspiratif, beliau memberi judul tulisannya “Pendidikan Tinggi di Era Pasar Bebas” (teks asli beliau dapat sampean baca di http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-m/2003-February/000585.html). Secara garis besar beliau berpendapat bahwa kata kunci dari keberhasilan perguruan tinggi agar tetap eksis di era pasar bebas terletak pada kekuatan sumber daya dosen (dosen yang bermutu) selain pembenahan kurikulum, perbaikan prasarana dan sarana, manajemen perguruan tinggi. Beliau juga mendefinisi operasionalkan apa yang dimaksud dengan dosen yang bermutu, menurut beliau ada lima faktor utama yang dapat dijadikan indicator kunci, yaitu 1) kemampuan profesional, 2) upaya profesional, 3) kesesuaian antara waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional, 4) kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya, dan 5) kesejahteraan yang memadai.

Membaca tulisan Prof. Mungin, membuat saya termenung agak lama, hasil ketermenungan saya mengantarkan saya pada sebuah keprihatinan besar. Keprihatinan tersebut muncul dari pengalaman saya lebih dari tujuh tahun berkiprah dan ikut bergelut dalam detak dan irama beberapa perguruan tinggi swasta baik di Jawa maupun luar Jawa, ditunjang juga dari sekian banyak artikel dan tulisan dari berbagai jurnal dan media massa mengenai kondisi sebagian besar PTS di negara kita yang sangat jauh dari apa yang kita diharapkan. sementara itu di lain pihak sebagian besar lembaga tinggi di negara ini banyak dikelola oleh pihak swasta, sementara pemerintah cenderung ‘menganak tirikan’ kampus-kampus PTS, banyak dari PTS mengalami keadaan "hidup segan matipun enggan". Agaknya ‘angan-angan’ Prof. Mungin dalam jangka pendek sulit untuk diwujudkan. Pun demikian bukan berarti tidak bisa sama sekali diwujudkan. Tulisan ini dimaksudkan sekedar mengingatkan kita bahwa perguruan tinggi swasta (PTS) juga perlu diperhatikan oleh pemerintah bukan hanya perguruan tinggi negeri. bagaimanapun juga mereka mempunyai jasa yang sangat besar dalam usaha mencerdaskan anak bangsa.

SEBUAH KEPRIHATINAN

Sampean jangan apriori membaca sub judul di atas, mengawali sesuatu dari sebuah keprihatinan tidaklah selalu berkonotasi dengan sikap apriori dan kemunduran, yang kemudian berujung pada pengkonstruksian gagasan yang pesimistis produk dari sebuah keputuasaan. Mengawali dari sebuah keprihatinan harus diartikan sebagai bentuk refleksi diri guna perbaikan di masa yang akan datang, agar kita tidak terjebak dalam "lubang" yang sama.

Keprihatinan ini muncul dari pengalaman saya lebih dari tujuh tahun berkiprah di beberapa perguruan tinggi swasta, baik di jawa maupun luar jawa, selain itu juga ditunjang oleh banyak tulisan dari berbagai media massa mengenai kondisi PTS di Indonesia. Beberapa keprihatinan yang muncul selama mengabdikan diri di perguruan tinggi swasta (PTS), secara garis besar dapat dikaji dari dua isyu berikut; banyak PTS tidak mampu memberikan dukungan financial yang layak utuk dosen dan pengembangan dosen, dan lemahnya manajemen PTS

Banyak PTS tidak Mampu Memberikan Dukungan Finansial yang layak bagi dosen dan Pengembangan Dosen

Sampean yang tidak pernah bergelut di perguruan tinggi swasta (PTS), mungkin menganggap bahwa PTS telah mendholimi dosen, dengan memberikan gaji dosen jauh dari standard hidup yang layak, dalam kasus-kasus tertentu mungkin benar. Sebagian besar PTS tidak dapat memberikan dukungan financial yang layak bukanlah didasari unsur kesengajaan, tetapi semata-mata didasari atas keterbatasan financial yang dimiliki oleh perguruan tinggi swasta, bukan rahasia umum bahwa PTS tumbuh dan merintis eksistensinya nyaris tanpa bantuan dari pihak manapun, mereka hanya mengandalkan sumber financial dari kantong mahasiswa, hidup matinya PTS ditentukan oleh fluktuasi jumlah mahasiswa, banyak PTS berjuang bertahan untuk tetap eksis dengan segala keterbatasan, keadaan seperti ini akan berimplikasi terhadap mutu layanan PTS dalam mencetak SDM bangsa yang bermutu dan berdaya saing. bahasa jawa timuranya mengurus urusan internalnya saja sulit, apalagi menghasilkan produk luaran yang bermutu dan berdaya saing...

Kekurangan financial yang dialami oleh sebagian besar PTS ini akan mengakibatkan efek domino, bukan rahasia umum, banyak dosen sampai berbulan-bulan belum mendapat gaji, sekalipun gaji tersebut merupakan satu-satunya sandaran hidup dia dan keluarganya. Status dosen tetap yayasan dan dosen tidak tetap yayasan bukan jaminan terhadap kesejahteraan dosen. Dosen yang berstatus dosen tetap yayasan biasanya menerima honor tiap bulan, namun besarannya relatif kecil (sebagai gambaran gaji saya dulu dengan status dosen tetap di sebuah PTS mendapatkan gaji 325.000/bulan, coba bayangkan bagaimana bisa hidup dengan satu istri dan satu anak). Lebih memprihatinkan lagi kondisi dosen luar biasa, mereka biasanya memperoleh gaji secara rapelan dalam satu semester, dengan jumlah ditentukan oleh banyaknya sks yang mereka ampu.

Kondisi di atas memaksa dosen mencari cara untuk tetap dapat “melanjutkan hidupnya”, ada banyak cara yang dilakukan oleh dosen dari cara yang halal sampai tidak halal. Cara halal misalnya banyak dosen bekerja di sektor lain, dulu sewaktu saya masih di PTS kami sering menggoda salah satu kawan dosen, “kamu ini dosen yang berprofesi pemulung atau pemulung yang berprofesi dosen”, soalnya ada kawan dosen PTS saya mampu membeli rumah dan mobil, bukan dari hasil sebagai dosen tetapi dari hasil usaha dia menjadi bos pemulung. Tidak sedikit pula dosen yang mengambil jalan pintas “melacurkan” idealisme dengan “malpraktek akademik” seperti jual beli nilai, permainan dosen dan mahasiswa dalam pembuatan tugas akhir/skripsi, di mana dosen dalam membantu mahasiswa terkadang melampaui batas kewenangannya dengan melakukan peran ganda yaitu selain menjadi pembimbing juga penyusun naskah-naskah skripsi mahasiswa. Dengan cara itu, dosen bersangkutan dapat menambah penghasilan, sementara mahasiswa tidak perlu bersusah payah menyusun skripsi; asalkan mereka memiliki uang, mereka dapat membayar biaya pembuatan skripsi walapun tanpa menguasai isi skripsinya atau belajar menguasai isinya dengan bimbingan dosen yang nantinya juga menjadi salah satu pengujinya. Keadaan ini (strategi dosen bertahan hidup dengan cara halal atau tidak halal) akan berimplikasi terhadap mutu SDM yang dihasilkan sebuah perguruan tinggi, keadaan yang memaksa dosen mencari penghasilan di luar profesionalitasnya menyebabkan terjadinya dis-orientasi dalam sistem pengajaran, di mana pengajaran dilaksanakan secara serampangan. Apa lagi memikirkan melakukan riset yang berkaitan dengan disiplin keilmuannya, atau meng-update pengetahuannya dengan konteks kekinian, atau upaya lain sebagai pengabdian dan kontribusinya bagi keilmuan maupun masyarakat. Tidak ada waktu...!, SDM berdaya saing? Jauh panggang dari api....


Lemahnya Manajemen PTS

Sebagian besar manajemen pengelolaan PTS belum terbentuk, tersistem dan terlaksana dengan baik, menurut pengalaman penulis selama mengabdi di sebuah PTS meskipun kuantitas mahasiswa terus meningkat namun tidak banyak ‘berdampak’ kepada kondisi internal PT, berbagai ketimpangan terjadi dimana-mana, biasanya rektorat menerapkan manajemen kepemimpinan yang sentralistik dan kaku dengan alasan ini sudah keputusan yayasan, keadaan ini mengakibatkan struktur di bawahnya tidak bisa mengembangkan diri dengan optimal, akibat dari hal ini biasanya pengembangan mutu dosen dan layanan akademik menjadi terganggu, dalam kondisi seperti ini secara teoritis menyebabkan segelintir pihak mendapat keuntungan besar di pihak yang lain dalam posisi terpuruk yang tidak berkesudahan, keadaan ini menyebabkan atmosfer akademik dalam sebuah PT terganggu. jika atmosfer akademik tidak kondusif suasana kerja dan belajar menjadi terganggu, antar dosen saling mencurigai, bawahan tidak percaya pada atasan, dll. hal ini akan berdampak pada mutu luaran PT.

Banyak dari dosen di PTS dapat melanjutkan studinya (S2 dan S3) bukan karena dibiayai oleh PT, namum dari usaha ‘kelincahan’ dosen pribadi dalam mencari peluang beasiswa, bahkan ketika seorang dosen berhasil melanjutkan studi lanjut, tidak sedikit PTS yang tidak memberikan kontribusi apapun pada dosennya yang sedang studi lanjut (banyak dari kawan dosen saya di PTS, gaji bulanan tidak dikirim setelah melanjutkan studi, dengan alasan sudah mendapat beasiswa), mengapa permasalahan ini muncul? Menurut hemat saya berawal dari kedua akar masalah yang saya sebutkan sebelumnya (lemahnya financial dan manajemen)

Kelemahan manajemen juga berdampak terhadap ketidakmampuan lembaga pendidikan tersebut dalam memberikan pelayanan bagi dosen terkait pengembangan dan promosi jabatannya. Dosen-dosen relatif tidak mampu mengembangkan jabatannya berupa kenaikan pangkat dan keperluan profesional lainnya selain disebabkan terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang bersangkutan, juga disebabkan rendahnya perhatian PTS dalam memberikan fasilitasi bagi dosen-dosen tersebut untuk berkembang sehingga para dosen cenderung “mentok” pada jabatan sebagai “asisten ahli” saja, atau dengan kata lain pangkat ketika baru bekerja sama dengan kondisi di saat dosen tersebut telah mengabdi selama puluhan tahun.

Kesemua keadaan ini membuat kita prihatin (paling tidak saya), SDM bermutu dan berdaya saing....????


SOLUSI PEMECAHAN??? SAMPEAN PUNYA SARAN....???


Kamis, 18 September 2008

KETIKA ILMU TIDAK ADA BEDA DENGAN SENI

KETIKA ILMU TIDAK ADA BEDA
DENGAN PUISI JOKO PIN DAN LAGU IWAN FALS


Oleh:

Cak Baskoro Adi Prayitno


Saat ini ada kecenderungan ilmu tidak ada bedanya dengan bermain gitar, menyanyi atau membaca sajak cinta, ilmu mulai kehilangan kegunaan praktis kecuali hanya nilai estetis, ilmu lebih diorientasikan kepada pemenuhan kepuasan jiwa ilmuwan daripada untuk usaha memecahkan masalah pragmatis. Ilmu menjelma menjadi pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan pada saat berdebat, makin hafal teori up to date makin hebat. Kalau sudah begini ‘apa beda antara ilmu dengan puisi Joko Pin atau Lagu Iwan Fals? Kini saatnya kita kembalikan aksiologi ilmu pada tempatnya yang ”benar”.


Saya yakin banyak dari sampean bingung atau paling tidak sedikit mengernyitkan dahi dalam ’memaknai’ maksud judul di atas. Mungkin sampean bertanya-tanya, apa kaitannya ilmu dengan puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals?. Sebagian besar orang mungkin menganggap tidak ada kaitannya antara ilmu dengan Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals. Namun jika sampean seorang pencermat acara televisi, terutama acara debat dengan melibatkan ilmuan-ilmuwan ternama Indonesia, atau sampean termasuk dalam golongan orang-orang iseng yang tidak ada pekerjaan lain, selain mencermati pergeseran orientasi aksiologi ilmu di Indonesia, atau sampean seorang mahasiswa yang terbiasa melihat dan mendengar dosen-dosen dan profesor sampean yang luar biasa ketajaman berpikirnya, namun ketajaman berpikir ini tidak punya nilai praktis dalam membantu memecahkan masalah dalam dunia nyata, saya yakin sampean dapat mengetahui atau paling tidak dapat meraba maksud dan makna judul di atas. Bagi sampean yang tidak termasuk dalam ketiga golongan tersebut mari kita lihat bersama-sama apa yang mendasari saya ’berani’ mengatakan bahwa ada kecenderungan ilmu sudah tidak ada bedanya dengan Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals terutama untuk konteks Indonesia saat ini.

BUKTI PERGESERAN AKSIOLOGI ILMU
Barangkali bukan merupakan hal yang aneh jika hampir setiap hari kita melihat acara televisi menayangkan acara debat dengan menghadirkan para ilmuwan-ilmuwan ternama di negeri ini, atau kita sering menghadiri bahkan terlibat secara langsung dalam acara-acara semacam itu. Mereka para ilmuwan sambil duduk minum teh atau kopi hangat ditemani makanan ringan lainnya berdebat tentang berbagai masalah, dari masalah nuklir sampai dengan masalah anak jalanan, mereka dengan sangat lihai menyahut, menyanggah, mempertahankan pendapat dengan didasari oleh teori-teori ilmiah yang paling up to date, sangat luar biasa...mengaggumkan.... Setelah itu....? Selesai...., tidak ada manfaat praktis yang diperoleh selain tepuk tangan dan decak kagum dari peserta diskusi...cck....cck...cck...., atau sebuah kepuasan jiwa bagi ilmuwan yang telah berhasil membuktikan ketajaman berpikirnya di arena perdebatan yang menantang dan mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai seorang ilmuwan.

Kalau keadaanya sudah begini, kata Prof. Jujun, ilmu sudah tidak ada bedanya dengan bermain gitar, menyanyi atau membaca sajak cinta, ilmu tidak lagi mempunyai kegunaan praktis selain hanya kegunaan estetis, ilmu lebih ditujukan kepada pemenuhan kepuasan jiwa ilmuwan daripa memecahkan masalah praktis. Ilmu sekedar pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan pada saat berdebat, makin hafal teori yang up to date maka semakin hebat. Pertanyaan selanjutnya ‘apa beda antara ilmu dengan puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals?’, coba sampean pikirkan?..., jelas tidak ada bedanya kecuali perbedaan ejaannya i-l-m-u dan s-e-n-i, serta rombongan penggemar, rombongan penggemar iwan fals melabeli dirinya OI (orang Indonesia), rombongan penggemar slank melabeli dirinya Slanker, barangkali rombongan penggemar ilmuwan melabeli kelompoknya dengan nama kaum intelek, sedangkan secara esensi nyaris tidak ada beda diantara keduanya (ilmu dengan seni).

menurut hemat saya akar masalah dari hal ini adalah 'filsafat' mereka yang cenderung memandang rendah pekerjaan-pekerjaan yang berbau praktis-pragmatis, adalah tidak pada tempatnya jika seorang ilmuwan yang terhormat memikirkan masalah-masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka, apa lagi melakukan tindakan-tindakan konkret, bukankah pekerjaan praktis yang memeras keringat adalah pekerjaan kaum kuli?...

KEMBALIKAN AKSIOLOGI ILMU PADA TEMPAT SEMULA
Kita semua sepakat bahwa Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals adalah fungsional (bermanfaat) bagi kehidupan kita, Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals memberikan kenikmatan batiniah, jiwa kita tergetar, terharu, tersentuh oleh lirik dan kata-kata yang artistik menembus dunia makna yang sulit terindra. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah luas, diri kita bertambah dewasa dan boleh jadi hal ini akan merubah sikap dan perilaku kita menjadi lebih bijaksana. memang kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak karya sastra dan lagu (seni) mampu mengubah sebuah peradaban di dunia ini.

Namun demikian harus tetap disadari, terdapat perbedaan fungsi antara seni dan ilmu, Lagu Iwan Fals mungkin menyadarkan kita tentang permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di negara kita, mungkin dengan lagu itu jiwa kita tergetar, menyadarkan kita bahwa sangat banyak permasalahan sosial disekitar kita, namun yang jelas kita tidak bisa memecahkan masalah sosial tersebut hanya dengan jiwa yang tergetar atau hanya dengan sekedar bernyanyi menyandang gitar. Ilmuwan perlu melakukan tindakan-tindakan konkret, tentu saja bukan dengan membentuk boy band atau vocal group melainkan melakukan kegiatan fungsional prakmatis berdasarkan keilmuan yang mereka miliki, bukan hanya sekedar berdebat tanpa manfaat praktis, kecuali hanya sekedar tepuk tangan atau decak kagum penonton (baca: peserta debat/diskusi) atas ketajaman berpikir mereka, sebagaimana ketika Joko Pin membacakan Puisi atau Iwan Fals menyanyikan lagu di hadapan para penggemarnya yang juga diiringi tepuk tangan dan decak kekaguman...

Menyitir Tulisan Prof Jujun, buku teks ilmuwan itu seharusnya tidak jauh berbeda dengan buku Primbon dukun ramal yang digunakan untuk konsultasi masalah praktis, tentu saja yang membedakan diantara keduanya adalah asas dan prosedurnya, jika ilmuwan buku primbonnya berdasarkan asas dan prosedur ilmu (metode ilmu/ilmiah), sedangkan primbon dukun asas dan prosedurnya didasarkan pada metode ngelmu/klenik. Kadang kala saya berpikir, barangkali maraknya iklan per-klenikkan yang membanjiri media masa kita, serta kecenderungan semakin banyaknya orang mendatangi dukun/paranormal untuk memecahkan permasalahan-permasalahan hidup mereka, salah satunya disebabkan kegagalan para 'dukun ilmiah' ini (baca: ilmuwan) 'membumikan' teori-teori keilmuwan mereka, banyak dari mereka terjebak dengan hanya puas hanya sekedar tajam berpikir, tangguh ketika berdebat, namun 'impoten'ketika dihadapkan kepada kegiatan pemecahan masalah praktis.

Mungkin sampean menganggap saya sebagai seorang pragmatis, anggapan sampean barangkali ada benarnya, kalau kita mau berpikir lebih dalam, sebenarnya ilmu itu dikembangkan untuk apa? membantu mempermudah ’kehidupan’ manusia bukan?...

Ada Ilmuwan yang mau konser bareng dengan Iwan Fals atau Joko Pin?, sekedar membandingkan, tepuk tangan untuk siapa yang lebih meriah...

Bagaimana pendapat sampean?...


Malang-Surakarta, 17-18 September 2008

PBIO/FKIP UNS Surakarta
baskoro_ap@uns.ac.id, baskoro_ap@telkom.net
www.baskoro1.blogspot.com

HIDUP TIDAK UNTUK MENYENANGKAN SEMUA ORANG

HIDUP TIDAK UNTUK MENYENANGKAN SEMUA ORANG
KARENA KITA TIDAK MUNGKIN MENYENANGKAN SEMUA ORANG


Oleh:
Cak Baskoro Adi Prayitno


saya meminta dia untuk menarik kesimpulan berdasarkan cerita saya tentang keluarga Lukman, dia diam saja, tetapi saya dapat merasakan bahwa beban berat yang dia ’pikul’ sedikit berkurang, Dia pamit pada saya dengan menghadiahi saya sebuah senyuman dan ucapan terimakasih, dari senyuman dan kalimat terimakasih yang dia ucapkan saya dapat merasakan ada nuansa rasa yang berbeda dibandingkan dengan pertama kali dia datang. Memang kita tidak akan bisa memuaskan semua orang dan memang hidup tidak untuk memuaskan semua orang...



Beberapa hari yang lalu saya di datangi oleh salah seorang mahasiswi, dia menanyakan apa saya ada waktu untuk berbincang-bincang dengannya, karena memang kebetulan tidak ada pekerjaan di kantor, saya mempersilahkan mahasiswi tersebut duduk, pada mulanya saya mengira mahasiswi ini akan menanyakan persoalan terkait dengan matakuliah yang saya ampu, namun dugaan saya rupanya keliru, dia ’curhat’ pada saya tentang permasalahan yang menurut dia sangat mengganggunya, pada intinya mahasiswa ini bersama pacarnya memutuskan untuk menikah di usia muda untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, dan kedua orang tua kedua mahasiswa ini setuju. Setelah mereka menikah beberapa permasalahan muncul, terutama permasalahan terkait dengan desas-desus yang beredar di kalangan teman kuliah dan tentangganya bahwa dia menikah karena ’kecelakaan’ (maried by accident), dan ’gosip’ ini rupanya sangat mengganggu dia dan suaminya dan dia meminta saran saya bagaimana mengatasi permasalahan ini. (saya baru sadar menjadi seorang dosen ternyata tidak selalu berkutat dengan dunia keilmuan, kadang kala mau tidak mau kita ’terlibat’ dalam urusan ’rumah tangga’ mahasiswa-mahasiswa kita)

Saya tertegun agak lama memikirkan apa yang dapat saya sarankan kepada mahasiswi ini, paling tidak saran tersebut dapat sedikit meringankan beban dihatinya. Seingat saya, selama saya menuntut ilmu mulai dari SD sampai perguruan tinggi, saya tidak pernah dibekali ’ilmu’ atau ’jurus’ jika menghadapi persoalan semacam ini. Pikiran saya berputar-berputar sampai tiba-tiba muncul dalam benak saya tentang kisah keluarga Lukman yang pernah diceritakan oleh Bapak pada saat saya masih kecil dulu.


KISAH KELUARGA LUKMAN
Akhirnya saya menceritakan kisah keluarga Lukman kepada mahasiswi tersebut, dikisahkan Lukman sedang berjalan-jalan di pasar dengan anaknya ditemani dengan seekor keledai, dalam perjalanan orang-orang disekitar pasar saling berbisik-bisik membicarakan Lukman dan anaknya ’eh kedua orang itu benar-benar bodoh, sudah membawa keledai tapi tidak dinaiki, benar-benar orang yang bodoh’, Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang disekitarnya, akhirnya Lukman dan anaknya memutuskan menaiki keledai tersebut bersama-sama, tidak seberapa lama mereka berjalan orang-orang disekitar lukman saling berbisik-bisik kembali membicarakan Lukman dan Anaknya ’kedua orang itu benar-benar tidak punya kasihan, masak Keledai sekecil itu dinaiki berdua’ Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang tersebut dan memutuskan bahwa anaknya yang menaiki keledai sedangkan Lukman mengiringi dibelakangnya sambil berjalan kaki, tidak jauh mereka berjalan orang-orang disekitar Lukman dan anaknya berbisik-bisik membicarakan mereka berdua ”benar-benar anak durhaka...teganya membiarkan ayahnya yang sudah renta berjalan kaki sedang dia enak-enak naik keledai’ Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang ini dan memutuskan bahwa Lukman yang naik ke punggung keledai sedangkan anaknya mengiringi dibelakangnya sambil berjalan kaki, tidak jauh mereka berjalan orang-orang disekitar mereka kembali berbisik-bisik membicarakan Lukman dan anaknya ”benar-benar ayah yang egois, membiarkan anaknya yang masih kecil berjalan kaki kepanasan, sedangkan ia enak-enakan duduk diatas keledai dengan nyaman” Lukman dan anaknya mendengar bisik-bisik orang-orang disekitarnya, akhirnya mereka memutuskan mengikat kedua kaki keledai dan kemudian memikul keledai itu bersama-sama anaknya, tanpa lagi menghiraukan orang-orang disekitarnya yang menganggap mereka telah gila berjalan-jalan dengan menggendong keledai”

KITA TIDAK AKAN BISA MEMUASKAN SEMUA ORANG
Dari cerita ini, saya meminta mahasiswi tadi menarik sebuah kesimpulan, dia memang diam saja, tetapi saya dapat melihat bahwa beban berat yang dia rasakan sedikit berkurang, Dia pamit pada saya dengan menghadiahi sebuah senyuman dan ucapan terimakasih..., dari senyuman dan kalimat terimakasih yang dia ucapkan, saya dapat merasakan ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan pertama kali ketika ia meminta saya meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya. Memang kita tidak akan bisa memuaskan dan menyenangkan semua orang, seperti cerita Lukman yang gagal mencoba memuaskan dan menyenangkan semua orang dan memang hidup tidak untuk memuaskan dan menyenangkan semua orang...

atau... ada orang yang bisa menyenangkan dan memuaskan semua orang?...

Bagaimana menurut sampean....?


Surakarta, 18 September 2008

Senin, 14 Juli 2008

PERLUNYA REKONSTRUKSI PROGRAM AKSI
KESETARAAN GENDER


Oleh:

Cak Baskoro Adi Prayitno



Ketika perempuan mempunyai kesadaran, sikap yang benar mengenai kesetaraan gender dan kemudian diimplemtasikan dalam bentuk perilaku dalam kehidupannya akan dianggap sebagai ’pemberontakan’ perempuan oleh kaum laki-laki. Oleh karena itu diperlukan rekonstruksi program aksi dari perempuan oriented bergeser pada laki-laki oriented


PENGANTAR
Hari ini saya minta ijin pada ketua program studi untuk tidak ngantor karena ada kegiatan seminar di Malang. Saya sengaja berangkat agak pagi dari Surakarta dengan menggunakan Bus Eka, harapan saya tidak terlalu malam sampai di Malang. Di dalam bus kebetulan saya satu kursi dengan seorang wanita muda dan kelihatan energik, rupanya dia ini seorang aktifis perempuan yang lumayan terkenal. Kami ngobrol ngalor ngidul namun paling banyak topik pembicaraan kami tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki. Saya hanya menempatkan diri sebagai ‘pendengar setia’ dengan sesekali menimpali, karena terus terang, sebenarnya saya tidak banyak mengerti dan tahu mengenai per-genderan ini.

Dari cerita ‘tokoh kita’ ini, saya dapat menyimpulkan seolah-olah dia ‘menghakimi’ saya, sebagai wakil dari laki-laki (pada saat itu kebetulan saya duduk di sisinya) sebagai satu-satunya ’tertuduh’ yang harus ’bertanggungjawab penuh’ terhadap keterpurukan perempuan di masa lalu dan saat ini. Dia juga bercerita tentang kegiatan-kegiatannya selama ini dalam ‘menyadarkan’ perempuan tentang hak-haknya, serta akibat-akibat yang dihadapinya, seperti diancam akan dibunuh oleh seorang laki-laki gara-gara ‘membela’ seorang wanita korban perkosaan. Di intimidasi oleh suami wanita yang didampingi karena KDRT. Terus terang, saya luar biasa kagum dengan teman satu bangku dalam perjalanan saya hari ini.

Sesampai di Malang saya merenung sejenak, ”apakah benar ‘laki-laki’ harus bertanggungjawab terhadap keterpurukan perempuan?”, ”mengapa kegiatan ‘penyadaran’ perempuan akan hak-haknya seringkali mendapatkan ‘perlawanan’ dari kaum laki-laki dan masyarakat?”. Dengan ‘cara berpikir laki-laki’ saya mencoba mencari jawaban pertanyaan pertama, agaknya laki-laki tidak bisa dipersalahkan seluruhnya, karena sikap laki-laki pada jaman dulu dan sebagian pada masa sekarang sesungguhnya dibentuk oleh lingkungan dan budaya dimana mereka dibesarkan. Jawaban pertanyaan yang kedua ‘rupanya’ kegiatan penyadaran gender selama ini titik tekannya lebih terorientasi pada perempuan. Sehingga menimbulkan penolakan pada sisi laki-laki. Selain itu kunci sukses keberhasilan program ’penyetaraan’ perempuan dan laki-laki adalah keberhasilan dalam mendispute produk lingkungan dan budaya masyrakat yang dianggap keliru. Produk lingkungan dan budaya masyarakat dimaksud adalah sikap dan perilaku masyarakat terhadap perempuan. .

LINGKUNGAN DAN BUDAYA MASYARAKAT
Menyalahkan laki-laki sebagai ’biang kerok’ ketidak setaraan gender agaknya kurang bijaksana, demikian juga menyalahkan perempuan yang terlalu ’nrimo’ terhadap ’dominasi’ laki-laki juga kurang bijaksana. Karena sikap dan perilaku demikian sesungguhnya sebagian besar dibentuk oleh lingkungan dan budaya masyarakat. Seperti kita ketahui bersama hampir disemua wilayah di negara kita lingkungan dan budaya masyarakat menempatkan laki-laki lebih ’superior’ di bandingkan dengan perempuan, ada anggapan umum bahwa perempuan hanya berurusan dengan dapur, kasur dan sumur alias urusan-urusan domestik. Bahkan seandainya pun seorang suami mengijinkan istrinya bekerja untuk membantu mencari nafkah, ’kewajiban’ di atas (dapur, sumur, kasur) tetap menjadi urusan istri (perempuan), memang terasa sangat tidak adil, beban perempuan menjadi berlipat.

Jika hal tersebut ’dilanggar’ ada anggapan ’tidak resmi’ di masyarakat bahwa laki-laki tersebut dikelompokkan dalam golongan lelaki takut istri, anggapan ini terbentuk dari lingkungan dan budaya masyarakat. Terkait dengan hal ini saya teringat pada cerita sahabat saya, dia terancam bercerai dengan suaminya gara-gara permasalahan ini. Ceritanya sebagai berikut, sahabat saya ini seorang perempuan, bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, semasa lajang dia mengenyam pendidikan S2 di Amerika Serikat, setelah pulang studi sahabat saya ini menikah dengan seorang laki-laki yang kebetulan juga kawan saya, seorang guru SMA negeri di Malang. Suatu hari karena kesibukannya sahabat perempuan saya meminta suaminya memasak dan mencuci pakaian. Si suami sebenarnya tidak berkeberatan. Ketika si suami mencuci pakaian, tiba-tiba ibu dan bapak si suami datang, melihat anaknya sedang mencuci pakaian sedangkan istri anaknya sedang ’membaca buku’, marah besarlah mereka, semua sumpah serapah khas jawa timuran keluar dengan fasih dari mulut ibu dan bapak si suami. Mereka menganggap menantunya telah menginjak ’harga diri’ anaknya sebagai laki-laki. Ujung-ujungnya mereka mendesak anak laki-lakinya menceraikan sahabat perempuan saya ini, dan sampai sekarang permasalahan ini masih belum selesai.

Mengapa permasalahan ini muncul?, siapa yang salah dalam hal ini?, kalau kita mau berpikir secara ’jernih’ kita bisa menyalahkan atau membenarkan sahabat saya yang meminta suaminya memasak dan mencuci pakaian, kita juga dapat menyalahkan atau membenarkan Ibu dan Bapak suami sahabat saya yang menganggap sahabat perempuan saya telah ’menginjak-injak’ harga diri kelelakian anaknya. Semua tergantung dari ’kaca mata’ mana kita melihat. Sahabat perempuan saya menganggap apa yang ia lakukan pada suaminya bukan dimaksudkan untuk ’menginjak-injak’ kelelakian suaminya (paling tidak itu yang diceritakan saat curhat pada saya), bagi sahabat perempuan saya, laki-laki dan perempuan itu ’sejajar’ ada urusan-urusan yang merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri, seperti memasak, mencuci, merawat anak, dsb. Ada juga urusan yang berkaitan dengan ’kodrat’ perempuan sebagai perempuan seperti melahirkan dan menyusui anak. Sedangkan di kubu lain yang berlawanan (Bapak dan Ibu suami sahabat perempuan saya) apa yang dilakukan sahabat perempuan saya kepada suaminya ini, jelas-jelas tontonan vulgar tentang adegan ’pelecehan’ kelelakian anaknya, karena budaya dan lingkungan mereka mengajarkan bahwa memasak dan mencuci pakaian adalah tugas seorang istri bukan suami. Nah...jadi repotkan...

Ada cerita lain tentang sahabat laki-laki saya, saat ini beliau bersama-sama dengan saya sedang berjuang menyelesaikan program doktor, beliau bercerita sambil tertawa-tawa, sejak istrinya aktif di organisasi Darmawanita di kampusnya, sekarang istrinya sudah tidak mau lagi membuatkan kopi setiap pagi, karena istrinya menganggap membuat kopi bukanlah kewajiban seorang istri, akhirnya sahabat saya ini sering uring-uringan di rumah.

Mencermati dari beberapa contoh kasus yang dialami sahabat saya agaknya diperlukan rekonstruksi dalam program ’penyetaraan’ perempuan dan laki-laki.

REKONSTRUKSI PROGRAM AKSI
Program Aksi Tidak Hanya Perempuan Oriented Tetapi yang Lebih Penting adalah Laki-Laki Oriented

Saya tidak terlalu expert dalam kegiatan per-genderan, namun dari pengamatan saya, selama ini program aksi ’penyadaran’ kesetaraan gender rupanya lebih menitik beratkan pada program penyadaran perempuan tentang hak-haknya mengenai kesetaraan dengan laki-laki. Program ini dianggap tepat karena sesuai dengan sasaran aksi yaitu sikap dan perilaku yang benar oleh perempuan tentang kesetaraan gender. Namun demikian, bukan berarti hal ini tidak mengakibatkan dampak negatif, program aksi yang hanya terorietasi pada perempuan namun melupakan sisi laki-laki hanya akan menimbulkan masalah baru. Ketika perempuan mempunyai kesadaran, sikap yang benar mengenai kesetaraan gender dan kemudian diimplementasikan dalam bentuk perilaku dalam kehidupannya akan dianggap sebagai ’pemberontakan’ perempuan oleh kaum laki-laki. Agaknya cerita kawan satu kursi dalam seperjalanan saya ke malang (yang saya ceritakan sebelumnya) adalah produk dari program aksi yang lebih women oriented.

Untuk meminimalisir terjadinya ’pertempuran’ antara kaum perempuan dan laki-laki mengenai hal ini, agaknya mendesak diperlukan rekonstruksi program aksi dari perempuan oriented bergeser pada laki-laki oriented. Mengapa saya berpikir demikian?, budaya dan lingkungan kita menempatkan laki-laki lebih ’superior’ dari pada perempuan, menurut hemat saya yang lebih mendesak untuk dilakukan adalah ’menyadarkan’ para laki-laki ini, bahwa sesungguhnya mereka tidak lebih tinggi (setara) dengan perempuan. Jika program aksi ini berhasil dengan baik maka para laki-laki otomatis akan memberikan hak-hak perempuan yang telah ’dirampasnya’ karena tuntutan lingkungan dan kebudayaan tentunya.

Kunci Keberhasilan Program Aksi Adalah Mendispute Produk Lingkungan dan Budaya Pada Masyarakat yang Dianggap Tidak Benar

Menurut hemat saya kunci keberhasilan program aksi adalah terletak pada berhasil tidaknya para aktivis gender dalam mendispute produk lingkungan dan budaya masyarakat yang tidak benar dalam memandang perempuan, hal ini tercermin pada sikap dan perilaku masayarakat terhadap perempuan. Merubah hasil lingkungan dan budaya yang sudah menjadi sikap dan perilaku yang menetap bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan program aksi yang bukan hanya sekedar terorientasi pada pengetahuan saja, karena secara teoritis pengetahuan tidak banyak sumbangan efektifnya terhadap sikap dan perilaku, apa lagi sikap dan perilaku tersebut sudah menetap dalam jangka waktu yang lama dan bahkan telah diyakini sebagai sebuah kebenaran.

Dalam teori pendidikan yang saya dalami, sebenarnya kita dapat merubah persepsi, sikap dan perilaku siswa mengenai sebuah miskonsepsi yang telah diyakini kebenarannya oleh siswa, yaitu dengan menghadapkan (mengcounter) anggapan keliru siswa dengan anggapan yang benar, misalkan anggapan keliru bahwa HIV/AIDS adalah penyakit kutukan bagi orang yang berdosa, kita dapat menghadaptkan pada siswa tentang fakta lain misalnya, ada bayi yang tidak berdosa tertular HIV karena Ibunya mengidap HIV dan ibunya ini sebenarnya orang baik yang tertular oleh suaminya yang nakal. Para ahli pendidikan biasa menyebutnya dengan nama konflik kognitif. Menurut hemat saya cara-cara semacam ini dapat diadopsi dalam kegiatan program aksi daripada sekedar penyuluhan yang hanya terorientasi pada pengetahuan.

Dan satu lagi, mungkin kita harus mau belajar dengan ’Pak Harto’ tentang keberhasilan kampanye keluarga berencana yang berhasil mendispute anggapan, sikap dan perilaku masyarakat yang meyakini bahwa dengan banyak anak banyak rejeki, kemudian lewat program Keluarga Berencana (KB) angggapan tersebut dapat ’dijugkir balikkan’ dengan mudah. Kunci keberhasilan dari program ini adalah pelibatan tokoh-tokoh masyarakat, seperti kiai-kiai dll.



Malang, Awal Juli 2008