Jumat, 20 Maret 2009

PERLUNYA REORIENTASI PARADIGMAPEMBELAJARAN
BIOLOGI DI SEKOLAH


Oleh:
Cak Baskoro


Mengapa saya hanya menyoroti hal ini?, sungguh dalam tulisan ini, tidak pernah terlintas dalam hati dan benak saya untuk mendeskreditkan guru sebagai biang keladi munculnya permasalahan di atas. Tulisan ini harus dimaknai sebagai oto-kritik bagi kita, sebagai dasar bagi kita dalam membenahi diri guna perbaikan dimasa mendatang


Sebuah Pengantar: Fenomena Pembelajaran Biologi Kita Saat ini
Pembelajaran biologi di sekolah sering mendapat kritikan. Dibandingkan dengan matapelajaran sains lainnya, nilai matapelajaran biologi memang relatif lebih tinggi, namun masih banyak persoalan yang cukup mengganggu dan merisaukan hati saya, terutama pada pergeseran orientasi belajar siswa, yang terjebak kepada kegiatan menghafal ‘produk’ biologi. Ada kecenderungan siswa hafal di luar kepala konsep-konsep biologi namun mereka tidak memahami makna dari sebuah konsep yang mereka hafal. Ada sebuah ilustrasi menarik terkait dengan hal ini, saya pernah berkolaborasi dengan guru sekolah menengah dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (classroom action research) di sebuah kota, setelah saya beberapa kali ikut terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, ada sebuah fakta yang menurut saya sangat menarik untuk dicermati “ketika guru menanyakan pada siswa-siswanya tentang apa yang dimaksud dengan simbiosis mutualisme, sebagian besar siswa dapat menjawab dengan benar, ketika guru meminta siswa memberikan contoh simbiosis mutualisme, semua siswa menjawab burung jalak dengan kerbau, persis seperti yang tertulis dalam buku paket mereka saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Sifat iseng saya muncul, saya meminta siswa memberikan contoh lain selain burung jalak dengan kerbau yang telah mereka sebutkan sebelumnya, saya sangat terkejut, ternyata semua siswa tidak ada yang bisa menjawab”. Hal ini mengindikasikan bahwa ada kecenderungan siswa hanya belajar menghafal konsep tanpa usaha untuk memahaminya.

Mengapa Permasalahan Itu Muncul?
Idealnya mengurai akar masalah dari fenomena di atas diperlukan kajian yang komprehensif dan tidak parsial apalagi reduksionis. Kita harus mengurai setiap ‘benang kusut’ ini mulai dari gnosis sampai praksis. Namun kali ini saya hanya menyoroti hanya dari sisi proses dan terutama terbatas pada kekurangtepatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam membelajarkan biologi. Mengapa saya hanya menyoroti hal ini?, sungguh tidak pernah terlintas dalam hati saya, tulisan ini untuk menyalahkan apalagi mendeskreditkan guru sebagai biang keladi munculnya permasalahan di atas. Tulisan ini hendaknya dimaknai sebagai otokritik bagi kita sebagai dasar dalam refleksi diri guna perbaikan pendidikan di negara kita tercinta.

Bila kita mau jujur mengakui, munculnya permasalahan di atas salah satunya disebabkan oleh kekurangtepatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam membelajarkan biologi. Ada kecenderungan guru ‘memandang’ biologi hanya sebagai kumpulan produk sains dan melupkan aspek lain dari biologi sebagai proses sains. Pembelajaran biologi di sekolah sampai saat ini masih terpaku pada paradigma penelusuran informasi dan melupakan aspek lain dari pembelajaran. Akibat dari pandangan yang kurang tepat ini, guru biologi tak ubahnya seperti guru sejarah yang sedang membelajarkan ‘sejarah’ biologi pada siswa-siswanya. Keberhasilan pembelajaran biologi dinilai hanya dari banyaknya fakta yang berhasil dihafalkan oleh siswa. Guru cenderung membelajarkan biologi hanya terorientasi pada isi pelajaran (content based) dengan strategi pembelajaran yang kental bernuansa teacher centered.

Keadaan di atas, kemudian diperparah oleh fakta bahwa guru biologi mengajarkan biologi dengan menggunakan buku paket pelajaran mereka seperti menggunakan buku resep masakan, mereka mengajarkan halaman-perhalaman sesuai dengan yang tertulis dalam buku paket mereka, tanpa berusaha menganalisis, mengkritisi isi buku tersebut yang sebenarnya sebagian besar cenderung mekanistik, strukturalistik bahkan utopis. Konsekuensi logis dari hal ini siswa cenderung belajar menghafal fakta tanpa melibatkan penalaran mereka. Dalam keadaan seperti ini sebenarnya tidak ada beda siswa dengan burung beo.

Terkait dengan hal ini, sebenarnya pemerintah sudah berusaha melakukan berbagai hal, baik melalui kegiatan in service training maupun kegiatan-kegiatan yang lainnya, namun ada kecenderungan hal ini bertolak belakang dengan apa yang telah dibekalkan kepada mereka sebelumnya. Saya pernah terlibat beberapa kali dalam kegiatan-kegiatan semacam ini. Dalam setiap kegiatan saya sering iseng menanyakan alasan mereka (baca: guru) cenderung memilih pendekatan pembelajaran yang kurang tepat, berdasarkan jawaban-jawaban tersebut, paling tidak saya dapat mengklasifikasikan dua alasan yang sering dilontarkan oleh guru yaitu; 1) keterkaitan permasalahan content matapelajaran yang harus disampaikan oleh guru dengan alokasi waktu yang disediakan oleh kurikulum, 2) mis-mindset guru terhadap istilah mengajar, guru mengartikan mengajar adalah memposisikan dirinya sebagai satu-satunya penyampai informasi tunggal bagi siswanya, mengajar adalah kegiatan mentransfer/meng copy paste pengetahuan dari otak/pikiran guru ke otak/pikiran siswa, ada perasaan tidak mengajar kalau tidak ceramah.

Terkait dengan hal di atas, jadi jangan heran jika siswa-siswa kita, dilaporkan oleh bebearapa penelitian; rendah dalam kemampuan berpikir, kesadaran diri atas tanggungjawabnya sebagai siswa sangat rendah, ketrampilan sosialnya rendah. Sementara itu, menurut Ball (2005) di era informasi seperti saat ini, satu-satunya cara agar sebuah bangsa tidak tergilas oleh roda perubahan zaman adalah membekali semua elemen bangsa agar terampil dalam memecahkan masalah, berpikir tingkat tinggi, dan kemampuan metakognisi.

Perlunya Reorientasi Paradigma Pembelajaran Biologi
Seperti telah saya diuraikan sebelumnya, menurut saya dipandang mendesak untuk segera dilakukan pergeseran (re-orientasi) paradigma dalam pembelajaran biologi, yaitu; 1) pergeseran pandangan dari menempatkan biologi secara parsial yaitu hanya sebagai kumpulan produk sains yang harus dihafalkan oleh siswa menjadi pandangan yang lebih komprehensif dan holistik, yaitu mendudukkan kembali pembelajaran biologi seperti hakikat asli ilmu biologi, yaitu memandang biologi sebagai produk dan proses. Pergeseran ini tentu saja menuntut re-orientasi pembelajaran biologi yang tidak hanya terorientasi pada produk tetapi juga memberdayakan ketrampilan-ketrampilan lain yang selayaknya dimiliki oleh seorang saintis (ketrampilan proses sains), 2) menggeser paradigma pembelajaran dari ásumsi tersembunyi bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari otak/pikiran guru ke otak/pikiran siswa, menuju pembelajaran yang lebih memberdayakan seluruh aspek kemampuan siswa, 3) menggeser paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa, belajar mandiri dan pemahaman diri , 4) menggeser dari belajar menghafal konsep menuju belajar menemukan (inkuiri) dan membangun sendiri (mengkonstruksi) konsep, 5) menggeser dari belajar individu klasikal menuju pembelajaran kolaboratif-kooperatif yang tidak hanya mengajari siswa terampil berpikir namun juga mampu mengajarai siswa ketrampilan sosial.

Reorientasi Paradigma Pembelajaran Biologi Sebuah Keniscayaan
Kegagalan kegiatan-kegiatan mengubah miss-mindset guru dalam pembelajaran, menurut hemat saya, sebagian besar disebabkan oleh kekurang tepatan strategi ‘sosialisasi’ yang selama ini lebih di dominasi oleh kegiatan-kegiatan penataran-penataran yang sangat kental bernuansa ‘proyek’. Ada kecenderungan setelah guru mengikuti kegiatan-kegiatan penataran, ketika mereka kembali ke sekolah “perilaku’’ mengajar mereka tidak berbeda dengan sebelum mereka berangkat penataran. Pertanyaannya mengapa hal ini terjadi?, menurut hemat saya hal ini disebabkan karena kesalahan memandang mereka (baca; guru) sebagai objek, mereka tidak pernah dilibatkan dalam usaha mengkonstruksi sendiri usaha-usaha memecahkan permasalahan riil pembelajaran mereka sendiri di dalam kelas. Pendekatan pelatihan-pelatihan yang cenderung bersifat ‘top-down’ yang kadang kala tidak relevan dan sesuai permasalahan riil di lapangan menjadikan kegiatan-kegiatan pelatihan menjadi tidak bermakna bagi guru dan bahkan cenderung terkesan hanya menghambur-hamburkan uang.

Dalam pikiran saya, reorientasi paradigma pembelajaran biologi di maksud adalah sebuah usaha mengubah mindset (pola pikir), mengubah sebuah mindset bukanlah pekerjaan mudah, apalagi jika miss-mindset ini sudah terlanjur dianggap sebagai sebuah kebenaran. Dibutuhkan usaha lebih dari sekedar kegiatan-kegiatan penataran dan seminar-seminar. Kegiatan ini harus bermuara pada perubahan (pergeseran) perilaku guru dalam membelajarkan biologi di kelas.

Menurut saya, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membekali guru kemampuan secara mandiri untuk memecahkan setiap permasalahan pembelajaran di dalam kelas. Mendesak untuk segera “dibentuk’’ sebuah komunitas belajar di sekolah. Komunitas belajar ini dengan melibatkan beberapa pihak yaitu, guru, siswa, teman sejawat,orang tua siswa, ahli pendidikan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Guru harus dibiasakan secara kolaboratif merumuskan tujuan pembelajaran, tujuan pengembangan siswa, merancang pembelajaran, melaksanakan dan mengamati pembelajaranya, mendiskusikan dengan berbagai pihak yang terkait untuk kemudian menyempurnakan dan membelajarkannya lagi, atau jika perlu membuka ‘pintu’ kelasnya untuk orang lain melihat, mengamati pembelajarannya di dalam kelas, hal ini akan membantu guru mendapatkan masukan yang jujur dari orang lain tentang pembelajarannya di dalam kelas. Pembiasaan-pembiasaan kegiatan reflektif semacam ini diharapkan akan menjadikan sebuah kebiasaan, yang pada giliranya perubahan mindset akan menjadi sebuah keniscayaan.


Bagaimana menurut pendapat sampean?


Malang- Surakarta,
Sabtu 21 Maret 2009


Salam
Baskoro Adi Prayitno

Sabtu, 28 Februari 2009

BELAJAR MEMAHAMI SATU SAMA LAIN

BELAJAR MEMAHAMI SATU SAMA LAIN

Oleh:
Cak Baskoro

Menurut saya pemahaman bukanlah berdalih maupun menuduh, melainkan mengajarkan pada kita bagaimana menahan diri agar tidak lekas-lekas menyalahkan orang lain, seolah-olah kita steril dari kesalahan….


Tulisan ini berawal dari obrolan dari orang-orang kelebihan waktu di warung angkringan pinggir jalan, dengan hanya bermodalkan satu gelas JKJ hangat (Jahe, Kencur, Jeruk) seharga tiga ribu rupiah ngobrol ngalor-ngidul sampai tengah malam, bahkan kadang menjelang pagi, tidak pulang kalau tidak diusir penjaga warung (he..he..). Topik obrolan dari soal Tuyul sampai dengan masalah-masalah yang agak berat sampai super berat. (tapi yang sering topik pembicaraan sangat tidak berat he…he…)

Topik obrolan malam ini, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba membicarakan bagaimana memahami satu sama lain (mungkin karena sebagian besar dari kami adalah orang-orang yang jauh dari keluarga, yang bermasalah dengan masalah dipahami dan memahami…he…he…). Namun dalam tulisan ini, saya tidak hendak membicarakan bagaimana tips dan trik memahami dalam konteks keluarga yang saling berjauhan (karena saya juga sulit untuk paham dan memahami…he..he..). Saya mencoba membicarakan dalam konteks yang lebih luas “rumah kita” (baca: bangsa…wuihhhh…tingginya he..he..)

Saya pikir masalah memahami merupakan masalah yang sangat penting bagi kita. Barang kali Banyak dari kita percaya bahwa kata kunci dari memahami adalah komunikasi, di sisi lain planet ini -saat ini- dipenuhi dengan jaringan, telepon seluler, fax,internet dan alat komunikasi lainnya, pun demikian kesalahpahaman toh masih terus terjadi. Kenyataan ini menyadarkan saya bahwa ‘memahami’ tidak dapat digitalkan walaupun dengan menggunakan alat komunikasi yang super canggih sekalipun.

Konflik vertical dan horizontal di ‘rumah kita’ ini sebagian besar berakar dari ketidakmauan kita (kalau tidak boleh dikatakan ketidakbisaan) memahami satu sama lain. Permasalahan ini menurut saya merupakan masalah yang sangat besar, dan masalah ini adalah tanggung jawab dari sistem pendidikan kita. Mengajarkan dasar-dasar Biologi, Fisika dan ilmu-ilmu lainnya kepada anak didik merupakan masalah penting. Mengajarkan bagaimana memahami satu sama lain menurut saya adalah esensi spiritual pendidikan yang sejati/hakiki. Mengajarkan memahami satu sama lain kepada anak didik sebenarnya adalah melindungi moral kemanusiaan yang menjadikan jelas batas dan perbedaan kita dengan binatang.

HAKIKAT PEMAHAMAN
Memahami (comprehend) menurut Morin, berarti memahami bersama-sama secara intelektual. Pemahaman bekerja melalui inteligibilitas dan penjelasan. Penjelasan mengimpilikasikan adanya pertimbangan terhadap suatu objek. Pun demikian pemahaman itu melampaui penjelasan (pusing ya…he..he.. sama..he..he..). Penjelasan gampangnya kurang lebih begini “ketika saya melihat seorang anak kecil menangis, saya tidak akan memahami kesedihanya dengan hanya mengukur dan mengidentifikasi kandungan kimiawi yang ada pada air matanya, untuk memahaminya saya harus menggali dan menemukan kesedihan masa kecil saya sendiri, saya harus menempatkan dirinya sebagai diri saya dan saya sebagai dia. Kita harus menempatkan diri kita sebagai orang lain, dan orang lain sebagai diri kita, ego alter harus di ubah menjadi alter ego. Kata kunci dari konsep pemahaman ini adalah empati, simpati dan kemurahan hati.

PENYEBAB SULIT MEMAHAMI SATU SAMA LAIN
Sedikitnya ada tiga penyebab hambatan-hambatan internal terkait dengan sulitnya memahami satu sama lain, yang pada prinsipnya penyebab-penyebab tersebut mengantarkan kita pada perasaan menjadi satu-satunya seseorang di pusat dunia dan menganggap yang lainnya sebagai sesuatu yang sekunder bahkan tersier, tidak bermakna, kecil tak berarti, sebutir debu, numpang hidup dan musuh. Penyebab tersebut antara lain adalah;

Egosentrisme
Egosentrisme adalah kata lain dari pembenaran diri, pemujaan diri dan kecenderungan menimpakan penyebab semua kesalahan pada orang lain, hanya kitalah yang paling benar. Kita merendahkan perkataan dan perbuatan orang lain, kita memilih apa saja yang tidak disukai dan menolak apa yang disukai orang lain, kita hanya memilih kenangan yang menyenangkan dan menolak kenangan yang tidak menyenangkan, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengkritik diri sendiri sehingga kita terbenam dalam alasan-alasan paranoid menyalahkan orang lain. Kita berpura-pura tidak pernah gagal dan lemah mengakibatkan kita tidak berbelas
kasihan terhadap kelemahan dan kegagalan orang lain.

Etnosentrisme dan Sosiosentrisme
Etnosentrisme dan sosiosentrisme menurut Morin penyebab utama terjadinya xenophobia dan rasisme yang berujung pada memperlakukan orang lain seolah-olah bukan manusia bahkan lebih rendah dari binatang. Hasil dari etnosentrisme dan sosiosentrisme adalah prasangka, rasionalisasi berdasar premis ngawur, pembenaran diri tanpa dasar, ketidakmampuan mengkritisi diri sendiri, penalaran paranoid, kesombongan, penghinaan, dan caci maki.

Pemikiran Reduktif
Terkait dengan hal ini filosof Hegel mengungkapkan ‘pemikiran yang abstrak akan memandang seorang pembunuh hanya dari kualitas abstraknya (yang terpisah dari akar permasalahannya), dan dengan cara pandang tersebut ‘memusnahkan’ sisa kemanusiaanya. Ketika sebuah pengetahuan mengenai sesuatu yang kompleks kemudian disempitkan(direduksi) menjadi satu unsur saja, dan unsur ini dianggap sebagai satu-satunya element paling penting, konsekuensi logisnya maka pemahaman akan sebuah pengetahuan akan berubah dari ujud aslinya, seperti yang dicontohkan oleh Hegel ketika kita membatasi (mereduksi) seorang manusia hanya dari sisi kejahatannya saja maka akan mengantarkan kita pada sikap prejudis dan memandang rendah orang lain.

BAGAIMANA MENDORONG TIMBULNYA PEMAHAMAN
Menurut saya pemahaman bukanlah berdalih maupun menuduh, melainkan mengajarkan pada kita bagaimana menahan diri agar tidak lekas-lekas menyalahkan orang lain, seolah-olah kita steril dari kesalahan. Bagaimana kita dapat mendorong timbulnya pemahaman?

Introspeksi Diri
Introspeksi mempunyai arti memahami kelemahan dan kegagalan diri. Jika kita menyadari bahwa kita semua bisa dan pernah berbuat salah, rapuh, dan tidak sempurna akan mengantarkan kita pada pemahaman bahwa semua dari kita sama-sama membutuhkan pemahaman, tidak selayaknya kita memposisikan diri sebagai hakim atas segala sesuatu.

Keterbukaan Terhadap Sesama
Memahami orang lain menuntut adanya kesadaran akan kompleksitas manusia, kita harus menyadari bahwa manusia tidak boleh direduksi sebatas bagian kecil darinya atau bagian terburuk dari masa lalunya. Kita mengenal Anton Medan mantan preman menjadi ustad besar. Seseorang yang melihat jijik terhadap gelandangan di jalanan sesungguhnya telah mereduksi manusia hanya dari sebuah penampilannya.

Toleransi
Toleransi menurut Voltaire adalah sesuatu yang membuat kita menghormati hak orang lain untuk mengungkapkan hal-hal yang kita anggap tidak pantas, bukan karena kita menghargai hal yang tidak pantas itu, melainkan karena kita menghindari perbuatan mengucilkan orang tersebut dengan memaksakan pandangan kita terhadap kepantasan. Toleransi adalah sesuatu menghargai ungkapan pendapat yang bertentangan dengan pendapat kita. Toleransi adalah kesadaran ada kebenaran dalam ide yang bersebrangan dengan ide kita, dan ide itu adalah kebenaran yang harus kita hormati. Namun toleransi itu hanya berlaku untuk suatu ide, bukan
untuk serangan, anarkisme dan pembunuhan.

Bagaimana Pendapat Sampean….?


Malang, Sabtu, 28 Februari 2009
Mendadak Wise…he..he…


Salam

Baskoro Adi Prayitno
sedang belajar untuk memahamiRata Penuh

Sabtu, 14 Februari 2009

Pengembangan Karakter dan Pendidikan Kita

PENGEMBANGAN KARAKTER DAN PENDIDIKAN KITA


Oleh:
Cak Baskoro


Jika kita lihat dari ’kaca mata’ ini, saya mendapat kesan pendidikan watak di sekolah kita benar-benar kacau dan amburadul, terkesan kita tidak benar sunguh-sungguh melaksanakan pendidikan watak. Jadi jangan ngomong lagi tentang pendidikan watak.... Jangan Ngomong Lagi tentang Nation and Caracter Building, karena kita sendiri yang telah mencampakannya dalam tong sampah…untuk jadi santapan Anjing!!!


Saya sungguh merasa sangat sedih dan perihatin melihat berbagai peristiwa yang secara berulang ditulis dan ditayangkan oleh media massa, seolah-olah ‘dirumah kita’ tercinta ini sudah tidak ada hari tanpa ‘kekerasan’, tiada hari tanpa demonstrasi yang diakhiri dengan anarkhisme. Kita dulu dikenal sebagai bangsa yang sopan dan ramah, kini berubah menjadi bangsa yang beringas dan mudah marah tidak ada bedanya dengan sosok penyandang kelainan retardasi mental, yang cenderung akan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Baru saja saya melihat tayangan di televisi tentang demonstrasi anarkhis berujung pada kematian ketua DPRD Sumut terkait dengan pembentukan propinsi tapanuli.

Terkait dengan hal ini, saya berpikir pasti ada yang salah, atau paling tidak ada sesuatu nilai-nilai yang dulu pernah kita miliki tergerus (kalau tidak bisa dikatakan hilang sama sekali) dari diri kita, dan nilai-nilai ini merupakan nilai-nilai vital yang mengantarkan kita kepada kebijaksanaan memahami dan menerima segala perbedaan.

Saya teringat dengan ucapan Bung Karno, bahwa bangsa ini perlu membangun watak bangsa (caracter building), terlepas ucapan Bung Karno itu dalam konteks politik, namun paling tidak ucapan itu menyadarkan kita bahwa keragaman ‘di dalam rumah kita’ berpotensi menjadi bom waktu yang siap meledak, ketika watak bangsa ini tidak diperhatikan dan digarap dengan baik.

Ungkapan tentang character building saat ini, sering kali kita dengar, diucapkan para politisi, birokrat, pemimpin organisasi, dengan teori yang ‘berbusa-busa’, mengenai tentang pentingnya pendidikan karakter untuk ‘merehabilitasi’ modal sosial yang telah tergerus dari diri kita. Namun bagi saya, ungkapan-ungkapan ini sudah klise kosong, nyaris tak bermakna. Saat ini, kalau saya mendengar orang mengucapkan kata-kata tersebut, berlalu begitu saja tidak pernah singgah di dalam otak apalagi hati saya (kalau tidak boleh dikatakan muak).

Barangkali sampean menganggap saya seorang pesimistis yang selalu menilai negatif terhadap sesuatu. Untuk beberapa hal, penilaian sampean barangkali benar. Namun yang perlu sampean ketahui pesimistis saya bukan tanpa alasan.

Ketika ungkapan tentang pengembangan karakter diucapkan oleh Bung Karno dan Ki Hadjar Dewantoro dari taman siswa, ungkapan ini begitu meninggalkan bekas yang mendalam dalam hati saya. Ungkapan itu begitu menghidupkan harapan besar dalam hati saya. Saya teringat bagaimana Ki Hadjar Dewantoro memaknai kata tersebut dalam konteks pedagogik –bagaimana cara mendidik anak di sekolah agar selain pintar juga menjadi manusia yang berkarakter-, yang kemudian kita kenal dengan konsep cipta, rasa dan karsa.

Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Kita Saat Ini
Barangkali banyak dari sampean sepakat masalah caracter building masih merupakan permasalahan besar bahkan sangat amat besar. Segala penyimpangan, penyelewengan dan kebobobrokan yang kita rasakan saat ini lahir dari lemahnya karakter (watak) pada diri kita. Saya kadang kala berpikir barangkali Machiaveli benar mengatakan bahwa ’orang baik akan hancur oleh sekelompok orang yang tidak baik’. Namun hati kecil saya percaya bahwa orang baik dan jujur masih cukup banyak di negara ini, namun saat ini mereka tidak berdaya mengahadapi kelompok kecil manusia Indonesia yang korup yang bersembunyi pada kekuaasaan atau membonceng pada kekuasaan.

Pertanyaannya adalah; mengapa karakter (watak) kita lemah?, apakah kita tidak pernah mendapatkan pendidikan watak?, apa yang salah dengan pendidikan watak kita?, Jawabanya Banyak Sekali...!!, jawaban inilah yang mendasari pesimisme saya. Marilah kita uraikan satu persatu permasalahan-permasalahan terkait dengan pendidikan watak?.

Pesan pendidikan watak barangkali dititipkan pada pelajaran agama, pelajaran kewarganegaraan, atau barangkali malah pelajaran budi pekerti. Sekarang marilah kita lihat apa yang diajarkan oleh pelajaran-pelajaran tersebut?, kita harus jujur mengakui bahwa program utamanya hanya terorientasi pada nilai-nilai kognitif semata, atau paling luar biasa, sedikit menyentuh sampai pada aspek afektif. Pendidikan watak seharusnya tidak hanya berhenti sampai pada aspek itu saja, yang lebih penting dari itu adalah kearah pembentukan perilaku. Pendidikan watak harus dimulai dari gnosis sampai praksis istilah pedagogiknya..

Di sisi lain secara teoritis, seorang ahli ilmu psikologi Fishbein meyatakan sumbangan efektif pengetahuan (kognitif) dan sikap (afektif) terhadap perilaku sangatlah kecil, seringkali terjadi inkonsistensi pengetahuan, sikap dengan perilaku seseorang. Untuk memperkuat argumen ini saya ambil contoh kasus ’saya seorang perokok, saya tahu tentang bahaya merokok, seandainya saya diberikan test pengetahuan dan sikap tentang bahaya rokok saya yakin mendapat nilai yang baik, namun mengapa sampai saat ini saya tetap merokok

Mengantarkan anak sampai pada tahap praksis (pembentukan perilaku) tidaklah semudah meningkatkan aspek kognitif dan afektif, ada satu peristiwa batin yang amat penting yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu keinginan yang sangat kuat untuk mengamalkan nilai, perasaan merasa mempunyai harga diri yang tinggi setelah mengamalkan nilai. Oleh Ki Hadjar Dewantoro diterjemahkan dengan cipta, rasa dan karsa. Maqom tertinggi keberhasilan pendidikan watak adalah kesukarelaan anak untuk mengikatkan diri pada nilai (voluntary personal commitment to values).

Sekarang marilah kita lihat cara bangsa ini melaksanakan pendidikan watak?, karena pendidikan watak kita terorientasi pada aspek kognitif sedikit menyentuh aspek afektif, dan melupakan aspek praksis, maka segi evaluasi juga terorientasi pada aspek-aspek tersebut (kognitif sedikit afektif). Mengetahui kemajuan anak dari aspek kognitif sangatlah mudah di lakukan.

Jika kita lihat dari ’kaca mata’ ini, saya mendapat kesan pendidikan watak di sekolah kita benar-benar kacau dan amburadul, terkesan kita tidak benar sunguh-sungguh melaksanakan pendidikan watak. Marilah kita lihat, berapa mata pelajaran yang diujikan dalam UAN (terlepas pro dan kontra terhadap UAN), hanya tiga mata pelajaran, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah menganggap pendidikan watak bagi bangsa kita ini tidak penting?, kalau kita tanya kepada guru tentang pendidikan watak, mereka akan menjawab ‘soal-soal tentang karakter/watak kan tidak ditanyakan dalam UAN mengapa menghabiskan waktu untuk yang tidak perlu”. Kebijakan pendidikan kita telah ‘menganak tirikan’ (kalau tidak boleh dikatakan menguburkan) pendidikan watak.

Jadi... Jangan ngomong lagi tentang pendidikan watak.... Jangan Ngomong Lagi tentang Nation and Caracter Building..., karena kita sendiri yang telah mencampakkanya dalam tong sampah…untuk jadi santapan anjing !!!

Sebuah syair lagu Iwan Fals, yang menemani saya ketika menulis hal ini, patut jadi renungan....

Jangan Bicara Soal Nasionalisme...
.....................................................

Jangan Bicara Soal Keadilan....
....................................................

Marilah Kita Bicara Tentang.....

...................................................
Kita yang Lupa dengan Warna Bendera Kita Sendiri..


Bagaimana Menurut Sampean??...



Salam.
Baskoro Adi Prayitno

Srondol Semarang 11 Februari 2009
Pukul: 24.45
Dedicated To My Angel



Selasa, 06 Januari 2009

LAWAN KONDOMISASI GENERASI MUDA

LAWAN KONDOMISASI GENERASI MUDA...!!!


Tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Seperti tahun lalu, tahun 2008 ini KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional), BKKBN , dan DKT Indonesia dengan didukung oleh pemerintah dalam hal ini Menkokesra RI memperingatinya dengan menyelenggarakan “Pekan Kondom Nasional”. Kegiatan ini konon bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang penggunaan kondom sebagai alat Kesehatan dalam mengatasi penyebaran penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS.

Namun apakah kampanye memperkenalkan kondom yang sudah menjadi tradisi tahunan ini adalah langkah yang tepat untuk mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS yang mematikan tersebut?

LAWAN KONDOMISASI GENERASI MUDA

Setiap satu jam, seorang pemuda di Indonesia terjangkit HIV. Demikian menurut data Komisi Penanggulangan AIDS NAsional (KPAN). Menurut estimasi Departemen Kesehatan, hingga September 2008, jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sudah mencapai 21.151 kasus, yang terdiri dari 15.136 kasus AIDS dan 6.015 kasus HIV. Proporsi kelompok umur tertinggi kasus AIDS adalah pada usia 20-29 tahun sebesar 51,1%. Proporsi terbanyak pada kurun usia 20-29 tahun tersebut, mengimplikasikan bahwa terjadi transmisi dan penularan virus HIV pada kurun waktu 5-10 tahun sebelumnya yaitu pada usia 10-19 tahun. Data ini tentu sangat memprihatinkan, karena generasi muda yang berusia produktif paling rawan terhadap penularan virus yang sangat mematikan ini. Bila pemerintah dan kita sebagai elemen masyarakat tidak mengambil langkah yang tepat untuk menghentikan penyebaran virus yang saat ini sudah menjangkiti 32 propinsi yang ada di Indonesia, maka ke depan Indonesia akan mengalami “Lost Generations”.

Memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS) yang jatuh pada tanggal 1 Desember, KPAN, BKKBN, DKT Indonesia menggelar Pekan Kondom Nasional yang diadakan pada tanggal 1-7 Desember 2008. Kegiatan ini diawali dengan Konferensi Kondom pada tanggal 1 Desember 2008 di Hotel JW Marriot yang dibuka oleh Menkokesra, Ir. H. Aburizal Bakrie. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang penggunaan kondom sebagai alat kesehatan dalam mengatasi penyebaran Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV.

Namun, apakah kampanye memperkenalkan kondom yang sudah menjadi tradisi tahunan ini adalah langkah yang tepat untuk mengurangi penyebaran HIV/AIDS yang mematikan tersebut? Jawabannya adalah SAMA SEKALI TIDAK

Kampanye seperti ini justru bisa menimbulkan pemahaman yang salah terhadap penggunaan kondom yang nantinya malah meningkatkan penyebaran penyakit yang sudah menjangkiti 194 kabupaten di Indonesia.

Kondom tidak akan berpengaruh pada pengurangan penyebaran virus HIV/AIDS, karena:

  • Proses penularan virus HIV tertinggi adalah melalui penggunaan napza suntik (49,1 %) dan hubungan seksual 46,2 % (heteroseksual 42,1 % dan homoseksual 4,1 %). Jadi narkoba dan perilaku seks bebas adalah penyebab utama penyakit ini terus menyebar dan berkembang pesat di Indonesia;
  • Ukuran pori-pori kondom yang lebih besar dari ukuran virus HIV. Hasil penelitian mengenai ukuran kondom dan virus ini sebenarnya sudah tersebar luas. Namun ternyata tidak menjadi perhatian atau mungkin sengaja diabaikan oleh para aktifis penanggulangan HIV/AIDS. Data menunjukkan bahwa ukuran pori kondom adalah 1/60 mikron (dalam keadaan tidak merenggang) menjadi 1/6 mikron dalam keadaan merenggang. Sedangkan ukuran virus HIV/AIDS adalah 1/250 mikron. Virus HIV/AIDS bias sangat leluasa untuk menembus kondom.
Ketidakamanan kondom ini juga sudah diserukan oleh berbagai pihak di antaranya Ketua Gereja Khatolik Mozambique (Sep 2007), Gereja Katholik Vatikan, Alfonso Lopez Trujillo seorang cardinal senior dari Vatikan (2003) yang menyerukan bahwa kondom tidak aman bahkan kondom menyebabkan AIDS.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN

Terkait pencegahan HIV/AIDS, langkah-langkah berikut seyogyanya yang harus kita lakukan

  • Bersama-sama “memutus mata rantai” penularan virus HIV/AIDS dengan melarang NARKOBA dan SEKS BEBAS serta menindak tegas pengguna NARKOBA dan pelaku SEKS BEBAS;
  • “Mengkarantina” dan membuat prosedur yang benar untuk proses pengobatan orang-orang yang sudah positif terinfeksi HIV/AIDS;
  • Memberikan penjelasan yang transparan dan benar mengenai kondom, bahwa kondom dirancang untuk alat kontrasepsi, bukan dirancang sebagai alat untuk pencegahan virus HIV/AIDS sehingga adalah tidak benar dan menyesatkan kalau kondom dapat mencegah HIV/AIDS;
  • Menolak promosi kondom dengan menbagi-bagikan secara gratis ke tengah-tengah masyarakat, terutama ke sekolah-sekolah yang nantinya akan mendorong perilaku seks bebas;
  • Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan HIV/AIDS tidak perlu menggunakan inform concern.


PENGGALANGAN DANA UNTUK PALESTINA

PENGGALANGAN DANA UNTUK PALESTINA


Mohon rekans sekalian untuk dapat membantu penggalangan dana dan dukungan bagi penduduk Gaza di bawah ini. Mohon pesan ini disebarkan ke seluruh rekans sekalian. Semoga Allah Yang Maha Kaya dan Pemurah membalas kebaikan rekan sekalian dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga penduduk Gaza segera terlepas dari bencana yang teramat mengerikan ini.

Pada hari sabtu 3 Januari 2009, pemerintahan apartheid zionist Israel memperluas serangan terhadap Gaza dengan melakukan serangan darat menggunakan tenk-tank Merkava dan persenjataan cangih lainnya buatan Amerika Serika. Hingga 4 Januari 2009 terhitung lebih dari 500 penduduk Gaza meninggal dan lebih dari 2400 terluka.

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sejak akhir Desember 2008 lalu telah membuka layanan SMS Donasi melalui nomor 7505, dan per tanggal 29 Desember 2008 seluruh donasi yang masuk melalui SMS 7505 akan diberikan seluruhnya untuk Palestina.

Semakin gentingnya krisis kemanusian di bumi Palestina menuntut kita manusia yang memiliki hati nurani untuk terus meningkatkan usaha kita dalam membantu penduduk Gaza yang berada diambang kepunahan akibat genosida apartheid zionist Israel.

Donasi untuk Palestina kini bisa dilakukan melalui SMS, caranya:
ketik:
MERC(spasi)PEDULI

kirimkan ke: 7505 (semua operator)

Program sms donasi ini merupakan layanan yang disediakan oleh Departemen Sosial RI bekerjasama dengan sejumlah operator seperti Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, XL dan Mobile-8. Untuk Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, tarif sms adalah Rp 6.600,- sudah termasuk donasi Rp 5.000,- ditambah biaya operator dan PPn. Sementara untuk pengguna XL dan mobile-8 tarif sms adalah Rp 5.000,- sudah termasuk donasi Rp 3.750,- ditambah biaya operator dan PPn.

info selengkapnya mengenai program ini dapat dilihat di:
http://www.mer- c.org atau
http://donasi. depsos.go. id/news/gen/ 495d8e4a. htm

Atau bagi anda yang ingin menyumbangkan sejumlah dana bagi Palestinga dapat langsung menyetorkan ke rekening di bawah ini:

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)

Bank Muamalat Indonesia (BMI)
a.n. MER-C
Rek. No. 301.00521.15

Bank Central Asia (BCA)
a.n. Medical Emergency Rescue Committee
Rek. No. 686.0153678

Bank Syariah Mandiri (BSM)
a.n Medical Emergency Rescue Committee
Rek. No. 009.0121.773

Mohon bantuan dari rekan-rekan sekalian untuk menyebarkan informasi ini agar makin banyak orang yang bisa kita libatkan dalam membantu meringankan penderitaan penduduk Gaza.

MER-C
Medical Emergency Rescue Committee

adalah sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Organisasi yang berasaskan Islam dan berpegang pada prinsip rahmatan lil'aalamiin serta mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi.

Profil lengkap beserta alamat dan kontak organisasi kemanusiaan ini dapat dilihat di website http://www.mer- c.org

Selasa, 02 Desember 2008

ASESMENT = EVALUASI ?


ASSESMENT = EVALUASI ?


Oleh:

Baskoro Adi Prayitno



Bagi kita yang sehari-hari 'bergelut' dalam kluster pendidikan dapat dipastikan tidak asing lagi mendengar, membaca, membicarakan, menulis, atau bahkan mempresentasikan dalam sebuah seminar-seminar kajian tentang autentic assesment. Sedemikian terbiasanya, sering kali kita lupa 'landasan berpijak' kita. Seiring terbiasanya kita mengkaji autentic assesment, semakin jarang kita membicarakan evaluasi. Kelupaan kita pada 'landasan berpijak' dikuatirkan diantara kita 'menyangka' bahwa assesment secara utuh representasi dari evaluasi atau bahkan sering kita menganggap assesment sama dengan evaluasi. Atau memang Assesment sama dengan Evaluasi?




SEBUAH PENGANTAR

Beberapa hari yang lalu saya menjemput istri saya, yang sedang kuliah di program Pascasarjana UM Malang. Rupanya saya terlampau cepat sampai di kampus UM, saya lupa kalau jam di HP, saya set lebih cepat 15 menit dari seharusnya. Akhirnya saya putuskan menunggu Dia di Lobi PPS, sambil menghabiskan sisa rokok yang tinggal 4 isapan (he..he..). Di seberang saya duduk beberapa orang yang rupanya mahasiswa PPS, mereka sedang asik mengobrol atau lebih tepatnya mendiskusikan konsep autentic assesment. Sifat suka iseng saya muncul, suka menguping pembicaraan orang (he..he..), dari pembicaraan mereka, saya bisa menarik kesimpulan bahwa mereka mempunyai persepsi bahwa assesment sama dengan evaluasi. Namun benarkah assesment dapat dipersamakan dengan evaluasi?

Bagi kita yang sehari-hari 'bergelut' dalam kluster pendidikan dapat dipastikan tidak asing lagi mendengar, membaca, membicarakan, menulis, atau bahkan mempresentasikan dalam sebuah seminar-seminar kajian tentang autentic assesment. Sedemikian terbiasanya sering kali kita lupa 'landasan berpijak' kita. Seiring terbiasanya kita mengkaji autentic assesment, semakin jarang kita membicarakan evaluasi. kelupaan kita pada 'landasan berpijak' dikuatirkan diantara kita 'menyangka' bahwa assesment secara utuh representasi dari evaluasi atau bahkan sering kita menganggap assesment sama dengan evaluasi.


Tulisan kali ini, dimaksudkan sekedar mengingatkan kita tentang konsep assesment, test dan evaluasi, dengan harapan kita dapat 'mendudukkan' kembali konsep tersebut pada tempatnya yang tepat, sehingga kita dapat menyikapinya dengan tepat pula.


ASSESMENT, TEST DAN EVALUASI

Dari sub judul di atas kita pasti mengenal istilah-istilah tersebut (assesment, test dan evaluasi). Kalau saya mencoba bertanya, "apa beda di antara ketiganya?", barangkali banyak di antara kita cenderung mengartikan ketiga konsep tersebut sebagai suatu pengertian yang sama, sehingga dalam pemakaiannya sering kali kita mempertukarkan secara tidak sadar.

Sebenarnya bila kita mau mencermati, ketiga konsep tersebut tidaklah sama, Menurut Hart, assesment adalah proses mengumpulkan informasi tentang peserta didik, berkenaan dengan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka lakukan. Terkait dengan hal ini, banyak cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi, misalnya dengan cara mengamati peserta didik belajar, menguji apa yang mereka hasilkan, mengkaji pengetahuan, mengkaji ketrampilan mereka. Kata kunci terkait dengan assesment adalah 'bagaimana kita dapat menemukan/mengumpulkan informasi peserta didik?'.

Sedangkan test, masih menurut Hart adalah suatu cara assesment. Dalam hal ini secara sederhana dapat diartikan test adalah alat pengukuran yang digunakan untuk 'mendokumentasikan' pembelajaran peserta didik, sedangkan evaluasi adalah sebuah proses penafsiran (interpretasi), serta pembuatan keputusan berkenaan dengan informasi assesment. Dengan demikian dalam batas konsep assesment, data assesment sebenarnya belum dapat dinyatakan (diartikan) baik atau tidak baik. Ringkasnya data assesment mencerminkan apa yang 'terekam' di dalam kelas. Data assesment tidak mempunyai 'makna' apapun, data assesment baru bermakna bilamana kita memutuskan bahwa informasi tersebut merefleksikan sesuatu yang kita nilai, misalnya seberapa jauh peserta didik sudah menguasai materi pelajaran?.

Jadi sangat jelas bahwa assesment tidaklah sama dengan evaluasi.

Bagaimana Pendapat sampean?...


Di lain kesempatan kita akan 'mengobrol' lebih lanjut tentang autentic assesment, yang sering menjadi bahan perbicangan yang menarik seperti:


1. Assesment Autentic VS Assesment Non Autentic

2. Assesment Autentic VS Assesment ALternatif

3. Assesment Alternatif VS Assesment tradisional



Salam


Baskoro Adi Prayitno.

Kamis, 20 November 2008

SEBUAH CATATAN KEPRIHATINAN TERHADAP SDM YANG BERMUTU DAN BERDAYA SAING

SEBUAH CATATAN KEPRIHATINAN
TERHADAP SDM YANG BERMUTU DAN BERDAYA SAING


Oleh:

Cak Baskoro Adi Prayitno

Kondisi di atas memaksa dosen mencari cara untuk tetap dapat “melanjutkan hidupnya”, ada banyak cara yang dilakukan, dari cara yang halal sampai tidak halal. Cara halal misalnya banyak dosen bekerja di sektor lain, dulu sewaktu saya masih di PTS kami sering menggoda salah satu kawan dosen, “kamu ini dosen yang berprofesi pemulung atau pemulung yang berprofesi dosen”, soalnya ada kawan dosen PTS saya mampu membeli rumah dan mobil, bukan dari hasil sebagai dosen, tetapi dari hasil usaha dia menjadi bos pemulung. Tidak sedikit pula dosen yang mengambil jalan pintas “melacurkan” idealisme dengan “mallpraktek akademik” seperti jual beli nilai, permainan dosen dan mahasiswa dalam pembuatan tugas akhir/skripsi



PENGANTAR

Hari ini, tidak banyak pekerjaan di kantor, setelah ngawas UTS, saya habiskan waktu sekedar search artikel di Internet, secara kebetulan saya menemukan sebuah tulisan lama dari Prof. Mungin dari Unnes yang dimuat di harian Suara Merdeka Senin 3 februari 2003. Sebuah tulisan yang sangat bagus dan inspiratif, beliau memberi judul tulisannya “Pendidikan Tinggi di Era Pasar Bebas” (teks asli beliau dapat sampean baca di http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-m/2003-February/000585.html). Secara garis besar beliau berpendapat bahwa kata kunci dari keberhasilan perguruan tinggi agar tetap eksis di era pasar bebas terletak pada kekuatan sumber daya dosen (dosen yang bermutu) selain pembenahan kurikulum, perbaikan prasarana dan sarana, manajemen perguruan tinggi. Beliau juga mendefinisi operasionalkan apa yang dimaksud dengan dosen yang bermutu, menurut beliau ada lima faktor utama yang dapat dijadikan indicator kunci, yaitu 1) kemampuan profesional, 2) upaya profesional, 3) kesesuaian antara waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional, 4) kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya, dan 5) kesejahteraan yang memadai.

Membaca tulisan Prof. Mungin, membuat saya termenung agak lama, hasil ketermenungan saya mengantarkan saya pada sebuah keprihatinan besar. Keprihatinan tersebut muncul dari pengalaman saya lebih dari tujuh tahun berkiprah dan ikut bergelut dalam detak dan irama beberapa perguruan tinggi swasta baik di Jawa maupun luar Jawa, ditunjang juga dari sekian banyak artikel dan tulisan dari berbagai jurnal dan media massa mengenai kondisi sebagian besar PTS di negara kita yang sangat jauh dari apa yang kita diharapkan. sementara itu di lain pihak sebagian besar lembaga tinggi di negara ini banyak dikelola oleh pihak swasta, sementara pemerintah cenderung ‘menganak tirikan’ kampus-kampus PTS, banyak dari PTS mengalami keadaan "hidup segan matipun enggan". Agaknya ‘angan-angan’ Prof. Mungin dalam jangka pendek sulit untuk diwujudkan. Pun demikian bukan berarti tidak bisa sama sekali diwujudkan. Tulisan ini dimaksudkan sekedar mengingatkan kita bahwa perguruan tinggi swasta (PTS) juga perlu diperhatikan oleh pemerintah bukan hanya perguruan tinggi negeri. bagaimanapun juga mereka mempunyai jasa yang sangat besar dalam usaha mencerdaskan anak bangsa.

SEBUAH KEPRIHATINAN

Sampean jangan apriori membaca sub judul di atas, mengawali sesuatu dari sebuah keprihatinan tidaklah selalu berkonotasi dengan sikap apriori dan kemunduran, yang kemudian berujung pada pengkonstruksian gagasan yang pesimistis produk dari sebuah keputuasaan. Mengawali dari sebuah keprihatinan harus diartikan sebagai bentuk refleksi diri guna perbaikan di masa yang akan datang, agar kita tidak terjebak dalam "lubang" yang sama.

Keprihatinan ini muncul dari pengalaman saya lebih dari tujuh tahun berkiprah di beberapa perguruan tinggi swasta, baik di jawa maupun luar jawa, selain itu juga ditunjang oleh banyak tulisan dari berbagai media massa mengenai kondisi PTS di Indonesia. Beberapa keprihatinan yang muncul selama mengabdikan diri di perguruan tinggi swasta (PTS), secara garis besar dapat dikaji dari dua isyu berikut; banyak PTS tidak mampu memberikan dukungan financial yang layak utuk dosen dan pengembangan dosen, dan lemahnya manajemen PTS

Banyak PTS tidak Mampu Memberikan Dukungan Finansial yang layak bagi dosen dan Pengembangan Dosen

Sampean yang tidak pernah bergelut di perguruan tinggi swasta (PTS), mungkin menganggap bahwa PTS telah mendholimi dosen, dengan memberikan gaji dosen jauh dari standard hidup yang layak, dalam kasus-kasus tertentu mungkin benar. Sebagian besar PTS tidak dapat memberikan dukungan financial yang layak bukanlah didasari unsur kesengajaan, tetapi semata-mata didasari atas keterbatasan financial yang dimiliki oleh perguruan tinggi swasta, bukan rahasia umum bahwa PTS tumbuh dan merintis eksistensinya nyaris tanpa bantuan dari pihak manapun, mereka hanya mengandalkan sumber financial dari kantong mahasiswa, hidup matinya PTS ditentukan oleh fluktuasi jumlah mahasiswa, banyak PTS berjuang bertahan untuk tetap eksis dengan segala keterbatasan, keadaan seperti ini akan berimplikasi terhadap mutu layanan PTS dalam mencetak SDM bangsa yang bermutu dan berdaya saing. bahasa jawa timuranya mengurus urusan internalnya saja sulit, apalagi menghasilkan produk luaran yang bermutu dan berdaya saing...

Kekurangan financial yang dialami oleh sebagian besar PTS ini akan mengakibatkan efek domino, bukan rahasia umum, banyak dosen sampai berbulan-bulan belum mendapat gaji, sekalipun gaji tersebut merupakan satu-satunya sandaran hidup dia dan keluarganya. Status dosen tetap yayasan dan dosen tidak tetap yayasan bukan jaminan terhadap kesejahteraan dosen. Dosen yang berstatus dosen tetap yayasan biasanya menerima honor tiap bulan, namun besarannya relatif kecil (sebagai gambaran gaji saya dulu dengan status dosen tetap di sebuah PTS mendapatkan gaji 325.000/bulan, coba bayangkan bagaimana bisa hidup dengan satu istri dan satu anak). Lebih memprihatinkan lagi kondisi dosen luar biasa, mereka biasanya memperoleh gaji secara rapelan dalam satu semester, dengan jumlah ditentukan oleh banyaknya sks yang mereka ampu.

Kondisi di atas memaksa dosen mencari cara untuk tetap dapat “melanjutkan hidupnya”, ada banyak cara yang dilakukan oleh dosen dari cara yang halal sampai tidak halal. Cara halal misalnya banyak dosen bekerja di sektor lain, dulu sewaktu saya masih di PTS kami sering menggoda salah satu kawan dosen, “kamu ini dosen yang berprofesi pemulung atau pemulung yang berprofesi dosen”, soalnya ada kawan dosen PTS saya mampu membeli rumah dan mobil, bukan dari hasil sebagai dosen tetapi dari hasil usaha dia menjadi bos pemulung. Tidak sedikit pula dosen yang mengambil jalan pintas “melacurkan” idealisme dengan “malpraktek akademik” seperti jual beli nilai, permainan dosen dan mahasiswa dalam pembuatan tugas akhir/skripsi, di mana dosen dalam membantu mahasiswa terkadang melampaui batas kewenangannya dengan melakukan peran ganda yaitu selain menjadi pembimbing juga penyusun naskah-naskah skripsi mahasiswa. Dengan cara itu, dosen bersangkutan dapat menambah penghasilan, sementara mahasiswa tidak perlu bersusah payah menyusun skripsi; asalkan mereka memiliki uang, mereka dapat membayar biaya pembuatan skripsi walapun tanpa menguasai isi skripsinya atau belajar menguasai isinya dengan bimbingan dosen yang nantinya juga menjadi salah satu pengujinya. Keadaan ini (strategi dosen bertahan hidup dengan cara halal atau tidak halal) akan berimplikasi terhadap mutu SDM yang dihasilkan sebuah perguruan tinggi, keadaan yang memaksa dosen mencari penghasilan di luar profesionalitasnya menyebabkan terjadinya dis-orientasi dalam sistem pengajaran, di mana pengajaran dilaksanakan secara serampangan. Apa lagi memikirkan melakukan riset yang berkaitan dengan disiplin keilmuannya, atau meng-update pengetahuannya dengan konteks kekinian, atau upaya lain sebagai pengabdian dan kontribusinya bagi keilmuan maupun masyarakat. Tidak ada waktu...!, SDM berdaya saing? Jauh panggang dari api....


Lemahnya Manajemen PTS

Sebagian besar manajemen pengelolaan PTS belum terbentuk, tersistem dan terlaksana dengan baik, menurut pengalaman penulis selama mengabdi di sebuah PTS meskipun kuantitas mahasiswa terus meningkat namun tidak banyak ‘berdampak’ kepada kondisi internal PT, berbagai ketimpangan terjadi dimana-mana, biasanya rektorat menerapkan manajemen kepemimpinan yang sentralistik dan kaku dengan alasan ini sudah keputusan yayasan, keadaan ini mengakibatkan struktur di bawahnya tidak bisa mengembangkan diri dengan optimal, akibat dari hal ini biasanya pengembangan mutu dosen dan layanan akademik menjadi terganggu, dalam kondisi seperti ini secara teoritis menyebabkan segelintir pihak mendapat keuntungan besar di pihak yang lain dalam posisi terpuruk yang tidak berkesudahan, keadaan ini menyebabkan atmosfer akademik dalam sebuah PT terganggu. jika atmosfer akademik tidak kondusif suasana kerja dan belajar menjadi terganggu, antar dosen saling mencurigai, bawahan tidak percaya pada atasan, dll. hal ini akan berdampak pada mutu luaran PT.

Banyak dari dosen di PTS dapat melanjutkan studinya (S2 dan S3) bukan karena dibiayai oleh PT, namum dari usaha ‘kelincahan’ dosen pribadi dalam mencari peluang beasiswa, bahkan ketika seorang dosen berhasil melanjutkan studi lanjut, tidak sedikit PTS yang tidak memberikan kontribusi apapun pada dosennya yang sedang studi lanjut (banyak dari kawan dosen saya di PTS, gaji bulanan tidak dikirim setelah melanjutkan studi, dengan alasan sudah mendapat beasiswa), mengapa permasalahan ini muncul? Menurut hemat saya berawal dari kedua akar masalah yang saya sebutkan sebelumnya (lemahnya financial dan manajemen)

Kelemahan manajemen juga berdampak terhadap ketidakmampuan lembaga pendidikan tersebut dalam memberikan pelayanan bagi dosen terkait pengembangan dan promosi jabatannya. Dosen-dosen relatif tidak mampu mengembangkan jabatannya berupa kenaikan pangkat dan keperluan profesional lainnya selain disebabkan terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang bersangkutan, juga disebabkan rendahnya perhatian PTS dalam memberikan fasilitasi bagi dosen-dosen tersebut untuk berkembang sehingga para dosen cenderung “mentok” pada jabatan sebagai “asisten ahli” saja, atau dengan kata lain pangkat ketika baru bekerja sama dengan kondisi di saat dosen tersebut telah mengabdi selama puluhan tahun.

Kesemua keadaan ini membuat kita prihatin (paling tidak saya), SDM bermutu dan berdaya saing....????


SOLUSI PEMECAHAN??? SAMPEAN PUNYA SARAN....???